Persahabatan Lintas Ruang dan Waktu dalam Doraemon: Nobita and the Birth of Japan

by Ireuna

Persahabatan Lintas Ruang dan Waktu dalam Doraemon: Nobita and the Birth of Japan
EDITOR'S RATING    

Doraemon, Nobita, dan kawan-kawan kali ini berpetualang menjelajah Jepang pada masa 70.000 tahun yang lalu dan bertemu teman baru.

Satu hal yang paling membekas dari Jepang, selain bunga sakura-nya, tentu adalah manga dan anime-nya. Dan kalau sudah bicara manga dan anime, tak heran kalau yang paling diingat adalah Doraemon. Wajar saja, manga ciptaan Fujiko F. Fujio ini sudah menemani lebih dari 32 tahun. Doraemon telah menemani sejak 1969 saat komik pertamanya terbit.

Sampai saat ini, Doraemon masih menjadi salah satu karakter paling populer—tak hanya di Jepang, tetapi juga di dunia. Kepopulerannya ini tak lekang oleh waktu sehingga filmnya pun sampai sekarang masih terus tayang di layar lebar. Tahun ini, ada Doraemon: Nobita and the Birth of Japan yang tayang di seluruh bioskop Tanah Air pada Februari 2017.

Shinnosuke Yakuwa, sang sutradara, membawa penonton ke masa jauh sebelum Jepang terbentuk. Dengan mengangkat sedikit latar belakang sejarah Jepang yang sebelumnya menyatu dengan daratan Tiongkok, film ini menjadi film anak-anak yang cukup edukatif. Penggarapannya juga bisa dibilang cukup rapi dengan memerhatikan berbagai detail penting, seperti bahasa dan cara penggunaan alat-alat.

Dalam film ini, awalnya ada seorang anak dari masa prasejarah diceritakan terdampar dalam pusaran waktu yang tak stabil. Akibatnya, dia terperangkap pada masa sekarang di Jepang. Sementara itu, Nobita, Doraemon, Shizuka, Suneo, dan Giant merasa benci kepada ‘rumah’ mereka dan ingin tinggal di tempat yang sama sekali tak ada orangnya.

Hasilnya, mereka memutuskan untuk pergi ke masa 70.000 tahun yang lalu dan berpetualang di sana, merasakan nikmatnya kebebasan. Namun, ternyata pada masa itu,  mereka harus bertemu dengan penyihir, Gigazombie, yang menyimpan rahasia besar. Pada akhirnya, mereka harus mengalahkan penyihir itu dan menyelamatkan Jepang pada masa 70.000 tahun yang lalu.

Doraemon: Nobita and the Birth of Japan menghadirkan kisah yang ringan dan menyenangkan. Film ini membawa penonton menikmati petualangan anak-anak murni yang penuh canda tawa dan jiwa optimis. Humor yang dilontarkan pun sangat khas anak-anak, polos dan menggemaskan, sehingga mampu membuat anak-anak bahkan orang dewasa tertawa lepas.

Terlepas dari itu, film ini juga mengangkat hal yang mungkin dialami oleh anak-anak, namun seringkali diabaikan oleh para orang tua. Orang tua seringkali merasa harus mengatur anak mereka sedemikian rupa sehingga menjadi sosok yang sesuai keinginan mereka. Demi mencapai hal itu, para orang tua seringkali melupakan perasaan anak-anak mereka.

Anak-anak butuh kebebasan. Masa kecil mereka tak melulu harus dihabiskan dengan belajar, terus-terusan membantu orang tua, sampai mengabaikan kenyataan bahwa dunia anak-anak seharusnya penuh keceriaan bermain. Karena itulah, saat Nobita dan kawan-kawan, bahkan Doraemon, sudah merasa ‘rumah’ mereka tak lagi nyaman, mereka memutuskan untuk pergi ke tempat mereka bisa menikmati kebebasan yang sesungguhnya.

Untunglah ini adalah salah satu film Doraemon sehingga petualangan Nobita dan kawan-kawan terlihat alami dan tak dipaksakan. Bahkan, setiap kali Doraemon mengeluarkan berbagai peralatan abad 22, Jelata akan terkesan melihat idenya. Terakhir, yang tak boleh dilupakan adalah animasinya yang cerah, namun tetap memanjakan mata.

Menghabiskan akhir pekan bersama keluarga akan seru jika Jelata mengisi dengan menonton film ini di bioskop. Selamat menonton!

 

Artikel Terkait