Jingga: Warna-Warni Dunia Tunanetra

by dr. kawe

Jingga: Warna-Warni Dunia Tunanetra
EDITOR'S RATING    

Tunanetra seringkali dipandang kasihan oleh orang lain. Namun, Lola Amaria mengangkat kisahnya ke layar lebar dengan memperlihatkan bahwa penyandang disabilitas ini juga memiliki kebahagiaan mereka sendiri.

Kisah mengenai penyandang cacat sering diangkat ke film lokal. Tapi, kebanyakan adalah penyandang cacat tunarungu atau tunawicara. Namun, Lola Amaria rupanya ingin mengangkat tema disabilitas dengan sudut pandang yang baru sehingga terciptalah Jingga yang berkisah mengenai penyandang tuna netra.

Jingga, seorang anak SMA yang gemar bermain drum, mengalami low vision sejak kecil. Jika sedang dalam kondisi tertekan, penglihatannya akan memburuk. Namun, kondisi ini akhirnya berubah menjadi buta total sejak ia dipukul oleh temannya di sekolah. Putus asa, Jingga berusaha bunuh diri, namun untung gagal. Kedua orangtuanya yang prihatin, memutuskan untuk memindahkan Jingga ke SLB agar ia bisa belajar menerima keadaannya. Di sini, Jingga bertemu dengan sahabat baru, seperti Nila, Magenta, dan Marun. Tidak hanya itu, Jingga bisa melanjutkan kecintaannya pada dunia musik setelah tahu bahwa ketiga teman barunya memiliki grup band. Tapi, apakah hidup masih terlihat indah setelah Jingga kehilangan penglihatannya?

Ini adalah film pertama Lola dengan tema ringan, yaitu remaja. Namun, seringan-ringannya film Lola pastilah ada sesuatu yang bisa menjadi renungan para penonton saat menyaksikan film wanita berkulit hitam manis ini. Renungan yang disajikan Lola di filmnya kali ini adalah “bahwa menjadi tunanetra bukanlah akhir dari segalanya”. Jingga yang dikisahkan sempat patah arang akhirnya belajar menerima kebutaannya dan berusaha mencari celah bahagia di antara disabilitasnya. Begitupun juga dengan Nila, Magenta, dan Marun yang berinteraksi layaknya remaja normal lain. Bercanda, nongkrong di kafe, nonton bioskop, hingga bermain band.

Menariknya, penonton mendapat pengetahuan baru mengenai fakta-fakta tunanetra yang disajikan di sini. Dan, semua itu disajikan dengan ringan dan keluar melalui mulut tiap-tiap tokohnya dengan ringan. Dialognya pun tidak sedepresif yang saya kira karena beberapa berhasil mengundang tawa. Acungan jempol sendiri patut dilayangkan untuk empat pemain utamanya yang benar-benar menjiwai peran mereka dan tampil apa adanya sehingga Jelata mungkin akan mengira mereka sungguh-sungguh buta. Pemilihan pemain yang belum memiliki nama di dunia akting (bahkan ini adalah debut film Hany Valery, pemeran Nila) juga berhasil meyakinkan penonton bahwa keempat pemainnya memiliki disabilitas. Lola sendiri mengungkapkan dalam sesi konferensi pers bahwa seandainya ia menggunakan aktor atau aktris yang sudah terkenal, orang akan tahu bahwa mereka hanya berakting.

Sayangnya, masih terdapat beberapa “lubang” yang mungkin akan membuat penonton bertanya-tanya. Seperti, apa yang menyebabkan Jingga dipukul matanya hingga buta dan kenapa ayah Jingga tidak mempermasalahkan pemukulan ini? Seiring dengan perkembangan kisah, fokus film pun juga bergeser menjadi konflik bersama, bukan lagi berfokus pada sosok Jingga. Bahkan, bisa dibilang Marun cukup mendominasi sampai akhir. Dan, yang sangat disayangkan adalah pemilihan kisah yang istilahnya “sudah jatuh tertimpa tangga pula” pada apa yang dialami para tunanetra. Saya pribadi lebih suka jika ceritanya tidak berakhir dengan kelam seperti itu seakan memberikan jawaban bahwa dunia para tunanetra juga sama berwarnanya dengan dunia orang normal.

Secara keseluruhan, Jingga merupakan salah satu drama yang cukup menyentuh dengan jajaran pemeran yang tidak sekadar berakting, tetapi juga menghayati. Tonton dan lihatlah bahwa tunanetra juga manusia. Sama seperti kita. 

Artikel Terkait