Salah satu buku travelling yang diangkat dari blog dan sukses diterbitkan hingga berseri-seri ini mendapat treat di layar lebar.
aat mendengar kabar bahwa buku favorit saya, The Naked Traveler, akan difilmkan, saya tentu saja langsung kegirangan dan tidak sabar akan jadi seperti apa filmnya. Masalahnya, buku TNT ini salah satu buku travelling favorit. Alih-alih membahas secara detail total biaya, penerbangan yang oke, sampai objek wisata yang sudah diketahui sejuta umat, Trinity memilih untuk menuliskan pengalamannya yang unik dengan gaya bertutur santai dan terkadang nyeleneh di negara yang dia kunjungi. Setiap baca bukunya, saya nggak pernah nggak ngakak. Itulah yang membuat saya ragu, apakah filmnya bisa memiliki “nyawa” yang sama?
Sayangnya, jawabannya tidak. Cerita nyaris berjalan datar di ¼ awal kisah. Kelucuan dan keunikan bertutur Trinity yang tertuang dengan begitu dinamis di bukunya seakan menguap begitu saja dan malah berubah menjadi narasi yang biasa saja. Scene stealer di awal justru muncul lewat kemunculan cameo Trinity sebagai pemandu guide Krakatau. Selebihnya, saya belum menemukan hal-hal menarik dari film ini selain “menjual” sinematografi yang menawan.

Cerita baru mulai menarik saat memasuki pertengahan saat bermunculan Nina, Yasmin, dan Ezra. Jujur saja, interaksi ketiga tokoh ini berhasil memberikan nyawa tersendiri bagi film ini. Kalimat judes Yasmin, Nina yang menengahi, hingga Ezra yang terlihat norak terasa membumi. Dan memang, sebagai orang yang pernah beberapa kali travelling, jalan sambil disetir dengan bucket list orang lain itu nggak seru. Jadi, saya paham benar sewaktu Yasmin ngomel panjang-lebar.
Meskipun hanya mengangkat beberapa kota dan negara yang disinggahi oleh Trinity, namun bukan itu permasalahannya. Saya berharap pihak produser dan penulis naskah bisa menangkap esensi kenapa buku The Naked Traveler bisa begitu digandrungi. Bercerita dari sudut pandang yang berbeda, memberikan pengetahuan unik yang jarang bisa ditemui di buku (atau film) travelling lain, hingga interaksi Trinity dengan masyarakat lokal. Semua itu sangat disayangkan tidak tertuang dalam film ini hingga meski bagus, namun film ini kurang bisa mengangkat nyawa bukunya.