Kacaunya Dunia Persilatan: Film Silat yang Serba Pelesetan

by Enyu Handayani


Ketika membicarakan jenis film lokal yang lumayan banyak wara-wiri di bioskop, sepertinya genre silat hampir jarang disebut karena memang genre ini sangatlah bisa dihitung dengan jari jumlahnya. Setelah sebelumnya layar perak Indonesia disambangi oleh para pesilat andal dengan kisah perebutan tongkat dari tanah Sumba, kini giliran sekelompok pesilat kocak dari negeri antah berantah yang berebut sebilah pedang sakti akan menghibur para penikmat film lokal. Film berjudul Kacaunya Dunia Persilatan keluaran Skylar Picture yang ditulis dan disutradarai oleh Hilman Mutasi (penulis skenario Tarix Jabrix dan 5 CM) ini menghadirkan karakter-karakter tokoh silat yang sudah tidak asing lagi di telinga, namun dalam versi lawakan dan serba pelesetan.

Film Kacaunya Dunia Persilatan berkisah tentang pertarungan dua kubu: Pendekar Golongan Putih yang beranggotakan para pendekar baik budi pembela rakyat dengan Pendekar Golongan Hitam, yang kerjanya hanya menindas, meneror, dan membuat rakyat resah. Broma Membara (Darius Sinathrya), Mantrili (Vicky Monica), Si Buta Dari Gua Buat Elu (Tora Sudiro), dan pendekar Jepang Samurat (Ery Makmur) merupakan anggota Pendekar Golongan Putih yang dipimpin oleh Beruk Sepuh (Iang Darmawan). Sedangkan di kubu seberang, para jawara Golongan Hitam yang terdiri atas Panci Tengkorak (Agung Saga), Siluman Antik (Aming), dan Wiro Sobling (Guntur Nugraha) tunduk pada segala perintah Datuk Berdahak (Joe P. Project). Mereka bertarung untuk saling mencari dan merebut Pedang Pusaka Dewa, pedang sakti yang terbuat dari batu meteor yang jatuh di gunung berapi, yang mendadak hilang dari Perguruan Kera Mas.

Selama 98 menit film ini diputar, penonton terus disuguhkan adegan kocak khas ala sketsa komedi Tora Sudiro-Aming yang dulu sempat hits di salah satu stasiun televisi. Dialog yang terjadi antara satu tokoh dengan tokoh lain cukup menghibur karena tiap karakter memiliki gaya bicara yang berbeda. Lawakan yang berupa adegan, gerak, ataupun percakapan terus muncul di sana-sini. Namun karena terlalu banyaknya lawakan dan plesetan di sana-sini, film yang awalnya lucu mulai terasa hambar di setengah film terakhir. Kelucuan yang ditampilkan seolah menjadi sekadar ‘harus ada adegan yang lucu’ dan terasa janggal karena kerap muncul ketika seharusnya, yang ditampilkan adalah adegan serius. Bahkan, konflik dan klimaks dalam film ini pun jadi tidak tersampaikan secara jelas karena adegan sangat penting dan disebut sebagai ‘twist tak tertebak’ itu ditampilkan tanpa gong yang jelas.

Di sisi lain, selain menampilkan kelucuan dari tingkah laku dan dialog para pemain, film ini juga menyuguhkan hal yang tidak biasa. Dengan special effect dan animasi grafis dari duo Iwan dan Eric Kawilarang serta kerja keras dari tim animator Epic Studio, narasi pembukaan film dan pengenalan tiap tokoh jadi terasa seperti ‘menonton’ komik silat jadul dalam versi berwarna.

Beberapa adegan perkelahian dan senjata mematikan Datuk Berdahak pun tak lepas dari utak-atik tim animator sehingga kualitas tarung dari para pendekar bisa dibilang beberapa level lebih tinggi dibanding kualitas animasi pertarungan ala stasiun televisi. Pertarungan pamungkas antarperguruan silat di akhir film pun lagi-lagi menggunakan teknologi CGI dan mengingatkan penonton pada model perkelahian khas game konsol era 90-an.

Sebenarnya, film ini memiliki beberapa konflik dan twist yang kalau diolah lebih mendalam, akan menghasilkan kisah yang lebih matang dan komplit sehingga menghasilkan cerita yang utuh namun tetap menghibur dalam skala komedi. Beberapa parodi yang meniru fenomena dunia keartisan dan dunia maya pun agak terasa ‘kuno’ karena sudah terlalu sering ditampilkan sejak dua tahun terakhir. Akan tetapi, untuk hal komedi secara keseluruhan, film ini cukuplah sebagai obat kangen akan lawakan khas ala Tora Sudiro dan Darius Sinathrya. Karena, kapan lagi kita bisa melihat Brama Kumbara, Si Buta Dari Goa Hantu, dan Panji Tengkorak beradu akting dalam satu frame? So, as always, enjoy!

Artikel Terkait