Sebel sama bos di kantor? Sama seperti Diana. Tapi, apa bos Jelata seabsurd Bossman? Kayaknya nggak. Terus, bagaimana film terbaru dari Upi ini?

Duet Bunga Citra Lestari dan Reza Rahadian berhasil membuat masyarakat rela bolak-balik ke bioskop pada tahun 2012 lewat Habibie & Ainun hingga meraih penonton sebanyak 4,7 juta. Duet itu akhirnya kembali dipertemukan oleh Falcon Pictures di tahun 2016 ini. Namun, jangan salah sangka. Ini bukan sekuel Habibie & Ainun, melainkan film yang murni mengangkat tema baru, bahkan genre baru. Mengusung judul My Stupid Boss, seperti apa kisahnya?
Diana yang ikut suaminya ke Malaysia memutuskan untuk melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan ekspor-impor setelah beberapa lama menganggur. Ia menyangka, bekerja dengan orang satu bangsa dan teman suaminya saat di Amerika akan lebih mudah daripada bekerja di bawah orang baru. Namun, harapan tinggal harapan. Atasan, yang minta dipanggil Bossman, ternyata aneh, nyentrik, dan absurd luar biasa. Peraturan-peraturan ajaib diterapkan Bossman dan dengan motonya ‘impossible we do, miracle we try’ ini, semua hal harus diselesaikan. Keabsurdan apa saja yang menanti Diana saat harus menyelesaikan berbagai urusan dengan Bossman?
Bisa dibilang, film ini sukses membayar nostalgia penonton film yang ingin melihat BCL dan Reza kembali dipertemukan di satu layar. Hanya dalam delapan hari, sudah 1.235.000 penonton yang datang ke bioskop untuk menyaksikan adaptasi buku ini. Falcon Pictures selaku rumah produksi yang membesut My Stupid Boss jelas senang karena ini adalah film kedua mereka yang berhasil menembus 1 juta penonton di tahun 2016 ini.

Reza kembali membuktikan kapasitasnya sebagai salah satu aktor Indonesia terbaik dalam beberapa tahun belakangan ini. Di saat orang-orang mungkin sudah bosan dengan wajahnya, ia berani memainkan peran yang jauh berbeda dan bersedia disulap menjadi bos berperut buncit, setengah botak, dan berkumis ala lele. BCL juga sukses mengimbangi Reza dan menjadi bawahan yang kadang tertekan dengan kelakukan aneh bosnya, tetapi saat terdesak tidak segan-segan untuk melawan. Upi selaku sutradara sendiri berhasil menjalin cerita yang menarik serta menciptakan roller-coaster emosi sehingga membawa penonton tertawa atau terkadang gemas dengan kelakukan Bossman.
Sayangnya, menjelang ¼ akhir film, naskah mulai terlihat bingung untuk disudahi. Tensi kelucuan yang mulai menurun dan perpindahan karakter Bossman dari pria absurd menjadi bapak-bapak dermawan terasa buru-buru tanpa ada hint yang jelas. Tidak hanya itu, sangat disayangkan karakter yang dibawakan Bront Palarae kurang digali sehingga yang kita tahu hanyalah ia gemar menggoda salah satu rekan kerjanya. Namun, semua itu berhasil ditutup Upi dengan akhir yang cukup manis dan kembali mendatangkan gelak tawa.
Secara keseluruhan, My Stupid Boss berhasil menghadirkan lelucon lewat dialog-dialog tanpa terjebak menjadi komedi slapstick. Keberanian Reza untuk tidak tampil tampan bisa dibilang menjadi salah satu daya tarik di film ini. Jadi, siap-siap deh nonton My Stupid Boss lagi sebelum dibilang ‘tempe bener sih kamu”.
