Cantik dan bersuara merdu. Itulah Raisa. Apakah daftar kebisaannya akan bertambah dengan 'akting'? Sayangnya tidak. Kenapa? Baca review kami.

Lagu dan suara Raisa Andriana berhasil membuat gadis muda ini menempati posisi puncak sebagai penyanyi muda wanita yang sedang populer di Indonesia. Wajah cantik, suara merdu, dan juga ramah kepada penggemar tentu membuat Raisa langsung digilai dan dikagumi oleh seluruh pria di Indonesia. Oleh karena itu, jangan heran bila Raisa suatu saat akan diminta membintangi sebuah film. Terjebak Nostalgia judul film tersebut merupakan debut akting Raisa yang mempertemukannya dengan Chicco Jerikho serta Maruli Tampubolon. Jika Jelata merasa pernah mendengar dua kata ini sebelumnya, diadaptasi dari lagu berjudul sama milik biduanita cantik ini.
Raisa dan Sora (Maruli) berjanji akan menikah sepulang Sora dari mengenyam pendidikan di New York. Sayangnya, Raisa justru mendapat kabar bahwa menjelang kepulangan Sora ke Jakarta, lelaki yang dicintainya ini justru hilang saat badai Shandy menyerang. Raisa tentu tidak percaya bahwa Sora telah tiada. Ia terus-menerus mengirim surat berharap mendapat balasan hingga suatu saat sepucuk surat datang. Tidak yakin bahwa sosok yang mengiriminya surat adalah Sora, Raisa memutuskan untuk terbang ke New York bersama Reza, teman dekatnya, untuk mencari tahu apakah benar Sora masih hidup.

Film yang dipersembahkan oleh Pond’s ini memang menjual Raisa sebagai pemeran utamanya dengan didampingi Chicco. Dari segi penampilan, menyaksikan wajah Raisa di layar lebar jelas merupakan hiburan tersendiri, apalagi saat ia berduet dengan Maruli menyanyikan “Butterfly”. Namun sayang, dari segi akting, Raisa masih perlu banyak belajar. Entah dilarang tampil jelek oleh Pond’s atau kurangnya jam terbang, Raisa seakan masih malu-malu masuk ke dalam karakter. Saat ia beradegan mesra dengan Maruli atau Chicco pun, chemistry-nya terasa kurang. Begitu juga saat adegan sedih, tidak membuat saya ikut mengasihani Raisa karena sudah terlalu bosan dan capek dengan aktingnya yang datar. Setiap adegan antara Raisa dan Chicco hanya diisi oleh akting Chicco yang sangat kuat bahkan hanya lewat tatapan mata saja. Kalau kata orang, terasa sekali jomplang-nya. Maruli meskipun aktingnya juga tidak selevel dengan Chicco, tapi tidak sedatar Raisa.
Dari segi penyutradaraan, Rako Prijanto untungnya tidak terlalu mengecewakan. New York tidak sekadar tempelan, tetapi memang menjadi bagian penting dalam cerita dengan membawa penonton bertualang bersama Raisa dan Reza. Sayangnya, dari segi naskah dan cerita, Anggoro Saronto masih harus belajar banyak untuk membuat kisah yang terasa membumi. Bahkan, twist yang disajikan pun terasa membingungkan, alih-alih membuat penonton tertarik dan senang.
Sebuah film adaptasi lagu bukan berarti harus selalu dimainkan oleh penyanyi yang bersangkutan. Namun, jika rumah produksi tetap ingin menggunakan Raisa suatu hari nanti, alangkah baiknya jika ia diberi jam terbang yang lebih mumpuni daripada sekadar berakting di video klipnya sendiri.
