Rudy Habibie: Biopik Menghibur, Namun Sarat Makna

by dr. kawe

Rudy Habibie: Biopik Menghibur, Namun Sarat Makna
EDITOR'S RATING    

Sebuah biopik mengenai masa muda BJ Habibie dalam usahanya membangun industri dirgantara Indonesia ini dikemas secara apik, megah, dan menghibur. Bukti bahwa film biopik bisa dibuat menjadi hiburan tanpa harus berkerut kening.

Pada tahun 2012, Habibie & Ainun sukses meraih penonton hingga 4,5 juta dan mengharu biru penonton Indonesia dengan kisah cintanya yang menyentuh. Lalu, saat dikabarkan bahwa MD Pictures akan kembali membuat Habibie & Ainun 2 alias sekuel, masyarakat sontak bertanya-tanya. Untuk apa? Lalu, ceritanya nanti tentang apa? Bisa dibilang, kemunculan sekuel ini dianggap tidak perlu apalagi mengusung judul Habibie & Ainun 2 sementara bisa jadi ceritanya berbeda jauh dari judul. Lalu, apa yang tertuang dalam sekuel yang diberi judul Rudy Habibie ini?

Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang di masa mudanya dipanggil Rudy mendapat kesempatan untuk kuliah di luar negeri atas kerja keras sang ibu. Di negara Jerman, ia bertemu dengan berbagai teman dari Tanah Air, seperti Ayu, Poltak, Liem Keng Kie, hingga musuh dari Laskar Pelajar yang tidak suka dengan sikap Rudy yang dianggap sok tahu. Tidak hanya menuntut ilmu dan berusaha mewujudkan mimpinya untuk industri dirgantara Indonesia, Rudy juga bertemu dengan gadis cantik bernama Ilona yang mencuri hatinya. Apakah kisah cinta mereka berlanjut?

Meskipun bisa dikatakan bahwa penonton yang menyaksikan Habibie & Ainun pasti sudah tahu bagaimana nasib kisah cinta Rudy dengan Ilona, namun jangan pikir bahwa cerita hanya berhenti di situ saja. Film Rudy Habibie ini tidak melulu berkutat di seputaran kisah cinta segitiga yang melibatkan Ayu, tapi memiliki makna yang lebih besar dari itu. Bagaimana seorang Habibie muda jatuh-bangun dalam mewujudkan mimpinya terhadap dunia penerbangan Tanah Air dan mendapat tentangan dari banyak pihak.

Bisa dibilang, semua sektor dalam film ini patut dipuji. Naskah yang disusun Ginatri S. Noer tidak menyelipkan satu adegan pun yang terasa mubazir meskipun durasi film ini memang tergolong lama untuk film lokal, yaitu 2,5 jam. Penonton diajak menyusuri lika-liku hidup Habibie yang naik-turun selama di Jerman, kisah cintanya, hingga persahabatan dengan para mahasiswa Indonesia di Aachen. Hanung Bramantyo sekali lagi membuktikan kualitasnya sebagai sineas Indonesia yang sanggup mengarahkan kisah biopik menjadi sajian yang menghibur, alih-alih membosankan. Sinematografi yang indah pun turut mendukung jalannya cerita dan kalaupun beberapa bagian menggunakan special effect terasa halus dan tidak tampak.

Dari segi akting, bisa dibilang bahwa jajaran pemainnya tidak miscast. Mulai dari Ernest Prakasa, Indah Permatasari, Pandji Pragiwaksana, Cornelio Sunny, Paundra Karna, hingga Borisbokir menampilkan akting yang apik. Kekurangan mungkin tampak pada Chelsea Islan yang terasa berlebihan dalam menggambarkan aksen Ilona dan berusaha keras mengimbangi akting Reza Rahadian yang memang luar biasa. Untung dengan runtime yang tidak terlalu banyak di layar, kehadirannya masih termaafkan. Sayangnya, scoring terasa berlebihan di beberapa adegan Rudy Habibie. Untungnya dari segi musik, Chakra Khan dan CJR sukses menambah atmosfer film ini menjadi lebih baik lagi dengan lagu mereka yang catchy.

Secara keseluruhan, saya pribadi merasa bahwa Rudy Habibie berhasil melampaui film pertamanya dan kekhawatiran bahwa film ini akan bertele-tele pun lenyap. Indonesia pantas berbangga memiliki tokoh seperti Habibie dengan biopik yang berhasil terekam dengan baik di layar lebar. Oh, dan syukurlah MD Pictures belajar dari kesalahan film pertama dengan product placement mereka karena Rudy Habibie bisa dikatakan bersih dari product placement yang kasar penempatannya dan lebih bermakna tersirat. Such a good job, Manoj Punjabi and crews. Well done!

Artikel Terkait