Di Balik 98: Menggali Rasa dalam Peristiwa Reformasi

by Enyu Handayani


Ketika seorang sutradara Indonesia berani mengangkat peristiwa penting sebagai latar waktu sebuah film, bisa jadi hal itu akan membuat beberapa orang berantisipasi terhadap isi filmnya. Kali ini, Lukman Sardi mempersembahkan Di Balik 98 menjadi karya perdananya sebagai sutradara. Film bergenre drama keluarga yang awalnya berjudul Dibalik Tembok Istana ini sempat membuat heboh beberapa kalangan karena dikhawatirkan tidak sesuai dengan kejadian Tragedi Trisakti yang sebenarnya. Namun, apakah benar film ini sangat mencerminkan kejadian itu?

Film keluaran MNC Pictures ini sebenarnya film bergenre drama keluarga yang kebetulan berlatar tahun 1998, tahun di mana Indonesia sedang dalam keadaan krisis, baik segi pemerintahan maupun ekonomi. Film ini mengisahkan kehidupan Diana (Chelsea Islan) dan Daniel (Boy William), dua mahasiswa Universitas Trisakti yang ikut serta dalam aksi mahasiswa. Diana adalah adik dari Salma, (Ririn Ekawati) yang bekerja sebagai staf dapur kepresidenan dan adik ipar dari Bagus (Donny Alamsyah), seorang tentara Angkatan Darat sedangkan Daniel adalah anak pertama dari keluarga Tionghoa yang sudah turun temurun tinggal di Jakarta.

Film berdurasi 106 menit ini cukup menyuguhkan beberapa kejadian yang akan mengingatkan kita pada kisruh dan sulitnya kehidupan di Jakarta pada masa itu. Gambaran banyaknya warga yang antri demi mendapatkan sedikit minyak tanah dan mulai berkembangnya aksi-aksi mahasiswa di dalam kampus ditampilkan di 10 menit pertama sehingga penonton dapat langsung menangkap tema dari film ini. Konflik pribadi dari tiap tokoh yang ditampilkan terasa murni dan pemilihan pemeran pendukung, yang secara postur dan gestur cukup menggambarkan figur beberapa tokoh penting pemerintahan pada masa itu, pun cukup mewakili.

Hal yang patut diapresiasi adalah kepiawaian Lukman Sardi dalam menciptakan dan mengolah beberapa karakter sehingga beberapa lapisan masyarakat bisa terwakili melalui Dibalik 98. Daniel dan Diana menggambarkan sepasang mahasiswa yang sangat mendambakan bentuk pemerintahan yang lebih adil dan terbuka pada masa itu, sementara kakak Diana yang bekerja sebagai staf dapur kepresidenan dan bersuamikan tentara pastilah selalu berusaha bekerja dengan baik dan sesuai kadarnya: melayani pemerintah dan menjaga negara, apapun yang terjadi. Konflik keluarga yang dilatarbelakangi perbedaan profesi dan ideologi yang bertolak belakang ini beberapa kali ditonjolkan dalam dialog yang sangat emosional dan ngena sehingga lumayan membuat emosi naik turun.

Peristiwa yang menyedihkan memang akan selalu meninggalkan rasa tidak enak untuk diingat namun bukan berarti semua hal yang berkaitan dengan peristiwa itu harus dilupakan atau dihilangkan. Apalagi, peristiwa itu adalah kejadian besar yang bukan hanya berdampak pada kehidupan beberapa kalangan atau golongan dengan idealisme tertentu saja, melainkan semua lapisan masyarakat: dari yang posisinya paling tinggi hingga di lapisan terbawah. Dan ketika peristiwa itu dijadikan sumber untuk sebuah seni, harusnya kita turut mengapresiasi. Karena sebenarnya, cara terbaik untuk menikmati sebuah karya seni adalah mengosongkan pikiran, membuang jauh-jauh ekspektasi yang berlebihan atau terlalu tinggi, apalagi hanya karena melihat judul. Film ini memang hanya film drama keluarga, yang kebetulan saja berlatar ‘panas’. Enjoy!

Artikel Terkait