Bagaimana jadinya kalau para perampok malah harus berjuang untuk bisa keluar dari rumah rampokannya? Untuk bertahan hidup, mereka harus menahan nafas.

Bernafas adalah salah satu cara agar manusia bisa hidup di dunia ini, namun bagaimana jika bernafas malah membuat nyawa kita terancam? Inilah premis yang ditawarkan oleh film besutan Fede Alvarez (Evil Dead) yang akan membuat para penontonnya ikut menahan nafas sepanjang film, Don’t Breathe. Hanya ber-setting di satu tempat dengan jumlah pemain yang bisa dihitung dengan jari, film ini sukses memberikan sensasi tegang dan seru sampai akhir.
Tiga orang anak muda, Alex (Jane Levy), Rocky (Dylan Minette), dan Money (Daniel Zovatto) merupakan perampok yang sering mengincar rumah kosong yang sedang ditinggal penghuninya. Mereka mengincar rumah yang keamanannya dipegang oleh perusahaan tempat ayah Rocky bekerja. Tindakan mereka selalu sukses dan berjalan lancar hingga mereka ingin meraup lebih banyak lagi. Berdasarkan informasi yang mereka terima dari penadah, mereka menargetkan sebuah rumah yang hanya dihuni seorang pria tua yang buta.
Pria itu dikabarkan mempunyai simpanan uang yang banyak hasil dari kompensasi yang ia terima dari pelaku yang membunuh anaknya secara tidak sengaja dalam kecelakaan. Setelah mengamati selama beberapa hari Alex, Rocky, dan Money memutuskan untuk segera beraksi pada malam hari. Lingkungan target yang jauh dari mana-mana, hanya ditinggali oleh pria tua buta, dan uang yang besar untuk sekali rampokan. Ini terlihat mudah di mata mereka, sampai akhirnya mereka mengetahui apa rahasia yang disimpan si pria dan sekarang mereka justru harus berjuang keluar dari rumah tersebut.
Tegang, mengaduk emosi, serta berbagai elemen kejutan yang ada membuat Jelata yang menonton film ini pun akan ikut menahan nafas, mengikuti apa yang terjadi pada para tokoh. Melihat bagaimana mereka bertahan hidup akan membuat Jelata lupa jika di awal merekalah penjahat yang ingin merampok rumah tersebut. Berbagai twist menarik juga akan memberikan kejutan sepanjang cerita berjalan. Dijamin yang tidak terbiasa akan merasa lelah setelah menonton film ini. Selama 88 menit, kalian akan dibawa naik-turun secara emosi melihat nasib para tokoh di film ini.

Dalam film yang setting lokasinya terbatas maka kreativitas sutradara dan krunya sangat dibutuhkan. Di sini, sineas Alvarez banyak menggunakan long take yang membuat kita seolah-olah berada di dalam rumah tersebut. Pergerakan kamera yang dinamis mengikuti gerakan para tokoh juga memberi kita pandangan yang bagus serta kejutan tak terduga yang membuat kaget, tanpa perlu diberi tambahan efek suara. Ya, efek suara adalah salah satu elemen yang minim dalam fim ini, namun itu membuat penonton merasa lebih masuk ke dalam suasana yang dialami para tokohnya. Keheningan yang tercipta pada adegan-adegan genting membuat kita yang menonton ikut menahan nafas menunggu apa yang akan terjadi. Saking heningnya, kita akan bisa mendengar tarikan nafas orang-orang sekitar.
Bagi Jelata yang suka film thriller, tentu film ini harus ditonton di bioskop. Jangan ajak teman yang berisik saat menontonnya karena hanya akan merusak suasana tegang yang terbangun. Jangan bawa makanan ke dalam karena saat adegan hening, suara kunyahan Jelata akan terdengar satu teater. Lalu, bersiaplah untuk menahan nafas.