Here is Harold Tampilkan Komedi Satire yang Manusiawi

by Irna Gayatri

Here is Harold Tampilkan Komedi Satire yang Manusiawi
EDITOR'S RATING    

Film yang diputar pada penutupan Europe on Screen ini sukses mengundang gelak tawa penonton.

Film tentang seorang laki-laki tua yang hidup hanya bersama istrinya yang pikun mungkin akan mengundang simpati. Namun, Here is Harold tak berharap mendapatkan simpati, melainkan hanya perhatian yang sewajarnya dari para penontonnya. Film Norwegia garapan ini menawarkan

Here is Harold atau Her er Harold mengisahkan Harold (Bjorn Sundquist), seorang pria tua pebisnis furnitur yang merasa hidupnya hancur setelah IKEA membuka toko baru di samping tokonya. Bisnis kecilnya yang sukses dijalaninya selama 40 tahun langsung hancur. Istrinya yang sudah pikun meninggal dan rumahnya diambil alih oleh bank. Saat itu, Harold merasa hidupnya tak bermakna lagi. Namun, segera saja ia melimpahkan kemarahannya akan kehidupan yang tak adil ini kepada pemilik IKEA, Ingvar Kamprad (Bjorn Granath).

Di luar dugaan, film ini bisa jadi cukup menghibur dengan humor yang cenderung gelap dan satire, menyindir tak hanya masalah yang ditimbulkan oleh industri besar, tetapi juga masalah keluarga.Harold nyatanya tidak sendirian di dunia ini. Dia memiliki anak yang tinggal di Norwegia dan berprofesi sebagai jurnalis. Namun, hubungan kedua jauh dari kata dekat. Anaknya tinggal bersama istri dan anak-anaknya, namun hampir tak pernah mengunjungi orang tuanya. Ini jadi masalah yang cukup menarik di awal film.

Bukan hanya itu, pertemuan Harold dengan Ebba juga menunjukkan kecenderungan film ini untuk mengangkat permasalahan keluarga. Ebba hanya gadis biasa yang memiliki seorang ibu dengan emosi labil. Ia merasa bertanggung jawab atas ibunya, namun tak jarang ia lelah karena hal itu nyatanya cukup merepotkan. Ia jadi tak bisa menikmati hidup seperti anak-anak perempuan lainnya karena suatu ketika ia mungkin harus membawa pulang ibunya yang sedang mabuk di jalan.


Pertemuan ini menarik. Isi kepala Harold yang tadinya hanya menculik Kamprad untuk balas dendam kepadanya pun berubah. Ia jadi punya alasan untuk melupakan hal itu dan malah berbalik membantu Ebba. Harold hanya laki-laki tua yang tak tega melihat keadaan yang begitu tidak mendukung mereka. Ia kesal karena Kamprad menjual furnitur dengan harga murah, namun kualitas jelek. Ia iba karena Ebba memiliki masalah yang membuatnya menangis pada malam hari. Sementara itu, Kamprad yang begitu menikmati penculikan dirinya pada dasarnya juga tak sebahagia itu. Sebagai pemilik IKEA, ia menghadapi masalah human traficking dan sebenarnya membutuhkan penculikan itu untuk mengangkat namanya.

Pada akhirnya, yang ditawarkan Here is Harold adalah humor satire yang menertawakan manusia. Film ini menertawakan betapa manusia kadang mudah merasa tertekan. Film ini memiliki Kamprad yang selalu pragmatis yang diperanakn dengan sangat baik oleh . Jiwa pragmatis Kamprad membuatnya cukup menjadi karakter yang layak disalahkan, namun juga tidak. Kamprad membuktikan bahwa, suka atau tidak suka, bisnis selalu jadi sesuatu yang kotor.

Meski pada akhirnya sempat kehilangan tempo dan kelihatan berhenti di tengah jalan, Here is Harold punya plot yang cukup asyik dinikmati. Lambat memang, khas film-film Skandinavia. Gloomy? Tidak. Film ini cukup hangat meski hampir di sepanjang film kalian hanya ada salju.

Here is Harold Memang bukan tipikal film populer, namun plotnya masih bisa dinikmati tanpa membuat alis berkerut karena terlalu banyak berpikir. Film ini cukup sukses mengocok perut tanpa perlu menjual adegan slapstick atau humor kotor. Film ini sukses menjadi penutup yang menyenangkan untuk Europe on Screen 2017.

Artikel Terkait