Banteng harus bertarung? Bagaimana jika seekor banteng tak suka kekerasan dan hanya menyukai bunga? Di sinilah Ferdinand bermain dengan kisah yang sederhana dan alur yang ringan.
Jelang
liburan natal dan tahun baru, sudah biasa jika banyak film keluarga yang rilis.
Namun, jarang sekali film yang mau bersaing langsung dengan Star Wars dalam hal waktu rilis. Meski
begitu, 20th Century Fox dan Blue Sky Studios tak ragu membawa Ferdinand rilis pada minggu yang sama dengan Star Wars: The Last Jedi. Lantas, apakah membiarkan Ferdinand bersaing dengan The Last Jedi adalah keputusan tepat?
Bagi
saya, saya cukup yakin bahwa Ferdinand tak
akan mudah kehilangan penontonnya. Kisah yang ringan, humor yang segar, kebudayaan
yang diangkat, dan pelajaran singkat yang bisa diambil di dalamnya membuat Ferdinand garapan Carlos Saldanha (Ice Age, Rio) tak
kalah dengan Coco produksi Disney
yang rilis bulan lalu. Meski tak sepenuhnya mengangkat kebudayaan Spanyol
terkait tradisi matador, Ferdinand cukup
cerdas menggambarkan bahwa setiap orang boleh punya pilihan berbeda, meski
pilihan itu tidak seperti orang kebanyakan.

Ferdinand diadaptasi dari buku bergambar anak klasik berjudul The Story of Ferdinand karya Munro Leaf dna Robert Lawson. Buku klasik ini telah diterbitkan lebih dari 75 tahun dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 16 bahasa. Meski tak sepopuler dongeng-dongeng yang diadaptasi dalam film animasi Disney, buku klasik ini termasuk dalam 100 Buku Anak Terbaik Sepanjang Masa versi majalah TIME.
Ferdinand
(John Cena) adalah seorang banteng baik hati yang lebih suka mencium wangi
bunga dibandingkan beradu di arena pertarungan layaknya banteng lainnya. Dia
tak pernah bermimpi bertarung di arena matador seperti teman-temannya. Dia hanya
tak suka berkelahi, namun dibesarkan sebagai banteng petarung. Tak ingin
menerima nasibnya seperti itu, Ferdinand kabur. Beruntunglah dia ditemukan oleh
Nina (Lily Day) dan ayahnya, Juan (Juanes), keluarga pengrajin bunga yang mau
menerima Ferdinand sebagaimana dirinya.

Namun,
banteng pada dasarnya adalah hewan yang menakutkan. Ferdinand yang telah tumbuh
menjadi banteng besar membuat banyak orang ketakutan. Meski berusaha meyakinkan
bahwa dirinya bukanlah banteng yang jahat, Ferdinand tetaplah terlihat seperti
banteng liar yang ganas dan siap mengamuk. Namun, justru mulai dari sinilah
petualangan lucu dan menegangkan Ferdinand dimulai.
John
Cena secara tak disangka berhasil menjadi Ferdinand yang lembut hatinya. Namun,
yang lebih tak terduga lagi, Kate McKinnon mampu mengocok perut dengan perannya
sebagai Lupe, seekor kambing tua yang banyak bicara. Karakter Lupe seperti
karakter pembimbing karakter utama yang bisa jadi pusat perhatian melebihi
karakter utamanya karena berbagai tingkah konyolnya. Namun, Ferdinand tak hanya lucu karena tingkah
konyol para karakternya. Situasi kartunis yang menggeletik juga menjadi daya
tariknya. Bayangkan saja, bagaimana mungkin seekor banteng besar berpikir
tubuhnya kurus saat dia berusaha melewati toko piring antik. Belum lagi battle dance kuda dan banteng yang tentunya
jadi logika naratif yang cerdas.

Alur
cerita yang mudah diikuti juga membuat film ini adalah pilihan tepat untuk
anak-anak. Kisahnya sederhana, namun memberikan gambaran yang mudah soal tak
perlu malu menjadi diri sendiri; nilai yang akan selalu relevan sampai kapan
pun. Kemudian, suasana latin pun terbangun melalui pilihan musiknya. Jadi,
meski tak mengeksplorasi tempat ikonik di Spanyol, seperti Madrid yang hanya
disorot menjelang akhir film—pilihan musiknya berhasil membangun suasana budaya
Spanyol.
Ferdinand memperluas
kisah beberapa halaman buku bacaan anak menjadi petualangan seru berdurasi 107
menit ini. Meski memang tak terhindar dari slapstick
dan beberapa bahkan hampir memasuki ranah dark humor, Ferdinand berhasil
tampil sebagai film anak-anak yang manis dan menyenangkan. Anak-anak dan keluarga
bisa menikmati film ini saat berakhir pekan.
