
Bulan penuh cinta dimanfaatkan Plaza Indonesia Film Festival (PIFF) untuk menghadirkan film-film yang menyoroti cinta dari berbagai sudut. Dengan mengangkat tema “Love Philosophy”, PIFF menayangkan enam film terpilih yang sudah melalui proses kurasi ketat. Bekerja sama dengan Pabrikultur dalam mengurasi film, PIFF selalu berusaha menghadirkan film-film berkualitas.
Film-film yang ditayangkan adalah film-fillm yang telah memenangkan berbagai penghargaan internasional dan menuai kritikan positif dari para kritikus film. Selama 3 hari, yaitu 22—24 Februari 2017, PIFF akan menayangkan tiga film Tanah Air dan tiga film mancanegara. Tiga film Tanah Air tersebut adalah Salawaku, Ziarah, dan Bukaan 8, sementara film mancanegara yang ditayangkan adalah The Red Turtle, One Wild Moment, dan Sing Street.
Pada pembukaan PIFF: Love Philosophy, Salawaku karya Pritagita Arianegara, ditayangkan. Film ini telah memenangkan tiga penghargaan di Festival Film Indonesia 2016, meraih “Best Feature Film” di Apresiasi Film Indonesia 2016, serta “Official Selection” dan “World Premiere” di Tokyo International Film Festival. Berikut adalah enam film yang tayang selama PIFF: Love Philosophy.

1. Salawaku (2016)
Film berdurasi 78 menit ini mengisahkan tentang seorang anak laki-laki bernama Salawaku yang pergi seorang diri demi mencari kakaknya, Binaiya. Dalam perjalanannya, Salawaku bertemu dengan Saras, seorang remaja asal Jakarta yang sedang berlibur, namun menyimpan masalah serupa dengan Binaiya. Salawaku mengangkat peliknya cinta dilihat dari berbagai sudut pandang. Film ini dibintangi oleh Karina Salim, Raihaanun, JFlow Matulessy, dan Elko Kastanya.
2. The Red Turtle (2016)
Ini adalah satu-satunya film animasi yang tayang di PIFF: Love Philosophy. The Red Turtle adalah film animasi produksi Studio Ghibli dan merupakan film pertama studio tersebut yang digarap oleh bukan orang Jepang. Michael Dudok de Wit menggarap animasi ini dengan sangat apik dan tetap indah meski tanpa dialog.
Mengisahkan tentang seorang pria yang terdampar di sebuah pulau dan jatuh cinta kepada penyu merah, The Red Turtle menunjukkan bahwa cinta sama sekali tak mengenal batas. The Red Turtle telah memenangkan Best Animated Feature dalam SFFCC Award dan masuk dalam nominasi Best Animated Feature dalam Academy Awards 2017.
3. Ziarah (2016)
Ziarah menggambarkan pencarian cinta yang tak berbatas waktu. Mba Sri tak pernah bertemu suamin ya, Prawiro, sejak “Agresi Militer Belanda Kedua” pada 1948. Menyoroti perjalanan Mbah Sri mencari makam suaminya yang tak pernah dia lihat, Ziarah memberikan tamparan halus untuk bangsa ini agar jangan pernah melupakan masa lalu dan sejarahnya.
4. One Wild Moment (2015)
Film Prancis ini mengisahkan tentang cinta yang datangnya begitu tiba-tiba. Namun, cinta itu mungkin juga hanya perasaan sesaat dan sepihak. Bahkan, cinta ‘sesaat’ ini tak mengenal usia.
5. Bukaan 8 (2017)
Bukaan 8 mengangkat kritik terhadap generasi milenial yang seakan tak pernah lepas dari ponsel. Petualangan selama 24 jam sebelum melahirkan ini menggelitik karena mengangkat berbagai aspek kehidupan masa kini. Dengan memanfaatkan momentum melahirkan, Alam (Chicco Jericho) ingin membuktikan kepada orang tua Mila (Lala Karmela) bahwa dirinya berguna. Bukaan 8 adalah tentang pembuktian diri dan hal ini membuatny layak ditonton.
6. Sing Street (2016)
Film ini menggambarkan pengorbanan yang dilakukan demi mendapatkan cinta. Sebagai seorang remaja yang ingin dicintai oleh perempuan idamannya, Conor menggunakan cara yang paling efektif baginya, yaitu membuat band. Setelah menjadi keren, akankah dia mendapatkan cintanya?
Semua film yang tayang di PIFF: Love Philosophy bisa ditonton secara gratis dengan mendaftar terlebih dahulu ke piff@plazaindonesia.com.