Setelah berbagai media promosi yang cukup nyeleneh dirilis Fox untuk membuat aware akan keberadaan si topeng merah ini, kini Deadpool pun akhirnya rilis. Lalu, apakah janji Fox untuk tetap membuat antihero ini sadis dan bermulut tajam terpenuhi?

Panjang dan berliku memang perjalanan superhero slenge’an dari Marvel ini. Sempat muncul di X-Men Origins: Wolverine, namun tidak sesuai harapan. Kemudian, footage khusus diperlihatkan dan segera membuat orang bersorak saat sosok Deadpool yang dikedepankan sesuai dengan komik. Sempat akan diniatkan menjadi PG-13 agar dapat ditonton semua orang, tapi akhirnya 20th Century Fox menetapkan Deadpool tetap berating R agar tidak menghilangkan kekerasan di ceritanya. Dan, menjelang Valentine, kisah cinta sadis inipun dirilis.
Wade Wilson menemukan cintanya dalam bentuk Vanessa. Namun, kemalangan datang saat ia didiagnosis kanker dan tidak akan hidup lama. Seorang pria misterius kemudian datang dan menawarkan kesempatan kedua: sebuah program yang tidak hanya akan menghilangkan kanker dari tubuh Wade, tetapi juga membuatnya memiliki kekuatan super. Tergiur dengan tawaran tersebut, pria bawel ini memutuskan bergabung dengan program. Namun, apa yang terjadi di luar dugaan. Kini, Wade berniat untuk membalas dendam terhadap otak di balik kondisinya dengan alias lain: Deadpool.
Berisik, bawel, tidak bisa diatur, tidak bisa diam, bermulut kasar, berkomentar tajam, dan masih banyak “kekurangan” Deadpool dibanding superhero lain. Jujur saja, ini salah satu film superhero Marvel yang menarik untuk ditonton, tidak membosankan, dan memiliki karakter yang meskipun slenge’an, namun membuat penonton dekat. Tidak ada yang bisa diteladani memang dari sosok berbaju ketat merah ini, tapi superhero toh juga manusia yang kadang ingin bertingkah kasar atau mengomentari sesuatu dengan menyebalkan.

Dibandingkan dengan superhero Marvel yang selama ini menonjolkan nilai-nilai kepahlawanan, tidak ada yang bisa diambil dari Deadpool. Percaya deh. Namun, film superhero memang tidak selamanya harus memiliki pesan moral. Hanya untuk dinikmati, ditertawakan, kemudian dilupakan juga tidak masalah. Semua hal sendiri dikomentari oleh Deadpool dan beberapa adegannya bahkan mengingatkan kita dengan superhero lain saat masih dalam tahap pencarian kostum (uhuk...Spider-Man...uhuk). Beberapa celetukan si mulut tajam ini juga sukses mengundang tawa, terutama untuk Jelata yang mengerti benar konteks yang dihina Deadpool. Lalu yang tidak mengerti? Masih bisa tertawa melihat tingkah polahnya kok. Dan, tetap digunakannya rating R merupakan kelebihan tersendiri untuk film ini karena jika Deadpool sudah berceloteh kasar, tapi perkelahian yang dilakukannya tanpa darah akan terasa sangat aneh.
Sayang, Deadpool masih memiliki faktor bosan yang akhir-akhir ini muncul di film Marvel, paling banyak saat adegan flashback. Beberapa dialog, terutama percakapan antara Wade dan sahabatnya si pemilik bar, terasa seperti lelucon lokal yang tidak akan dimengerti penonton luar Amerika sehingga terasa seperti ngobrol ngalor-ngidul. Belum lagi masalah penjahat yang menjadi penyakit Marvel, terlihat mengancam saat di awal, tapi ternyata tidaklah seheboh itu.
Secara keseluruhan, Deadpool adalah sebuah film Valentine yang berbeda (iyalah!) dan sebuah kisah superhero yang lain dari yang lain. Dengan tidak perlu lagi ada pengenalan siapa Wade Wilson dan Deadpool, seharusnya sekuel akan lebih bagus daripada film pertamanya. Mungkinkah?
