The Predator Mencoba Lebih Baik, Namun Gagal

by Prima Taufik

The Predator Mencoba Lebih Baik, Namun Gagal
EDITOR'S RATING    

Reboot yang berpotensi menutup franchise ini

Setelah Predator dan Predator 2, sepertinya franchise pemburu dari luar angkasa ini mulai mengalami penurunan. Berkali-kali percobaan yang dilakukan untuk membangkitkan kembali franchise ini menemui kegagalan. Bahkan mereka sempat menggabungkannya dengan franchise Alien yang juga mulai sekarat dalam Alien vs Predator, tapi hasilnya juga tidak memuaskan. Terakhir, Predators yang dibintangi Adrien Brody dan Laurence Fishburne juga gagal. Tak patah arang, 20th Century Fox kali ini mempercayakan franchise sekarat ini pada Shane Black yang pernah bermain bersama Arnold di Predator pertama dan menggawangi Iron Man 3 yang tembus miliaran dolar.

Bujet produksi sepertinya menghalangi Shane Black untuk mengoptimalkan visinya atau memang dari Fox film ini ditujukan untuk bujet yang minimal. Terlihat dari para pemain yang dipilih untuk bermain di film ini tidak ada satupun yang memiliki aura kebintangan. Mungkin tujuan Black adalah fokus ada sisi aksi sehingga bujet untuk pemain bisa ditekan. Namun, apakah aksinya memuaskan? Kita bahas nanti. Hanya Olivia Munn mungkin nama pemain yang familiar di telinga orang awam, sisanya adalah pendatang baru atau bintang yang naik dari TV.


Sebenarnya pemilihan pemain ini tampak tidak terlalu berpengaruh karena fokus di film ini ada pada aksinya. Namun entah bagaimana sisi aksi ini justru mengorbankan pendalaman karakter tiap pemain. Semuanya tampak ingin menjadi jagoan dan melakukan hal keren walau tidak sesuai porsi. Bahkan orang dengan background ilmuwan di film ini bisa beraksi layaknya Rambo yang sudah puluhan tahun hidup di medan perang. Mungkin Shane Black ingin melepaskan beberapa stereotipe tertentu atau hanya ingin tokoh utamanya tidak mati saat menghadapi hal mustahil.

Untuk mengimbangi banyaknya adegan aksi, Black mencoba membuat film ini tetap ringan dengan memasukkan banyak adega komedi. Saking banyaknya seolah film ini di setiap adegan harus ada hal lucu yang mengikuti. Beberapa memang lucu, namun lebih banyak yang garing dan mengganggu. Para tokohnya juga seperti berebut untuk mengucapkan dialog, beberapa tokoh pendukung yang mungkin memang di-set untuk lucu kadang mengganggu dialog utama dengan komentar-komentar mereka di latar belakang. 

Tujuan film semacam The Predator ini tentu adalah aksi baku hantam yang membuat penonton menahan nafas dan berdecak kagum. Untuk itu, Shane Black yang mengusung rated R untuk film ini berhasil membuat adegan aksi yang keras, brutal, dan sadis. Ceceran darah dan organ dalam sering tampil menghias layar. Sang predator pun tampil dengan ganas dan tanpa ampun. Sayangya, sedikit kelebihan ini sering terganggu oleh lelucon dan editing yang tampaknya lompat dan terlalu cepat. Black tidak menyiapkan penonton untuk meresapi kejadian di layar, namun dengan cepat aksi berpindah membuat penonton tidak memiliki kepedulian pada karakternya.


Sejatinya The Predator ini tidak buruk tetapi alangkah baiknya jika memang ingin brutal dan ganas tidak perlu tanggung-tanggung. Bawa penonton kembali menikmati Predator yang kembali ke akarnya, yaitu survival horor dengan cerita dan konsep yang lebih matang. Namun, melihat bagaimana akhir film ini tampaknya akan sangat lama lagi bagi kita untuk bisa menikmati seri Predator berikutnya.