Produser Robert Ronny: "Film Kartini Penting untuk Masyarakat Indonesia"

by dr. kawe


Meski tergolong rumah produksi baru, namun Legacy Pictures tidak segan-segan memberikan terobosan untuk meningkatkan kualitas perfilman Tanah Air. Setelah Kapan Kawin?, Legacy Pictures bekerja sama dengan Dapur Films dan Screenplay Films sedang dalam tahap menggarap Kartini, biopik perempuan pejuang emansipasi wanita kelahiran Jepara. Ditemui di Djakarta Theater XXI, Sarinah, Produser Robert Ronny memaparkan sedikit mengenai proses perkembangan Kartini dan proyek Legacy Pictures selanjutnya yang mengangkat misteri Gunung Padang dalam Firegate. 

Layar-Tancep (LT): Bisa ceritakan pengembangan naskah Kartini dan kenapa berganti penulis?
Robert Ronny (RR): Naskah Kartini sudah dua tahun dikembangkan, dari 2014. Saya berharap bisa menjadi karya yang memuaskan karena risetnya sendiri sudah mendalam. Mengenai berganti penulis lebih dikarenakan kesibukan Dirmawan Hatta dengan proyek lain sehingga kita mencari penulis yang lebih senggang. Akhirnya, penulisan naskah beralih ke Bagus Bramanti yang bersedia memberikan waktunya secara penuh. Meskipun beralih, tapi tidak ada perubahan cerita karena ide dan visinya dari Hanung (Bramantyo) dan saya setuju jadi tidak lari dari koridor visi yang sudah kita sepakati.
 
(LT): Sampai saat ini, sudah draft ke berapa?
RR): Draft ke-15. Satu draft lagi baru kita mulai syuting dengan rencana satu bulan pengambilan gambar. Lokasinya di Jakarta, Yogyakarta, dan Belanda.
 
(LT): Mengenai aktor dan aktris yang terlibat, apakah melalui proses audisi atau ada yang memang sudah ditetapkan sejak awal?
(RR): Sebenarnya, Dian Sastro sebagai Kartini itu karena saya yang minta. Saya merasa bahwa aktris yang akan memerankan Kartini harus bisa membawa aura sosok ini karena itu saya ajukan ke Hanung. Ternyata, dia setuju dan akhirnya Dian terpilih. Ayushita dan Ibu Christine Hakim juga pilihan saya. Kebetulan saya cukup dekat dengan Ibu Christine dan meminta beliau untuk bermain. Karena setelah pengembangan cerita, ternyata karakter ibunda Kartini ini cukup kompleks, jadi saya pikir siapa lagi aktris senior yang bisa memerankannya? Beberapa aktor juga saya minta langsung, seperti Dwi Sasono dan Reza Rahadian.
 
 
(LT): Ada rencana membawa Kartini ke festival?
RR): Kita berencana memang, tapi bukan tujuan utama. Saya melihat Kartini ini adalah film yang lebih penting bagi masyarakat Indonesia daripada penghargaan di luar. Film ini punya misi khusus, untuk anak perempuan saya dan anak-anak Indonesia, bahwa zaman dulu sudah ada wanita dengan pemikiran semaju ini.
 
(LT): Bisa ceritakan sedikit mengenai film Firegate?
RR): Genrenya supernatural adventure. Saya itu orangnya nerdy dan geek, kerjaannya nonton film, baca buku, riset, dan sejenisnya. Genre seperti ini adalah hobi saya dari kecil, seperti sci-fi, misteri, adventure. Tapi saya tahu tidak gampang membuat film ini di Indonesia. Untungnya, investor saya setuju dengan usulan cerita ini dan saya juga mendapat partner yang pas dalam mengembangkan genre ini, Rizal Mantovani. Semoga genre ini bisa menjadi lokomotif baru bagi genre horor dan supernatural di Indonesia karena menurut saya genre horor itu sangat bagus.
 
(LT): Kenapa memilih latar belakang Gunung Padang?
RR): Saya tahu tentang Gunung Padang ini tahun 2012. Dari informasi yang ada, saya merasa bahwa ini menarik sekali sehingga saya melakukan riset. Kita tidak tahu di dalam Gunung Padang tersebut ada apa sehingga cocok dibuat fiksi. Saat ini sudah selesai syuting dan sedang dalam tahap penyelesaian untuk spesial efek yang butuh waktu enam bulan. Direncanakan tayang akhir tahun, antara Oktober atau November. Lokasi syutingnya Cianjur, Jakarta, sekitar Jawa Barat.

 

 

Artikel Terkait