The Creator: Gambaran Masa Depan Manusia Saat AI Ada

by

The Creator: Gambaran Masa Depan Manusia Saat AI Ada
EDITOR'S RATING    

Kumuh, canggih, penuh intrik tapi sangat manusiawi

Di tengah serbuan horor dan film Hollywood yang kurang bergairah, The Creator muncul seperti sebuah air segar di tengah Gurun Gobi. Sudah lama sepertinya film masa depan utopia yang rusak muncul di bioskop-bioskop Tanah Air. Naik daunnya OTT pasca pandemi membuat tema-tema ini biasanya langsung direct ke OTT. Untung, The Creator masuk ke bioskop sehingga kita bisa menyaksikan kehebatan visual dan cerita yang humanis di latar masa depan saat AI mendominasi kehidupan manusia. Gareth Edward semakin matang setelah terakhir menggarap Rogue One: A Star Wars Story tahun 2016 lalu.

The Creator memiliki keunggulan dalam world building yang luar biasa. Gareth Edward dan tim berhasil menggambarkan dunia masa depan yang realistis. Penuh AI dan robot di mana-mana yang berbaur dengan manusia dan hidup layaknya manusia pada umumnya. Namun, di balik kemajuan itu terdapat sisi suram bagian Bumi yang lain, di mana masih ada masyarakat kelas bawah dengan pekerjaan kasar, seperti bertani. Uniknya, AI di negara terbelakang juga melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar seperti manusia di sana. Penggambaran yang sangat realistis ini langsung membuat penonton terpikat dari awal film. Dan, kejadian dahsyat yang menggerakkan cerita pun dibuat dengan lugas tanpa bertele-tele.

Cerita sebenarnya sangat sederhana. Sang tokoh utama berupaya menemukan istrinya, tapi di perjalanan, ia bertemu seorang anak kecil yang membawa takdir dunia. Pertarungan baik dan jahat pun terjadi dan kita diajak untuk melihat dua sisi manusia, mendukung AI atau memusnahkan Ai dan semua punya alasannya masing-masing. Kedua belah pihak sama-sama punya sisi gelap. Walau di akhir tentunya kita diarahkan untuk memilih salah satu, tapi semuanya berjalan dengan alasan, tidak tiba-tiba. Kecepatan berceritanya juga sangat baik, tidak ada bagian yang membosankan sampai membuat ngantuk. Yang sedikit mengganggu, mungkin klimaks cerita yang ada dua kali. Di saat penonton mengira sudah selesai ternyata puncak cerita baru saja terjadi.


Visual film ini patut diacungi jempol. Melihat Nomad melayang di angkasa dengan ukuran sebesar pesawat Thanos benar-benar memberi rasa ngeri, apalagi Nomad membawa kematian pada setiap daerah yang didatanginya. Kita bisa melihat dari reaksi para masyarakat di daerah-daerah yang didatangi Nomad, ketakutan begitu jelas tergambar di wajah mereka. Acungan jempol untuk tim visual efek dari The Creator karena bisa menggabungkan Nomad yang berteknologi tinggi dengan wilayah kumuh negara dunia ketiga dengan sangat mulus. Dan, yang paling memukau itu adalah efek ledakannya, tidak berlebihan tetapi setiap terjadi terasa megah dan menggelegar. Ledakan nuklir di awal film ini bisa diadu efek ketegangannya dengan Oppenheimer Christopher Nolan. Ledakan Nolan sangat stylish, sementara The Creator mendadak dan menggelegar.

John David Washington sepertinya mulai nyaman bermain di film-film dengan tema sci-fi. Setelah Tenet, kini di The Creator. Namun, ia tampaknya lebih banyak berakting di The Creator karena di Tenet wajahnya selalu datar sebagai Protagonist. Di sini, ia beradu akting dengan Madeleine Yuna Voyles yang sangat briliant. Kecil tapi sangat menjiwai peran. Sayang Gemma Chan hanya muncul sekilas, kecewa. Walau begitu para aktor di film ini bermain sangat bagus. Tidak banyaknya nama yang terkenal, mungkin juga salah satu faktor film ini terasa lebih realistis. Sangat diharapkan untuk ada sekuelnya walau kemungkinan sangat tipis. Pertama karena faktor cerita, yang kedua pemasukan. Film sebagus ini ternyata tidak booming, sayang sekali.