Attack on Titan: Adaptasi yang Jauh dari Kata Memuaskan

by Ireuna

Attack on Titan: Adaptasi yang Jauh dari Kata Memuaskan
EDITOR'S RATING    

Film yang diangkat dari manga dan anime fenomenal ini akhirnya rilis di Indonesia juga. Apakah adaptasinya cukup memuaskan ataukah masih banyak yang perlu dibenahi?

Bayangkan jika Jelata sejak lahir sampai dewasa hidup di dalam tembok raksasa yang tidak pernah dibuka. Apa yang akan Jelata rasakan? Marahkah karena dunia menjadi begitu sempit? Amankah karena merasa terlindungi di dalam tembok? Apalagi jika Jelata hidup menelan legenda yang mengatakan bahwa di luar tembok berkeliaran para raksasa pemakan manusia.

Attack on Titan (Shingeki no Kyojin) mengangkat kisah tentang manusia yang hidup di dalam tembok setinggi 50 meter yang melindungi mereka dari Titan (raksasa). Diadaptasi dari manga berjudul sama karangan Hajime Isayama, Attack on Titan menghadirkan latar kisah yang serupa, tapi tak sama.

Kisah bermula ketika Armin (Kanata Hongo) hendak mencari Eren (Haruma Miura) dan mengajak Mikasa (Kiko Mizuhara) bersamanya. Setelah menemukan Eren, mereka justru diajak mendekati tembok, meski hal itu sebenarnya dilarang. Namun, ketika mereka tiba di tembok, terjadi sesuatu yang sangat di luar dugaan. Titan yang lebih tinggi dari tembok sedang menatap ke kota di balik tembok, lalu berusaha menjebol dinding besar itu. Titan itu berhasil menghancurkan sebagian kecil tembok, namun hasilnya sangat fatal. Para Titan yang sudah menunggu di balik tembok langsung memasuki kota. Kota dilanda teror yang mengerikan. Para Titan memakan semua manusia yang mereka temui. Pada akhirnya, manusia berhasil bertahan di lapisan kedua tembok yang wilayahnya jauh lebih kecil sambil tetap memegang harapan akan dapat merebut kembali tembok pertama dan menutup lubang di sana.

 

Attack on Titan bukanlah adaptasi yang cukup baik. Banyak sekali perbedaan yang ditemukan dan hal itu tidak membuat jalan ceritanya menjadi lebih baik atau sangat keren. Perbedaan karakter dan cerita yang ada justru malah merusak kisah aslinya. Pertama, Attack on Titan terlalu modern. Mereka menggunakan mobil untuk pergi mengambil persenjataan di lapisan pertama tembok, sementara versi aslinya bahkan hanya menggunakan kuda untuk berpatroli. Kedua, tidak ada kejelasan mengenai pasukan-pasukan dan hierarki di dalam tembok. Karena sama sekali tidak ada penjelasan mengenai hal tersebut, maka Jelata juga tidak akan menemukan Levy dan pasukan pemantau (Survey Corps). Namun, karakter Levy sebagian besar bisa ditemukan dalam tokoh Shikishima, yang jauh lebih mirip “om-om genit” aneh yang mampu membunuh banyak Titan, namun tak berguna saat pertempuran karena hanya memantau keadaan dari ketinggian, bukannya membantu melawan.

Ketiga, karakter Eren menjadi semacam remaja pecundang yang lelah akan hidupnya di dalam tembok dan ingin melawan Titan bukan karena ibunya (orang tuanya dikisahkan sudah meninggal), melainkan untuk membalas dendam karena ia mengira Titan telah membunuh Mikasa. Bukannya menjadi tokoh yang bersemangat dan berapi-api menyerukan bahwa mereka harus berjuang melawan Titan, Eren justru tampil sebagai laki-laki lemah dan mudah menyerah. Apalagi, sejak awal, pemeran yang dipilih mungkin tidak sesuai dengan harapan banyak pembaca manga maupun penikmat animenya, yaitu Miura. Miura sendiri dalam drama Jepang memang kerap berperan sebagai laki-laki tampan yang digilai banyak wanita.

Keempat, terlalu banyak tokoh yang berbeda dan karakter tokoh yang sama dengan versi aslinya juga berbeda. Hanya Sasha yang kelihatannya masih sama seperti aslinya. Kelima, terlalu banyak adegan “romantis” yang tidak penting dan sebaiknya dibuang saja sejak awal. Keenam, sama sekali tidak terasa semangat hidup dan ikatan yang kuat di dalam pasukan dalam film. Padahal, dalam versi aslinya, ikatan persahabatan antara Trainees Squad (Eren, Mikasa, Armin, Jean, Connie, dan lain-lain) sangatlah kuat.

Attack on Titan sangat di luar pengharapan. Ketika versi manga dan anime tampil dengan banyak misteri yang lebih kompleks dan latar kisah yang kuat di antara karakternya, Attack on Titan versi live action ini justru menjadi sebuah film drama biasa dengan banyak adegan percintaan tidak penting. Terlepas dari efeknya yang keren dan mampu membawa kesan mencekam dan mengerikan dari para Titan, kisahnya seharusnya bisa digali lebih dalam. Paling tidak, jika ingin dibuat berbeda dari aslinya, buatlah lebih baik dengan durasi yang lebih panjang. Sayang sekali Attack on Titan yang sangat ditunggu-tunggu harus berakhir dengan menyedihkan dan lebih banyak menonjolkan fan service seperti ini. Semoga untuk film selanjutnya akan mendapat perbaikan untuk menambal sulam apa yang tidak terlalu bagus di film pertama.

Artikel Terkait