Tonton dan tertawa, tapi jangan harapkan apa-apa
Nama Rachmania Arunita dan Shandy Aulia jika disebut
bersama-sama akan mengingatkan kita pada film Eiffel, I’m in Love yang diadaptasi dari novel milik Rachmania ini.
Film yang rilis pada tahun 2003 ini bisa dibilang merupakan pembuka bagi adaptasi
novel-novel remaja yang menjamur setelahnya. Produksi Soraya Intercine Films
ini sukses ditonton 2 juta pasang mata dan membuat Shandy Aulia dan Samuel
Rizal menjadi pasangan yang popularitasnya nyaris menyamai Dian Sastro-Nicholas
Saputra. Kini, Rachmania dan Shandy kembali bekerja sama dalam sebuah film
berjudul Cinta Itu Buta, namun kini
dengan pemeran utama Dodit Mulyanto.
Diah adalah seorang pemandu tur di kota Busan, Korea
Selatan. Ia berpacaran dengan seorang pria Korea bernama Jun-ho yang suatu hari
melamarnya. Namun, pernikahan yang Diah harapkan tidak kunjung terjadi. Hingga
suatu hari, Diah memergoki pacarnya ini berselingkuh dengan sahabatnya. Saat
sedang patah hati, tiba-tiba Diah pingsan dan menderita kebutaan sementara
akibat tertekan. Di tengah kebutaannya, seorang pria bernama Nik terus-menerus
datang ke rumah Diah untuk mengantarkan makanan dan meluluhkan hati gadis ini.
Apakah Nik berhasil?
Telat panas. Itulah istilah yang tepat untuk film ini.
Setengah jam pertama, film terasa sangat membosankan. Shandy Aulia masih
terjebak dengan akting kenesnya seperti Tita di Eiffel, I’m in Love 2 sehingga tidak menunjukkan karakter yang kuat
sebagai Diah yang tinggal sendirian di Busan dan harus bekerja demi hidup.

Film ini memang dikisahkan total berlatar belakang di Korea
meski tidak mencantumkan embel-embel nama ‘Busan’ atau ‘Korea’ di judulnya. Mata
penonton dimanjakan dengan pemandangan indah Busan yang sedang memasuki musim
gugur. Sayangnya, latar Korea ini justru tidak berpengaruh banyak dalam
filmnya. Kalau pun misalnya diubah ke negara di Asia Tenggara, seperti
Singapura, Malaysia, atau Vietnam mungkin tidak ada bedanya. Bahkan, dijadikan
citarasa lokal, seperti Yogyakarta atau Malang juga mungkin. Tidak hanya itu,
rasanya aneh saat di sebuah adegan, Diah menjelaskan objek wisata kepada
pasangan lansia Korea dengan bahasa Inggris. Sebagai pemandu tur, apalagi yang
dipandunya adalah orang Korea di negara Korea, tentu Diah dituntut untuk menggunakan
bahasa setempat.
Penulis naskah juga seakan melupakan begitu saja latar
belakang Diah. Apa yang dilakukannya di Korea hingga berakhir menjadi pemandu
wisata? Apakah dia mahasiswa atau memang WNI yang sedang mengadu nasib di negara
orang? Penonton hanya diberi sekelumit cerita bahwa orangtua Diah sudah
meninggal dan ia punya kakak perempuan yang tinggal di Yogya. Sosok Dodit pun
sama misteriusnya. Tidak jelas bekerja sebagai apa, selain dikisahkan punya
tunangan yang direbut temannya hingga memutuskan untuk kabur ke Korea. Di Korea
pun, ia hidup menggelandang dan mabuk-mabukan, namun sanggup menyewa rumah
besar.

Masalah kebutaan yang menimpa Diah pun tampaknya tidak
menjadi masalah besar karena Diah menerima dengan ikhlas. Tidak ada adegan Diah
meratap dan histeris. Ia menerima kebutaannya dengan tenang dan seakan langsung
ahli menggunakan tongkat dan “menebak” wajah orang lewat sentuhan. Film ini
memang mengenyampingkan hal yang berpotensi menjadikan film ini berat dan kelam
serta memilih untuk fokus pada usaha PDKT Dodit dengan komentar-komentar
konyolnya. Beberapa celetukan Dodit memang sanggup memecah tawa, namun
sayangnya ending film ini sangat
sinetron dan klise.
Cinta
Itu Buta memang cukup menghibur. Tapi, jika ingin ada kisah cinta
mendayu-dayu ala drama Korea, buang jauh-jauh harapan itu. Nikmati, tertawa,
dan jangan pikirkan logika.