Jin dan Jun: Cerita Potensial dengan Konsep Asal

by Redaksi

Jin dan Jun: Cerita Potensial dengan Konsep Asal
EDITOR'S RATING    

Adaptasi kurang berhasil dari sinetron lawas

Tidak butuh banyak pemikiran untuk menjadikan IP yang pernah populer di masanya didaur ulang menjadi IP yang diharapkan bisa digandrungi di masa sekarang. Tujuannya, sudah tentu meraih penonton yang terpikat nostalgia dan meraup keuntungan yang banyak. Apalagi, IP terkenal tidak perlu promo berlebihan karena orang-orang sudah tahu dengan IP tersebut. Tugas PH adalah tidak hanya membuat IP lama tersebut relevan bagi penonton baru, tapi juga memuaskan rasa nostalgia penggemar lama. Sayangnya, hal ini gagal dilakukan MVP Pictures sebagai pemilik IP lawas Jin dan Jun yang dulu superpopuler di masanya. Kenapa?

Ada beberapa hal dari film terbaru Jin dan Jun yang membuatnya sulit diterima di banyak sisi. Pertama, konsep jinnya itu sendiri. Anggy Umbara dan tim mencoba menampilkan gaya baru untuk Jin yang di sinetron awalnya sangat kental dengan nuansa Timur Tengah. Alih-alih, Anggy membuatnya mirip dengan karakter dewa kematian Ryuuk dari manga Death Note. Begitu pula saat tampil sebagai sosok manusia yang diperankan Dwi Sasono, lebih mirip rocker ketimbang Jin. Konsep-beragam inilah yang membuat Jin terbaru ini sulit untuk bisa relate dengan penonton lama, sedangkan para penonton baru mungkin tidak menganggapnya mengesankan. Padahal, sosok Om Jin ini di sinetronnya cukup ikonik.


Stereotip bahwa karakter utama yang cupu harus ditemani sidekick berisik yang sok asyik dan perlu mengomentari berbagai hal malah membuat kita kesal. Belum lagi gerombolan pembully yang lebih cocok jadi anak baik-baik daripada perundung. Itu masih ditambah percintaan klise ala sinetron yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan plot. Kurangnya pengembangan karakter juga membuat kita tidak simpatik sama sekali dengan mereka. Selain, Jin dan Jun, karakter lainnya terasa benar-benar jadi pelengkap plot saja. Muncul sekadarnya, tidak meninggalkan bekas sama sekali. Bahkan, penonton mungkin tidak sadar kalau beberapa karakter tiba-tiba hilang dan baru muncul lagi di akhir cerita.

Seharusnya film drama komedi, apalagi yang membawa unsur nostalgia, dipenuhi sisipan yang membuat penonton terbawa kenangan saat melihat versi aslinya dahulu. Tapi, itu tidak terasa sama sekali di sini. Kalau pun judulnya tidak memakai Jin & Jun, orang tetap bisa menikmatinya sebagai sebuah film yang berdiri sendiri. Sebegitu minimnya unsur nostalgia di film ini. Kekurangan juga terasa dari segi musik. Berusaha ingin memasukkan soundtrack aslinya, musik itu malah bercampur dengan musik-musik lain yang memekakkan telinga. Bahkan, di beberapa bagian, tidak sinkron dengan adegan. 


Dari cuplikan di ending, tampaknya MVP Pictures berambisi untuk menjadikan semua sinetron fonemal mereka menjadi satu universe dengan cerita yang besar. Namun, sebaiknya jangan terlalu gegabah. Jikalau memang ingin melanjutkan universe, sebaiknya mematangkan konsep dan naskah, bukan sekadar mengejar nostalgia yang setengah-setengah. Bagusnya, di film ini mereka mendapatkan Rey Bong untuk menjadi Jun yang aktingnya tampak paling normal dan menonjol di antara yang lain.