Jadi orang pertama memang berat, apalagi di Bulan
Damien
Chazelle merupakan sutradara muda yang sudah terbukti kapasitasnya. Hampir
semua karyanya masuk dalam nominasi Academy Award. Terakhir, La La Land yang menuai banyak pujian dan
penghargaan. Kali ini, masih dalam tema yang serius, Chazelle mencoba
memfilmkan biopik manusia pertama yang “katanya” berjalan di bulan, Neil
Armstrong. Memang banyak orang yang tidak tahu siapa Neil Armstrong ini selain
dari kisah legendarisnya. Terlepas dari benar atau tidaknya manusia pernah
mendarat di bulan, legenda ini sudah terlanjur diakui kebenarannya. Jadi apa
yang ditawarkan Chazelle?
Film
dibuka dengan adegan epik saat Armstrong yang diperankan oleh aktor langganan
Chazelle, Ryan Gosling, menjadi pilot uji coba pesawat ulang alik. Kita dibawa
seolah-olah ikut mengalami kejadian menegangkan secara langsung dari mata sang
pilot. Namun, adegan pembuka ini ternyata hanya percikan kecil dari keseluruhan
film yang datar dan nyaris membosankan.
Neil
digambarkan sebagai sosok pendiam yang nyaris anti sosial, jarang bergaul, dan
sering menatap bulan. Karakternya semakin menuju akhir film semakin menutup
diri hingga pada keluarganya sendiri. Tidak ada keceriaan sedikitpun dari wajah
orang ini padahal ia akan menuju bulan dan meninggalkan keluarganya tanpa
kepastian apakah dia akan kembali dengan selamat. Semenjak putrinya meninggal, karakter
Neil menjadi monoton dengan wajah yang selalu bersedih, seolah-olah ia tidak
peduli lagi pada apapun dan hanya fokus pada pekerjaan. Masalahnya, film ini
mengambil rentang waktu yang cukup panjang dari perjalanan karir Neil Armstrong
saat masih menjadi pilot hingga menjadi ketua grup astronot untuk proyek Apollo
11, namun karakternya nampak stagnan.

Akting
yang baik justru ditampilkan oleh Claire Foy yang menjadi istri Neil Armstrong
yaitu Janet. Ia bisa menjadi istri yang bahagia hingga menjadi istri yang lelah
akan kelakuan suaminya yang tidak berubah-berubah. Ekspresinya sangat kentara
dan masuk ke perasaan penonton.
Entah apa yang ada di benak Chazelle, ia terlalu banyak mengambil shoot zoom ke wajah para pemain. Jika hanya untuk menunjukkan ekspresi tampaknya