Februari datang, saatnya layar lebar Tanah Air dibanjiri dengan beragam subgenre film romantis godokan rumah produksi luar dan dalam negeri. Dari negeri sendiri, Valentine tahun ini akan disambut dengan film komedi romantis besutan Ody C. Harahap sebagai sutradara dan Robert Ronny sebagai produser. Tak ketinggalan, Monti Tiwa ikut serta join sebagai penulis skenario. Kolaborasi dari tiga orang yang sudah punya nama ini menghasilkan film manis romantis yang kocak namun tetap berisi dan enak dilihat berjudul Kapan Kawin?.
Film Kapan Kawin? ini menceritakan kisah Dinda (Adinia Wirasti), General Manager hotel berbintang di Jakarta yang mapan, menarik, dan serba oke di berbagai sisi, kecuali satu: dia belum memiliki pasangan hidup. Semua nilai plus yang dia miliki dianggap tidak ada apa-apanya oleh sang Ibu (Ivanka Suwandi) dan Bapak (Adi Kurdi) karena satu kekurangan itu. Apalagi, si kakak (Feby Fabiola) yang dulu menikah muda namun tetap eksis di dunia kerja kerap dijadikan pembanding sehingga Dinda agak segan untuk bertemu, bahkan mengobrol di telepon dengan keluarganya sendiri. Suatu hari, di hari ulang tahun Dinda ke 33, Ibu menelepon dan meminta Dinda datang ke Yogyakarta untuk ikut merayakan ulang tahun pernikahan orang tuanya dengan syarat: Dinda harus membawa pacar, sukur-sukur calon suami, untuk dikenalkan ke keluarga. Rencana dadakan pun disusun: Dinda menyewa Satrio (Reza Rahadian), seorang aktor teater idealis teman kuliah sahabatnya untuk berpura-pura menjadi pacarnya. Berhasilkah Dinda meyakinkan keluarganya bahwa dia tidaklah se-menyedihkan seperti yang ada di gambaran orang tua, terutama sang Ibu, dengan membawa pasangan yang sesuai dengan kriteria mantu idaman orang tuanya?
Lewat judul dan cuplikan trailer-nya saja, film Kapan Kawin? ini sudah bisa ditebak jalan ceritanya. Akan tetapi, justru dari tema cerita yang sudah lumayan ‘pasaran’ di ranah perfilman inilah, kita bisa menilai kelihaian para penggarap film dalam mengolah alur cerita dan juga akting plus chemistry para tokoh utama. Pemilihan Adinia Wirasti dan juga Reza Rahadian sebagai dua tokoh sentral patut diberi apresiasi karena dua nama itu sukses membangun chemistry yang terjalin antara Dinda dan Satrio. Dari yang awalnya tatapan penuh rasa sebal, masa bodoh, dan geregetan sampai tatapan iba dan penuh cinta, mereka benar-benar membuat penonton merasa gemas karena emosi yang terjalin dari akting mereka berdua memang mumpuni. Penggambaran Dinda sebagai mbak kantoran sukses yang tidak suka hal ribet ditunjang dengan baik melalui riasan dan busana yang selalu apik di tiap adegan. Sedangkan Satrio yang tidak bisa diatur sangat terwakili dengan kepiawaian Reza Rahadian dalam mengolah dialog sehingga kata-kata yang sebenarnya simpel, selalu dibuat panjang dan berbelit-belit namun tetap dengan ‘rasa’ tengil dan selengean.
Film keluaran Legacy Pictures yang berdurasi 95 menit ini memang sengaja ingin mengangkat fenomena yang sering dialami kalangan dewasa muda yang sudah cukup umur. Dinda yang bingung ketika ditanya namun dianggap sebagai ‘respon ogah-ogahan’ oleh kedua orang tua mungkin merupakan cerminan yang sesungguhnya dari para pekerja muda. Penggambaran orang tua yang terus menuntut namun tetap penuh selidik ketika si anak sudah membawa calon juga digambarkan dengan kocak namun lumayan membuat frustrasi. Dalam film ini digambarkan, meski Dinda sudah membawa orang yang diminta orang tua, kedua orang tuanya tetap merencanakan berbagai ‘tes seleksi’ demi mengetahui apakah si pria yang dibawa benar-benar sepadan untuk disandingkan dengan mantu yang lain. Hingga akhirnya, soal klimaks pun muncul: sebenarnya, saya ini menikah untuk diri sendiri atau hanya untuk memuaskan gengsi orang tua?
Tema komedi romatis yang berisi cerita ‘pacar bayaran’ sendiri memang bukan tema baru dalam ranah film layar lebar, sebut saja film The Proposal yang melejitkan Sandra Bullock di tahun 2009. Meski tema cerita ini sudah bisa ditebak bagaimana akhirnya, film ini tetap patut ditonton karena ada Reza Rahadian dan Adinia Wirasti di situ. Reza yang belakangan ini selalu tampil serius dalam film-filmnya amat berbeda ‘kelakuannya’ di film kocak ini. Ditambah lagi, menonton penampilan salah satu ‘alumni’ film Ada Apa Dengan Cinta? Adinia Wirasti yang tampil dengan gaya sleek namun sesekali mengumpat dengan bahasa Jawa memang merupakan kesempatan yang langka. Para artis yang dialog-dialognya dibiarkan mengalir dan tidak melulu mengikuti naskah pun patut diapresiasi. Hampir semua kelucuan dan gerak-gerik terasa natural, kocak, dan cenderung konyol. Sekali-sekali, daripada mengajak pacar atau teman untuk menonton film di bioskop, ada baiknya Jelata mengajak orang tua untuk menonton film ini di hari Valentine nanti. Karena, bisa jadi film ini menjadi ‘jembatan’ penengah antara Jelata dan orang tua yang kadang suka angot-angotan hanya karena satu kalimat singkat penuh makna: kapan kawin?