The Last - Naruto The Movie : Film Naruto Rasa Shoujo Manga

by Joedi Dance

The Last - Naruto The Movie : Film Naruto Rasa Shoujo Manga
EDITOR'S RATING    

Buat banyak otaku, Naruto adalah sebuah karya besar yang tak boleh dilewatkan. Menggunakan formula shonen manga namun dengan character development level dewa, membuat banyak pembaca yang sulit menerima kenyataan ketika serial ini berakhir di tahun 2014. Hadirnya The Last : Naruto The Movie tentunya menjadi sebuah pelepas dahaga, namun editor kami melihat film ini berubah rasa menjadi shoujo manga. Mengapa? Baca ulasannya disini!

Director : Tsuneo Kobayashi
Screenplay : Kyozuka Maruo, based on Naruto manga by Masashi Kishimoto
Cast : Junko Takeuchi (Naruto Uzumaki), Nana Mizuki (Hinata Hyuga), Chie Nakamura (Sakura Haruno), Shotaru Morikubo (Shikamaru Nara), Satoshi Hino (Sai), Noriaki Sugiyama (Sasuke Uchiha)

Oke, jadi siapa di antara para Jelata disini yang suka membaca manga? Pastinya kamu familiar dengan kisah bocah nakal bernama Naruto yang terobsesi untuk menjadi seorang Hokage di desa Konoha. Premis ceritanya memang terbilang sederhana dan sangat formulaic, namun sejak diterbitkan di tahun 1997 hingga akhirnya tamat di September 2014 kemarin, Naruto menjadi salah satu shonen manga dengan fanbase terbesar di seluruh dunia, telah terjual lebih dari 200 juta kopi, diterjemahkan di lebih 35 negara, menempatkannya di posisi ke tiga di best selling manga sepanjang sejarah. Kesuksesan manga-nya ini kemudian dikuti dengan serial anime, video games, film, dan banyak lagi. Film terakhirnya sendiri, The Last, mengambil setting waktu di antara chapter 699 dan 700, yang ditayangkan pada 6 Desember 2014 dan menjadi film Naruto pertama yang memperoleh lebih dari US $ 16.5 juta.

Dua tahun setelah Perang Dunia Shinobi, dunia tampak damai sentosa. Kakashi menjadi Hokage, sedangkan Naruto tanpa disangka-sangka menjadi idola dan digila-gilai oleh remaja wanita di desa Konoha. Kepopuleran Naruto ini membuat HInata ketar-ketir dengan perasaannya sendiri. Hinata telah merajut syal berwarna merah khusus namun tidak memiliki keberanian untuk memberikannya, walau sudah didukung penuh oleh Sakura. Di sisi lain, terdapat ancaman yang mengintai bumi. Bulan hancur secara perlahan, dan pecahan meteornya akan mengenai bumi dan menciptakan akhir dari dunia. Ancaman ini dilakukan oleh Toneri ?tsutsuki, yang memiliki obsesi menghancurkan bumi dan mengumpulkan byakugan milik klan Hyuga, serta menculik dan memaksa Hinata untuk menikah dengannya. Dengan kehancuran bumi yang semakin dekat dan raibnya sosok Hinata, akankah Naruto dapat mengatasi semuanya?


The Last dibuka dengan sangat menjanjikan, menyajikan recap kronologis sejak kemunculan 'Sage of The Six Paths' sampai pertarungan akbar antara Naruto dan Sasuke. Dengan ancaman kehancuran bumi, kita tentunya penasaran dengan gaya kepemimpinan Kakashi sebagai Hokage, serta tokoh-tokoh lain yang juga jadi favorit, misalnya Gaara, Rock Lee, Sasuke, dan lainnya. Seperti yang kita tahu, Naruto menjadi sebesar ini juga berkat karakter-karakter yang unik dan memiliki latar belakang psikologis yang mendalam, membuat kita setidaknya terikat oleh satu karakter tertentu. Namun sayangnya, bukan itu intensi dari The Last.

Yang ingin disorot oleh The Last sendiri lebih ke hubungan percintaan antara tokoh Naruto dan Hinata, dimana di akhir manga ujug-ujug mereka diceritakan menikah dan memiliki anak. The Last ingin mendalami apa yang terjadi sehingga Naruto dan Hinata akhirnya bisa menjadi sepasang kekasih dan kemudian menikah, lewat balutan kisah action level dewa yang menjadi ciri khas Naruto. Sayangnya, kisah cinta yang ditunjukkan oleh The Last malah mengganggu porsi action yang jadi menu utama di Naruto.

Kemunculan tokoh-tokoh lain tampil bak figuran belaka, tanpa pendalaman karakter seperti biasa. Kecuali untuk karakter Sakura, yang sangat suportif mendorong Hinata dalam menyatakan perasaannya yang sepihak itu. Secara tak langsung, penonton juga disajikan masalah pribadi yang dialami Sakura. Di beberapa poin, banyak diselipkan adegan unyu yang diciptakan untuk memperkuat chemistry  antara Naruto dan Hinata, memberikan efek heart warming yang tak biasa, tapi kemudian malah jadi melelahkan ketika menuju klimaks.


Naruto tidak pernah diciptakan untuk jadi seromantis ini, sehingga ketika dia ujug-ujug jadi serba unyu, porsi actionnya malah jadi terlupakan. Karakter antagonis yang diciptakan khusus untuk film ini, walau cukup mengerikan, malah begitu mudah terlupakan. Plot ala damsel in distressnya pun ditampilkan terlalu banyak, membuat cerita jadi sangat mudah diprediksi dan membosankan. Dan ketika bagian klimaks disajikan adegan action yang jor-joran, saya malah merasa konyol sendiri menyaksikan adegan-adegan ninjutsu berlebihan sampai dapat membelah bulan.  

Intensi The Last yang lebih menyoroti romance Naruto - Hinata ini jadi dua mata pedang. Di satu sisi, bagi para fans yang memang rooting ke pasangan ini bisa jadi sangat menyukai sajian unyu dan romantis yang ada. Terutama sekali ketika Naruto dan Hinata terjebak dan genjutsu yang membuat mereka trace back ke masa lalu. Penonton rasanya ikut tersihir. "Ini lho rasanya kena genjutsu!" Sayangnya, saya ada di sisi sebaliknya, kelelahan dan gelisah sendiri untuk mengikuti film sampai akhir. Rasanya seperti menonton kisah Naruto yang sama sekali berbeda. Seolah hanya meminjam karakter yang ada, lalu membuatnya dengan resep shoujo manga. Dengan ekspektasi setinggi ini, saya diingatkan akan memori ketika membeli sebungkus kerupuk yang ternyata anyep dan tidak ada sensasi renyah saat dikunyah.


 

Artikel Terkait