Nada untuk Asa: Berani Hidup Meski "Positif"

by Enyu Handayani


Setelah merilis film Finding Srimulat (2013), Magma Entertainment kembali mengeluarkan film, kali ini, bergenre drama keluarga dengan tema yang cukup serius untuk diangkat: Nada untuk Asa. Film berdurasi 99 menit ini dibintangi oleh aktor dan aktris Indonesia yang mumpuni dan sudah sering wara-wiri di layar lebar seperti Marsha Timothy, Acha Septriasa, Darius Sinathrya, Mathias Muchus, Butet Kertaredjasa, serta Donny Damara. Film yang diangkat dari kisah nyata seorang ibu di Bali ini diharapkan mampu memberikan pemahaman baru, pesan positif, dan inspirasi untuk banyak orang.

Garis besar cerita dalam film ini dibagi ke dua tokoh namun memiliki keterkaitan satu sama lain: Nada (Marsha Timothy) dan Asa (Acha Septriasa). Nada, seorang ibu dari tiga anak, harus bersusah-payah berani melanjutkan hidup karena ditinggal sang suami (Irgi Ahmad Fahrezi) untuk selamanya; dan Asa, mbak-mbak kantoran yang selalu menjalani hidup dengan ceria meski sebenarnya, hidupnya sudah susah sejak kecil. Nada yang masih dalam kondisi berduka menjadi lebih terpukul ketika mengetahui penyebab asli kenapa suaminya meninggal. Dua anak lelaki Nada juga dibawa oleh kakak perempuannya untuk tinggal di rumah Bapak (Mathias Muchus), sehingga lengkap sudah penderitaan Nada. Di sisi lain, Asa yang memilih untuk selalu menjalani hidup dengan aura positif dihadapkan pada sebuah pilihan ketika satu saat, ia didekati oleh Wisnu (Darius Sinathrya) lelaki tampan yang ramah dan open minded. Asa yang sama sekali tidak pernah berpikir untuk memiliki pacar mulai goyah namun juga heran karena menurutnya, Wisnu merupakan orang yang too good to be true untuk menjadi pasangan hidupnya.

Kisah dari dua tokoh ini diceritakan secara saling silang dan pada pertengahan film penonton ‘dibawa’ ke dalam kesimpulan bahwa kedua tokoh ini memiliki keterkaitan erat. Kisah Nada yang digambarkan tragis dan beberapa kali menaikturunkan emosi penonton disandingkan dengan keseharian Asa yang ceria dan penuh senyuman sehingga penonton tidak terasa ‘capek’ sepanjang film diputar. Sesekali, adegan disisipkan dengan lagu yang dinyanyikan oleh Pongki Barata sehingga cerita yang sudah berjalan berat dibawa manis dan ringan kembali. Hal lain yang juga patut diapresiasi dalam film ini adalah kepiawaian Kumalasari Tanara selaku make up artist FX & characters sehingga bisa membuat satu pemain dalam film ini berubah dengan ‘mulus’ menjadi sekian puluh tahun lebih tua namun tetap terlihat natural dan tidak menutupi raut wajah asli.

Film yang naskahnya juga ditulis oleh Charles Gozali ini bekerja sama dengan komunitas Sahabat Positif! dari Komsos KAJ (Keuskupan Agung Jakarta), sebuah komunitas yang sejak awal berdiri sudah bertujuan membangun kesadaran dan meningkatkan wawasan khalayak untuk terus menghormati kehidupan dan menghargai martabat manusia. Memang misi yang berat, namun bukan berarti tidak mungkin. Hal ini cukup terbukti dalam Nada untuk Asa. Meski mengusung tema yang cukup berat dan lumayan sensitif untuk beberapa orang, film ini mampu menampilkan maksud yang ingin disampaikan tanpa banyak-banyak menggurui dalam dialog. Percakapan yang cukup berisi antara Asa dan Wisnu terasa natural, tidak seperti dialog dalam (misalnya) seminar dengan tema yang sama. Dari dialog pula, penonton diharap mendapatkan pencerahan yang sebenar-benarnya tentang salah satu isu sosial yang masih menjadi ‘hal yang menakutkan’ di sebagian masyarakat.

Overall, pesan positif yang diharapkan sampai ke penonton, menurut saya, tersampaikan dengan baik –dan mengharukan. Film ini sukses menyampaikan pesan bahwa semua manusia memiliki hak hidup yang sama, apapun latar belakangnya, apapun penyebabnya, apapun masa lalunya. Meski proses penerimaan itu kadang tidak mudah, baik dari sisi orang sekitar atau bahkan dari diri sendiri, mereka yang jalan hidupnya tidak semulus orang lain berhak pula untuk merasa bahagia. Walaupun film dengan tema ini lebih pas ditayangkan pada awal Desember untuk merayakan Hari Ibu, merupakan pilihan tepat bagi Magma Entertainment untuk menayangkan film ini sekarang, saat ini, meski biasanya film di bulan Februari identik dengan drama komedi romantis. Untuk sebagai pengingat semua orang, film semacam ini memang pantas ditayangkan kapan saja. Dan semoga, di lain waktu, layar perak Tanah Air akan kembali memunculkan film semacam ini. Akhir kata, untuk para Jelata yang mau nonton, jangan lupa siapkan tisu yang banyak sebelum masuk ke studio teater. Enjoy!

Artikel Terkait