Ditinggal oleh James Wan tidak membuat proyek Insidious terlupakan. Kini, diambil oleh Leigh Whannell, Insidious Chapter 3 siap membuat kita semua mencengkeram kursi bioskop. Mulai tayang hari ini, baca dulu ulasannya disini.

Director : Leigh Whannell
Screenwriter : Leigh Whannell
Cast : Lin Shaye, Dermot Mulraney, Stefanie Scott, Angus Simpsons, Leigh Whannell,
Genre horror adalah salah satu genre yang cukup menguntungkan di Hollywood. Banyak kemudian sekuel, prekuel, atau reboot dari film-film yang sukses membuat orang mengkeret ketakutan di kursi. Tapi biasanya, kesuksesan dari franchise horror ini ada pada satu kesamaan. Apa persamaan dari franchise "The Halloween", "A Nightmare On Elm Street", "Texas Chainsaw Massacre", atau "Friday The 13th". Semuanya punya satu nafas yang sama : tokoh antagonis yang begitu ikonik sehingga wajib ada di setiap filmnya, bahkan jadi sumber dari ketakutan itu sendiri.
Tapi, genre horror sekarang sudah jarang mengeksplor antagonis yang ikonik ini. Biasanya kita dihadapkan pada cerita-cerita mengenai sebuah penampakan yang tidak terlihat. Yang malah, semakin menyeramkan. Mungkin karena kultur Timur yang banyak berkisah mengenai penampakan-penampakan tidak jelas, yang membuat kita jadi lebih takut dibandingkan dengan mas-mas bertopeng hoki yang bawa parang karatan. Ini yang membuat franchise genre horror modern lebih mengutamakan benang merah cerita dibandingkan dengan sosok ikoniknya. Hal yang sama yang dilakukan oleh Whannell di prekuel Insidious yang berjudul Insidious : Chapter 3.
Alih-alih melanjutkan kisah mengenai keluarga Lambert, Whannell berfokus pada kejadian sebelum Insidious dimulai. Dikisahkan bahwa Elise (Shaye) didatangi oleh seorang remaja bernama Quinn Brenner (Scott). Quinn ingin bertemu dengan ibunya yang sudah meninggal. Namun, karena trauma atas kematian suaminya, Elise menolak. Tanpa sepengetahuan mereka, muncul sesosok pria yang mengancam keselamatan Quinn. Kini, giliran Elise yang harus mengalahkan rasa takut dan traumanya demi menyelamatkan Quinn.

Alih-ailh berfokus pada sosok "Lipstick-Face Demon" yang mengerikan di installment sebelumnya, Whannell memilih untuk merentangkan kisah Insidious ke masa lalu, kepada tokoh Elise. Keputusan ini bisa jadi pisau bermata dua. Di satu sisi, cerita bisa jadi lebih luas berkembang. Tapi di sisi lain, penonton mungkin tidak familiar dengan kehadiran tokoh-tokoh baru, walau ada beberapa tokoh yang muncul di setiap filmnya. Seperti di film pertamanya, Whannell kembali menggunakan tokoh protagonis yang lemah dan tak berdaya. Tokoh kali ini adalah Quinn, remaja putri yang mengalami patah tulang dan praktis tidak bisa melakukan perlawanan apapun, serta ayahnya Sean (Mulraney) yang kebingungan dengan aktivitas supranatural di rumahnya.
Sayangnya lagi, dari segi akting, kedua tokoh protagonis ini pun tidak membantu. Penonton tidak dibuat bersimpati dengan kondisi Quinn atau Sean. Padahal, senjatanya sudah siap semua : gadis remaja yang cedera parah dan tidak bisa bergerak kemana-mana. Tapi ya itu, eksekusinya kurang menggigit. Baik Scott maupun Mulraney berakting sekedarnya. Penonton tidak dibuat yakin kalau suasanya yang sedang terjadi ini mencekam dan mengancam jiwa. Tidak ada unsur primal dan bertahan hidup. Kalo Freddy Krueger ada di film yang sama, mungkin dia lagi kegirangan ngeliat korban yang gak berdaya itu sambil ngasah pisau dan mencacah acar timun sampai jadi halus.
Chapter 3 ini pun terasa hambar di sisi tokoh antagonisnya. Seperti di awal tadi, sosok hantu adalah bintang utama dari film-film semacam ini. Freddy Krueger cukup membuat remaja-remaja tidak ingin ketiduran. Atau Sadako yang membuat kita jadi takut buat nonton TV. Padahal, "Lipstick-Face Demon" punya potensi yang sama seperti contoh diatas. Tapi Whannell lebih memilih untuk mengeksplor penghuni "The Further" lainnya. Sayang, "The Man Who Couldn't Breath" ini tidak bisa tampil menggigit seperti pendahulunya. Seolah belajar dari kesalahannya di Chapter 2, latar belakang dan motivasi setan yang satu ini tidak dibahas sama sekali. Sayangnya, ini malah jadi salah satu kekurangan lain, karena musuh utamanya terlalu mudah untuk dikalahkan.

Oke, kalau akting kurang bagus, biasanya bisa ditutupi dengan atmosfer keseraman yang bisa membuat semua bulu kuduk meremang. Sejelek-jeleknya Insidious Chapter 2, James Wan punya kemampuan membuat peralatan rumah tangga menjadi sesuatu yang menyeramkan. Mulai dari kuda-kudaan yang bergerak, pintu yang berderit, atau shot lama ke lemari baju, bisa jadi intrik yang menegangkan. Whannell tidak mampu membuat sesuatu yang baru atau melebihi Wan. Ia sepenuhnya bergantung pada sound effect yang melengking serta kemunculan hantu yang cukup menyeramkan tapi banci tampil. Saking seringnya muncul, di bagian akhir malah cukup draggy dan basi. Menyenangkan sih, bisa menjerit ketakutan sesekali, tapi begitu keluar bioskop, sudah tak ada lagi kekhawatiran ada sosok yang mengikuti dari belakang. Persis seperti wahana "Rumah Hantu" di pasar malam.
Saya memang tidak menyukai genre horror karena punya mental setipis kertas papirus, tapi kalau disuruh memilih untuk menonton Insidious Chapter 3 atau It Follows yang sama-sama sedang tayang, mungkin saya lebih memilih It Follows lagi. Satu hal yang pasti, setan yang ada di It Follows jelas jauh lebih mengerikan, membuat setan Insidious Chapter 3 ini kelihatan seperti boss-boss level 1 di video game. Saking mengerikannya, sampai sekarang saya masih suka menengok ke belakang, berharap tidak ada yang mengikuti dari belakang. Ini baru namanya film horror!