AADC 2: Road Movie dengan Selipan Nostalgia Cinta-Rangga

by dr. kawe

AADC 2: Road Movie dengan Selipan Nostalgia Cinta-Rangga
EDITOR'S RATING    

Sekali lagi, film fenomenal di tahun 2002 ini kembali mengundang perhatian kalangan di 2016. Masih magiskah interaksi antara Cinta dan Rangga hingga mampu menjaring banyak penonton?

Waktu 14 tahun jelas bukan merupakan masa yang singkat, terutama untuk sebuah sekuel film remaja. Para pemerannya jelas sudah beranjak dewasa. Konflik yang diketengahkan juga tentu sudah lebih matang. Di Hollywood sendiri, sudah bukan hal yang aneh jika sebuah film dibuatkan sekuelnya berbelas-belas tahun kemudian, bahkan Mad Max: Fury Road sendiri membutuhkan waktu 30 tahun untuk kembali ke layar. Karena itu, saat Ada Apa dengan Cinta diumumkan akan dibuat sekuelnya, banyak yang bersemangat, tapi tidak sedikit juga yang kecewa. Apakah Mira Lesmana dan Riri Riza, yang menggantikan Rudi Soedjarwo di kursi sutradara, sanggup membayar ekspektasi tinggi generasi 1990-an yang besar dengan kenangan kisah asmara Cinta-Rangga?

Mengejutkannya, apa yang disajikan Mira dan Riri ternyata memuaskan banyak pihak. Suasana nostalgia sudah mulai terasa bahkan saat opening credit bergulir dengan menggunakan lagu yang sama dengan lagu film pertamanya. Jelata yang menyaksikan AADC 14 tahun lalu pasti akan langsung merasa terharu (at least, saya begitu sih) dan langsung terbayang saat-saat menyaksikan film ini dulu bersama teman, gebetan, bahkan mantan.

Semua tokoh ditampilkan dengan begitu menarik. Lengkap dengan gaya mereka yang sudah kita kenal baik. Maura masih centil (namun lebih keibuan), Milly masih ceplas-ceplos dan telmi, serta Karmen yang galak dan tomboy. Sayang memang, absennya Alya terasa membuat Geng Cinta ini ada yang kurang. Namun untungnya, Mira berhasil menyajikan alasan yang logis alih-alih mengganti sosok Ladya Cheril dengan artis yang berwajah mirip atau karakter baru. Apa yang terjadi dalam kehidupan Cinta dan gengnya selama 14 tahun dipaparkan Mira di sini sehingga tidak ada pertanyaan yang tersisa. Satu hal yang cukup membuat saya senang adalah karakter Karmen yang seakan menjadi pengganti Alya karena, dibandingkan film pertamanya, Karmen kali ini dibuat menjadi sosok yang lebih dekat dengan Cinta. Milly seperti biasa berhasil menciptakan suasana yang lucu dan menyenangkan dengan gayanya yang manja dan juga ucapannya, membuat karakter ini menjadi favorit penonton.

Mengenai chemistry, jelas Dian Sastro dan Nicholas Saputra masih menjadi juara. Cinta dan Rangga kembali hidup di tangan mereka. Ditambah dengan alur cerita yang memikat dan sudut-sudut kota Yogyakarta yang dipotret Riri dengan begitu romantis membuat pertemuan kembali dua insan ini terasa indah. Berbeda dengan AADC yang berlokasi di sekolah dan sekitaran Jakarta, AADC 2 kini seperti road movie yang membawa penontonnya menyusuri kembali jejak asmara Cinta-Rangga yang hilang dari layar lebar selama 14 tahun. Berbagai kesenian khas Yogyakarta, kuliner, hingga tempat nongkrong ditampilkan Mira dan Riri. Karena itu, tidak heran jika gala premier film ini diadakan di Yogyakarta karena bisa dibilang 80% adegan diambil di sana.

Musik juga menjadi salah satu faktor yang patut diacungi jempol. Melly Goeslaw dan Anto Hoed memang hanya satu-satunya musisi yang bisa menciptakan lagu-lagu untuk AADC 2 karena nuansa yang sama seperti film pertamanya kembali muncul. Jangan heran jika beberapa minggu ke depan, soundtrack AADC 2 akan laris seperti halnya film pertama.

Sekali lagi, AADC 2 berhasil menempati level teratas di perfilman Indonesia. Mira dan Riri membayar lunas rasa penasaran, keraguan, hingga antusiasme para pencinta AADC pertama. Tidak hanya membuat kita tersenyum sepanjang film, setelah keluar bioskop pun, Jelata akan merasakan perasaan yang penuh cinta. Seperti kata Rudi Soedjarwo melalui akun Twitter-nya setelah menyaksikan film ini: “Menonton AADC 2 membuat saya ingin jatuh cinta lagi”.

 

 

Artikel Terkait