Jupiter Ascending : Drama Perebutan Tahta Warisan di Luar Angkasa

by Joedi Dance

Jupiter Ascending : Drama Perebutan Tahta Warisan di Luar Angkasa
EDITOR'S RATING    

Terkenal berkat trilogi The Matrix, The Wachowski bersaudara kembali menggebrak dengan desain megah di luar angkasa dalam science fiction berjudul Jupiter Ascending. Sayangnya, visual indah ini tidak dibarengi dengan kualitas penceritaan yang sepadan. Baca ulasan lengkapnya disini!

 

Year : 2015
Director : Andy & Lana Wachowski
Screenplay : Andy & Lana Wachowski
Cast : Channing Tatum, Mila Kunis, Eddie Redmayne, Sean Bean, Douglas Booth

Berbicara mengenai Wachowski bersaudara, mereka dikenal sebagai salah satu filmmaker yang mempunyai impact besar di Hollywood. The Matrix adalah salah satu film yang mendefinisikan apa itu milenium di tahun 1999. Suka atau tidak, kita akan selalu teringat dengan adegan menghindari peluru dalam slow motion yang super ikonik itu. Dengan pengaruh sebesar ini, gak heran ketika kemudian film-film mereka selalu ditunggu oleh banyak penikmat film, termasuk dengan film yang tayang awal tahun ini, Jupiter Ascending.

Ketika Jupiter Jones (Kunis) lahir, rasi bintang dan astrologinya meramalkan ia terlahir untuk melakukan banyak hal-hal hebat dalam kehidupannya. Ketika ia tumbuh dewasa, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa hal-hal hebat tersebut tidak terjadi, karena yang ia kerjakan sehari-hari malah membersihkan toilet. Memiliki gen yang sama persis dengan penguasa alam semesta, ia kemudian tiba-tiba terjebak di dalam perang antar saudara dinasti Abrasax, dimana Balem Abrasax (Redmayne), si sulung yang menerima warisan paling banyak,  menginginkannya mati. Hadirnya Caine (Tatum), yang campuran manusia dan serigala, yang menyelamatkannya dari ancaman para alien aneh ini kemudian menyeret Jupiter ke sebuah petualangan antar galaksi.

The Wachowski terkenal dengan detail dan nilai estetika mereka pada visualisasi yang memanjakan mata. Dengan efek 3D, detail seperti butiran pasir berwarna biru, gulungan awan jingga kemerahan, sampai lebah-lebah yang terbang rendah di padang penuh bunga berwarna-warni cukup membuat mata terlena dengan keindahan yang tampak nyata. Belum lagi  kontras warna-warninya pada desain setiap alien, arsitektur, planet, hingga pakaian yang dikenakan, membuat penonton bagai diajak berenang di lautan permen Fox. Cerah ceria dan juga berkilauan, dengan tambahan banyak adegan slow motion yang jeren. This is details on heaven that hard to be compete on!


Sayangnya, keindahan visual ini gak berbanding lurus dengan kualitas penceritaannya. Kesalahan yang sama seperti di sekuel Matrix, dimana Wachowski bersaudara justru kesulitan untuk fokus pada inti cerita. Padahal, Jupiter Ascending punya potensi besar, mengingat Wachowski juga senang menyelipkan kritik politik dan kemanusiaan seperti yang bisa kita lihat di Bound dan Cloud Atlas. Alih-alih, Jupiter Ascending banyak menyelipkan gimmick khas damsel-in-distress ketika Jupiter berkali-kali dilempar pada masalah yang mengancam nyawanya dan Caine selalu siap untuk menyelamatkan, seperti pangeran berkuda putih. Konsep elaborasi dari manusia immortal elite yang menganggap makhluk lainnya adalah ayam dan sapi yang siap diternak untuk obat awet muda yang ditawarkan oleh Jupiter Ascending adalah sebuah kritik yang lemah untuk kapitalisme.

Hal lain yang kurang dieksplorasi oleh Wachowski adalah character development.  Channing Tatum sebagai Caine yang dingin dan kaku seperti lone wolf cukup memberikan nyawa sendiri ke film ini. Penonton diajak untuk menyaksikan Caine berubah dari sekedar prajurit sewaan ke 'anjing peliharaan' Your Highness Jupiter. Karakter Jupiter semestinya bisa lebih kuat dan menonjol, lihat saja Prince Fiona di Shrek yang punya plot cerita serupa.  Mila Kunis bisa dengan mudah digantikan dengan aktris cantik manapun. Kegagalan ini kemudian membuat chemistry yang ada di antara mereka berdua tidak cukup kuat dan believable ketika kemudian kisah cinta mereka ditunjukkan ke dalam layar. Siapapun akan cukup bingung, ketika Jupiter sebelumnya sibuk menjerit-jerit ketakutan, lalu tiba-tiba dia keliatan naksir berat dengan Caine. Not smooth enough.


Pun begitu dengan banyaknya karakter pendukung yang semestinya bisa lebih kuat lagi pengaruhnya. Ketika menonjolkan karakter Kalique Abrasax yang anggun atau alien nyentrik berambut biru di awal, sebaiknya ada elaborasi cerita yang lebih dalam yang membuat mereka lebih terlibat dalam cerita, dibanding hanya menunjukkannya lalu hilang digantikan dengan karakter minor lain. Melihat flow penceritaan dan ending Jupiter Ascending yang seperti mengisahkan chapter per chapter dari sebuah novel young adult, bisa jadi peran mereka akan lebih dieksplor di sekuel.

Memang banyak film yang menceritakan tentang peliknya terjebak di tengah perebutan kekuasaan. The good news is, Jupiter Ascending hadir dengan detail visualisasi kelas dewa. Dengan eksekusi yang tepat, Jupiter Ascending mestinya tidak menjadi film yang style over substance. Dengan naskah yang terlalu banal dan predictable, Jupiter Ascending tentu lebih mudah untuk dicerna dibandingkan dengan Cloud Atlas, tapi hadir tak ubahnya seperti melodrama perebutan harta warisan khas telenovela dengan setting di luar angkasa.
 

 

 

Artikel Terkait