AIFFA ke-4 Siap Digelar dengan Tema Besar "Digital"

by Dwi Retno Kusuma Wardhany


AIFFA ke-4 Siap Digelar dengan Tema Besar

Kuching kembali menyelenggarakan AIFFA (ASEAN International Film Festival & Awards) yang akan diadakan pada 25-27 April 2019 mendatang. Livan Tajang, selaku Festival Director, yang mengunjungi Jakarta pada Rabu (23/4) kemarin berkesempatan berbincang-bincang sejenak dengan awak media untuk memberikan gambaran ajang AIFFA ke-4 ini.

Lebih dari 120 film telah diterima oleh komite AIFFA, 13 di antaranya berasal di Indonesia. Selain Indonesia, Filipina dan Thailand adalah dua negara yang memasukkan film terbanyak. Livan berharap dengan semakin banyaknya film yang dikirimkan, dunia akan lebih terbuka terhadap kualitas film dari ASEAN yang tidak kalah menarik dari negara-negara lain. Tidak hanya itu, ia juga berharap festival ini akan mempertemukan berbagai filmmaker ASEAN sehingga dapat membuka kesempatan untuk kerja sama atau cross project ke depannya.

Tahun ini, digital dipilih sebagai tema festival secara keseluruhan. Hal ini tentu tidak terlepas dari perkembangan situs-situs streaming (Netflix, iFlix, Hooq) dan produk OTT yang semakin bertambah. Diharapkan nantinya festival ini dapat memberikan gambaran bagaimana menjual film-film yang telah dibuat secara online sehingga tidak hanya bergantung pada bioskop semata karena bisa platform online tersebut tentunya memiliki jangkauan yang lebih luas.

Juri AIFFA 2019 kali ini terdiri dari empat praktisi perfilman ASEAN dan satu juri internasional untuk menilai film-film yang telah masuk seleksi. Mereka adalah U Wei Shaari sebagai ketua juri sejak tahun 2013; Alain Jalladeau, Festival Director Festival Tiga Benua di Nantes, sebagai juri internasional; Amable Tikoy Aguiluz, sutradara, penulis naskah, dan sinematografer asal Filipina yang telah memenangkan berbagai penghargaan; Mattie Do, sutradara perempuan pertama di Laos; dan Daniel Rudi Haryanto, sutradara Indonesia yang meraih berbagai penghargaan melalui film dokumenternya, “Prison and Paradise”.

Meski masih tergolong muda, namun diharapkan AIFFA dapat menjadi tolak-ukur bagi perfilman ASEAN di mata internasional. Kita pun tentunya semakin berkesempatan untuk memperkenalkan film lokal tidak hanya ke ASEAN, tapi juga seluruh dunia.

Artikel Terkait