Koala Kumal: Kisah Komedi yang Sesuai Tagline

by dr. kawe

Koala Kumal: Kisah Komedi yang Sesuai Tagline
EDITOR'S RATING    

Baru dirilis beberapa waktu lalu, Koala Kumal langsung diadaptasi ke layar lebar. Raditya Dika kembali duduk di kursi penyutradaraan dan penulisan naskah setelah sukses dengan Single. Apakah kesuksesan tersebut berulang?

Setelah film Single yang menguji kreativitas Raditya Dika dalam ranah penulisan dan penyutradaraan tanpa diadaptasi salah satu bukunya sekaligus kerja sama pertamanya dengan Soraya Intercine Films, kini pria berkacamata ini kembali ke Starvision untuk lagi-lagi mengadaptasi buku terbarunya menjadi film, Koala Kumal.

Menggandeng Acha Septriasa, Nino Fernandez, dan Sheryl Sheinafia, kisah ini bisa dibilang setipe dengan film-film Dika yang lain dengan kembali mengangkat hubungan asmara. Kali ini, Dika dan Andrea (Acha) adalah pasangan yang berencana menikah. Semua sudah dipersiapkan dengan matang, mulai dari tempat tinggal, undangan, hingga video pernikahan. Namun, tiga minggu sebelum hari H, Andrea mengucap kata putus karena bertemu James (Nino), seorang dokter yang diklaimnya ia cintai. Sakit hati membuat Dika jadi cowok yang buntu ide, bahkan setelah setahun lewat. Di saat itulah, ia berkenalan dengan Trisna, seorang gadis pencinta buku yang punya banyak ide unik untuk balas dendam terhadap James dan Andrea. Namun, di balik itu semua, gadis ceria itu ternyata menyimpan rahasia besar. Apakah itu?

Menggunakan tagline “Sebuah Komedi Patah Hati”, saya pribadi merasa bahwa tagline ini tepat dalam menggambarkan keseluruhan film berdurasi 96 menit ini. Kenapa? Saat orang sedang patah hati, jangankan tertawa, tersenyum pun kadang susah. Malah seringkali dipaksakan. Nah, itulah yang saya rasakan saat menonton Koala Kumal ini.

Lelucon yang disajikan bisa dibilang campuran antara dialog, mimik muka, dan semi slapstick. Namun, semua itu terasa kurang berhasil mengocok perut penonton. Beberapa mungkin terasa lucu, tetapi belum sampai ke tahap terbahak-bahak. Sisanya hanya membuat tersenyum kecil. Dan, kelucuan (yang bagi saya terasa minim itu) kembali dihadirkan melalui orang-orang di sekitar Raditya Dika alih-alih dilontarkan oleh sang tokoh utama. Sayangnya, Dika kali ini memutuskan untuk “mengelilingi” karakternya dengan orang-orang biasa dan bukan komedian standup seperti pada Single. Alhasil, suasana komedi yang ingin ditampilkan malah tidak terbangun sama sekali.

Dari segi akting, Sheryl sebagai pendatang baru cukup mencuri perhatian, dibanding Acha yang malah terlihat biasa saja. Jauh dari standar akting yang sering ia munculkan di film-film drama berkualitas. Dika masih menjadi Dika seperti film-filmnya yang lain, tidak ada peningkatan. Yang sangat disayangkan adalah aktor Dwi Sasono yang hanya kebagian peran singkat meskipun dari segi akting cukup mencuri adegan sebagai editor buku-buku Dika.

Secara keseluruhan, film ini mungkin akan memuaskan bagi penggemar seorang Raditya Dika, tapi tidak penonton secara keseluruhan. Jika Single masih termaafkan dengan treatment-nya yang mewah, kali ini film hanya bergantung pada naskah Dika dan itu tidak bisa dibilang berhasil.

Artikel Terkait