Biopik mengenai mantan bintang porno ini sayangnya bukan biopik sekelas Oscar. Apa saja yang terasa kurang?

Di mata Hollywood, biopik adalah salah satu cara untuk mendapatkan Oscar. Berbagai tokoh populer pun sudah pernah mendapatkan bagian untuk dilayarlebarkan. Mulai dari presiden, politikus, pemusik, desainer, hingga tunawisma sekalipun. Sayangnya, tidak semua biopik tersebut sukses di pasaran dan mendapat perhatian, salah satunya Lovelace ini. Mengangkat kisah mengenai bintang porno sensasional yang angkat nama berkat filmnya Deep Throat, Linda Lovelace, Lovelace nyaris luput dari perhatian media massa meskipun diisi oleh deretan para pemain tenar.
Diadaptasi dari biografi milik Lovelace berjudul Ordeal, film ini menyorot 12 tahun kisah hidup Linda mulai dari pertemuannya dengan Chuck Traynor, bagaimana ia terjun ke bisnis film porno, proses syuting Deep Throat, hingga kehidupan rumah tangganya yang penuh dengan kekerasan. Linda sendiri besar di keluarga yang taat agama. Namun, pertemuan kemudian pernikahannya dengan Chuck malah membawanya memasuki dunia pornografi. Berawal dari hutang sang suami, Linda pun diharuskan mengikuti audisi untuk sebuah film porno yang nantinya malah menjadi sukses besar. Namun, menjadi bintang dan dielu-elukan penggemar ternyata hanyalah sekelumit dari kisah hidup Linda. Di balik itu, ia harus siap menghadapi siksaan dari sang suami hingga dijual ke orang-orang yang ingin merasakan tubuhnya.

Si manis Amanda Seyfried sebagai Linda berhasil menampilkan akting lugu yang kemudian berubah menjadi depresi di bawah tekanan sang suami. Meski dirinya berakting dengan sangat baik, sayangnya hal ini tidak diimbangi oleh lawan mainnya, Peter Sarsgaard yang memerankan Chuck. Aktingnya terasa biasa saja, bahkan kaku di beberapa adegan. Untungnya, akting Sharon Stone dan Robert Patrick yang singkat namun kuat sebagai orangtua Linda cukup mencuri perhatian.
Menonton film ini tidak bisa dilakukan sambil lalu atau hanya dimaksudkan untuk melihat adegan-adegan tertentu saja. Masalahnya, alur cerita yang disajikan akan sedikit membingungkan Jelata yang tidak biasa. Terasa seperti alur satu arah, Jelata akan kaget ketika sadar bahwa film mengulang adegan yang sama, tapi dari sudut pandang yang berbeda atau kejadian sebenarnya. Alur ini sendiri mulai diketengahkan sutradara menjelang pertengahan cerita untuk menggambarkan kebingungan hati seorang Linda Lovelace ketika dihadapkan pada pilihan: menuruti kehendak hati atau menuruti perintah Chuck.
Salah satu hal yang patut diacungi jempol adalah sinematografi Lovelace yang bak direkam menggunakan kamera tempo dulu. Agak buram dan noise membuat para penonton seperti menyaksikan film dokumenter alih-alih film modern. Sangat disayangkan bahwa kelemahan pada naskah membuat film ini tidak terlalu membekas kecuali akting flamboyan James Franco yang tampil sekilas sebagai Hugh Hefner. Seandainya ditangani oleh sutradara yang tepat dengan naskah apik, bukan tidak mungkin Lovelace akan jadi biopik kelas Oscar.
