Adaptasi manga yang memukau dan cukup memuaskan.
Sebuah kepala robot ditemukan dokter Dyson Ido di
pembuangan sampah Iron City. Saat dipindai, ternyata otaknya masih berfungsi.
Dokter Ido pun memutuskan membawa pulang kepala robot tersebut dan dipasangkan
ke badan cyborg dan memberinya nama Alita. Ternyata, Alita bukan cyborg
perempuan biasa karena ia memiliki kemampuan bela diri tinggi dan menyimpan rahasia
tentang masa lalunya. Namun, keberadaan Alita mengusik Vector, penguasa Iron
City. Alita pun harus menghadapi berbagai musuh yang ingin menghabisinya.
Mundur dari bulan Desember ke Februari untuk perilisannya
merupakan keputusan yang tepat. Selain minim saingan berat, efek CGI dan 3D Alita: Battle Angel pun tampil dengan
sangat memuaskan. Motion-capture Alita
(Rosa Salazar) menyatu dengan aktor-aktris manusia di sekitarnya. Efek pada
kulit dan mata yang persis manusia asli mengingatkan kita pada Final Fantasy: Spirit Within. Tidak
salah memang jika James Cameron menunggu waktu lama hingga teknologi sudah
lebih berkembang untuk membuat Alita.
Hasilnya benar-benar memanjakan mata (terutama jika kita menonton dengan format
IMAX 3D).

Lima belas menit pertama film terasa berjalan agak
lambat dan bisa dibilang membosankan. Perkenalan terhadap Iron City dan
orang-orang di sekitar Alita, baik protagonis mau pun antagonis. Namun, setelah
Alita terlibat dalam pertarungan pertamanya dengan Grewishka dan Nyssiana di lorong gelap, pace cerita pun langsung berjalan dengan
cepat. Bisa dibilang, daya tarik film ini ada pada beberapa adegan pertarungan yang
cepat dan membuat penonton menahan napas. Puncaknya, tentu ada pada
pertandingan Motorball yang menegangkan.
Namun, meski dihiasi
sederet pertarungan yang mengagumkan dan bertabur CGI mewah, cerita Alita bisa dibilang biasa saja. Tidak ada twist lebih yang ditawarkan. Musuh utama Alita
pun tidak dikeluarkan di sini. Sosok Nova yang memiliki peran besar dalam
kehidupan Alita di masa lampau disimpan untuk dimunculkan di sekuel (jika film
pertamanya ini sukses besar). Mahershala Ali dan Jennifer Connelly yang seharusnya
tampak memegang peran penting ternyata “diakhiri” begitu saja. Jika sekuelnya
memang jadi dibuat (mungkin dalam tiga-empat tahun lagi), tim produksi harus
bisa menghadirkan musuh yang lebih mengancam daripada Grewishka dan pertarungan
yang lebih seru dari Motorball.
Bisa dibilang, di
antara adaptasi manga Jepang, Alita:
Battle Angel tampil dengan sangat memuaskan (bandingkan dengan Dragon Ball: Evolution). Film ini sanggup membuat kita duduk dengan sabar dan menyaksikan usaha Alita memerangi kejahatan. Kecewa
dengan akhirannya yang menggantung? Itu soal lain.
