Barbie tidak cuma boneka pirang dengan banyak profesi. Di balik itu, ada pemikiran yang mendalam.
Mengadaptasi Barbie, yang menjadi ikon budaya pop di seluruh dunia ke dalam film, bisa dibilang bukan hal mudah. Barbie memang punya berbagai macam profesi, teman, dan aksesori, tapi tidak pernah punya cerita atau latar belakang yang jelas dan utuh. Berbeda dengan Transformers yang memang sudah punya fondasi cerita dan tinggal dikembangkan saja. Memang, film animasi Barbie sudah banyak bertebaran. Tapi, memindahkan itu ke layar lebar jelas bukan pilihan karena kebanyakan berfokus pada kisah fantasi. Hadirlah sosok Greta Gerwig dan pasangannya, Noah Baumbach, yang berani menyuguhkan kisah Barbie yang terlihat ringan di awal, tapi terasa filosofis menjelang akhir.
Barbie tinggal di sebuah pulau, Barbie Land, bersama Barbie-Barbie lainnya. Selain para Barbie, ada pula para Ken. Mereka hidup damai dan tenang, menjalankan rutinitas sehari-hari tanpa ada gangguan berarti. Suatu hari, Barbie mengalami kondisi aneh: berpikir soal kematian, air mandinya dingin, wafel sarapannya gosong, kakinya datar, dan mengalami selulit! Demi mencari tahu yang terjadi, Barbie pun menemui Barbie Aneh di atas bukit. Menurut Barbie Aneh, hal ini terjadi karena pemilik Barbie membayangkan hal-hal tersebut sehingga berpengaruh terhadap Barbie. Barbie Aneh pun mengutus Barbie untuk ke Dunia Nyata guna mencari pemiliknya dan membuat mereka bahagia lagi agar hidup Barbie kembali normal. Namun, benarkah semudah itu?
Keberanian Mattel dan Warner Bros. untuk memilih Greta Gerwig sebagai sutradara film ini patut diacungi jempol. Pasalnya, dua film sebelumnya, Lady Bird dan Little Women, dipenuhi karakter wanita yang mandiri dan tangguh. Tidak heran saat nama Gerwig mengemuka sebagai sutradara Barbie, orang-orang langsung "curiga" bahwa Barbie akan dibuat feminis.

Sepertinya, ungkapan filsuf Prancis terkenal, Descartes, menjadi dasar dari film ini: cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada). Barbie yang tadinya hidup happy go lucky bersama teman-temannya dan para Ken tiba-tiba memikirkan kematian. Sesuatu yang tidak pernah terlintas seumur hidup di benaknya. Pemikiran itu melahirkan sebuah perjalanan panjang ke dunia manusia yang pada akhirnya melahirkan tema eksistensialisme, kesetaraan gender, dan patriarki.
Mungkin, orangtua yang kadung membawa anaknya karena membaca judul Barbie akan keluar bioskop dengan marah-marah karena filmnya tidak seringan animasi-animasi Barbie yang menjadi putri raja, peri, atau detektif. Tapi, di balik tema yang terlalu berat untuk dicerna anak-anak ini, ada pesan tersirat bahwa dan hal yang selalu digaungkan Barbie dari dulu: kita bisa jadi apa pun yang kita inginkan.

Mengenai akting, jelas Ryan Gosling juaranya di sini. Perannya sebagai Ken yang awalnya penurut, lalu "terjerumus" ke dalam sistem patriarki hingga bermaksud mengkudeta Barbie Land benar-benar patut dipuji, membuat Ken lain jadi kurang bersinar. Margot Robbie jelas tidak perlu ditanya. Sebagai Barbie Stereotipikal, dialah perwujudan mimpi seluruh anak perempuan di dunia seandainya Barbie menjadi manusia. Chemistry America Ferrera dan Ariana Greenblatt sebagai ibu dan anak juga terlihat asyik meski momen mereka tidak banyak.
Acungan jempol juga patut diberikan pada bagian set dan properti yang sudah berusaha menghadirkan berbagai aksesoris dan perlengkapan Barbie ke dunia nyata, mulai dari rumah, lemari es, kolam renang, pantai, payung pantai, jetski, roket, mobil, sepeda tandem, dan masih banyak lagi. Seperti melihat semua benda kecil, imut, dan pink itu menjelma menjadi ukuran sebenarnya.
Pada akhirnya, Barbie memang bukan tontonan untuk anak-anak. Tema yang diangkat terlalu berat, bahkan leluconnya pun hanya dipahami orang dewasa. Tapi, kalau ingin tahu bagaimana sesosok Barbie mencari tahu soal eksistensialisme dan menciptakan perubahan bagi kaumnya, silakan tonton. Dan, mungkin setelah ini, kita jadi ingin membeli satu-dua Barbie untuk dipajang di rumah.
