Si anak emas Screenplay Productions, Michelle Ziudith, kembali lagi ke layar lebar. Kali ini, pasangan duetnya adalah Rizky Nazar. Sanggupkah ILY From 38.000 Feet mendominasi perolehan penonton di masa Lebaran?

Nama Michelle Ziudith saat ini bisa dibilang sedang menjadi kartu As untuk Screenplay Productions. Anggapan itu sudah terbukti dengan dua film mereka yang berhasil mencapai angka 890.000-an penonton dan 1,2 juta penonton. Makanya, tidak heran jika untuk amunisi dalam menyambut libur Lebaran, Screenplay Productions yang kali ini menggandeng Legacy Pictures kembali memasang Ziudith sebagai pemeran utama. Setelah dua film sebelumnya berduet dengan Dimas Anggara, kali ini Ziudith mendapat kesempatan beradu akting dengan Rizky Nazar yang juga menjadi lawan mainnya dalam sinetron besutan Screenplay Productions, Alphabet.
Aletta, seorang gadis manis, pergi ke Bali seorang diri. Di pesawat, sayangnya ia harus duduk bersebelahan dengan cowok kampungan yang terus-menerus mengganggunya. Nasib namun berkata lain, berkat gangguan cowok alay itu, Aletta ditolong seorang cowok tampan bahkan hingga diantar ke hotel. Dari perkenalan tidak sengaja mereka, Aletta akhirnya berakhir menjadi host untuk acara Geography Channel yang diproduksi oleh cowok bernama Arga itu dan beberapa temannya. Dari sana, hubungan Aletta dan Arga pun mulai berkembang. Arga akhirnya meminta Aletta untuk pulang dengan janji bahwa ia akan menyusulnya begitu urusan produksi beres. Namun, Arga tidak pernah menepati janjinya dan meninggalkan Aletta dalam kesedihan. Ada apa sebenarnya?

Dibanding London Love Story (LLS), I Love You (ILY) From 38.000 Feet bisa dikatakan lebih baik. Naskahnya memiliki kisah yang jelas dibanding LLS yang hanya terbangun di satu ruang dan waktu saja. Selain itu, ILY berhasil menyajikan kekayaan alam Indonesia yang dikemas dengan cantik melalui tata kamera. Baluran, Bali, Lombok, dan alam bawah laut Indonesia begitu memanjakan mata. Ini tentu saja bisa dikatakan sebagai kemajuan dibanding syuting colongan LLS yang terasa tidak nyaman dilihat karena orang-orang di sekitar karakter yang nampak “sadar kamera”. Dari segi teknis, ILY memang bisa disebut digarap dengan perencanaan yang sempurna. Selain tata kamera dan efek pesawat yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh, segi musik pun kembali juara dengan menggaet Rossa untuk menyanyikan soundtrack-nya. “Jangan Hilangkan Dia” bisa jadi akan bernasib seperti “Percayalah” yang dilantunkan Afgan dan Raisa untuk LLS dan berhasil menjadi salah satu lagu yang paling sering diputar pada Februari kemarin.
Sayangnya, akting Ziudith sama sekali tidak mengalami perubahan dari Magic Hour maupun LLS. Rizky Nazar masih setingkat lebih baik, namun bisa dibilang kalah dari Derby Romero yang tampak dewasa dan keren di sini. Tanta Ginting pun tampak mengurangi kapasitas aktingnya menjadi rata-rata dan Ricky Cuaca hanya diingat karena lontaran leluconnya. Sayangnya, meski naskah ini lebih jelas dibanding LLS, namun beberapa plot hole dan penyelesaian yang terlalu gampang membuat level ILY masih belum beranjak dari “FTV yang dilayarlebarkan”.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ILY From 38.000 Feet akan mengulang kesuksesan LLS, bahkan lebih mengingat masa pemutarannya yang mengambil waktu strategis. Namun, apakah Screenplay tidak tertarik untuk meningkatkan kualitas penceritaan dan hanya stuck di standar yang itu-itu saja? Semoga tidak.
