Napoleon: Ambisius, Jenius, Budak Cinta

by Redaksi

Napoleon: Ambisius, Jenius, Budak Cinta
EDITOR'S RATING    

Antara cinta, ambisi, dan perang

Bicara soal sejarah Eropa, ada dua negara yang sejarahnya begitu dikenal dunia, yaitu Inggris dan Prancis. Prancis, yang kini disebut sebagai negara mode, memiliki kisah panjang hingga mencapai bentuk pemerintahan yang sekarang: beralih dari monarki menjadi presiden. Kita tentunya tahu tentang Revolusi Prancis saat Marie Antoinette dan suaminya, Louis XVI, dihukum penggal karena membuat rakyat murka dengan gaya hidup mereka yang mewah, sementara rakyat menderita atau perang. Belum lagi perang sipil antara kaum Protestan dan Katolik Prancis pada tahun 1562 sampai 1598 yang menelan korban jiwa hingga jutaan orang. Tidak hanya dipelajari di sekolah, kisah-kisah tersebut diadaptasi ke berbagai medium, seperti film, serial, atau pun teater. Mengambil masa yang lebih modern dari dua peristiwa tersebut, Ridley Scott menghadirkan kisah seorang jenderal terkenal asal Prancis yang dikenal karena kepiawaiannya dalam berperang dan kisah cintanya: Napoleon.

Film ini mengisahkan sosok Napoleon saat sedang menapaki jenjang karier di dunia militer. Dari seorang perwira rendah, ia berhasil mengusir Inggris dari kota pelabuhan Toulon dan meraih pangkat Brigadir Jenderal. Karena ambisinya, Napoleon pun memasuki ranah politik dan menjadi Kaisar Prancis setelah sebelumnya menikahi Joséphine de Beauharnais, seorang janda cantik yang, meski mencintai Napoleon dengan sepenuh hati, namun juga suka bermain mata di luar sana. Menikah selama 15 tahun tanpa menghasilkan keturunan, membuat Napoleon terpaksa menceraikan Joséphine. Keduanya pun berpisah, namun tetap menjadi teman dekat hingga maut memisahkan. Selain kisah cintanya yang abadi dengan Joséphine, ada juga peperangan besar yang disorot, seperti Pertempuran Austerlitz dan Pertempuran Waterloo. Napoleon tidak selalu menang saat bertempur, ada beberapa kekalahan yang ia alami dan juga puluhan bahkan ratusan ribu pasukan yang gugur. Bagi yang hafal dengan sejarah sang jenderal, tentunya tahu bahwa ia dua kali diasingkan, yaitu ke Elba dan Saint Helena. Di tempat terakhir inilah, ia berpulang.

Seperti film-film biopik sejarah pada umumnya, tidak ada konflik yang benar-benar drastis dan menjadi puncak alur cerita. Minimnya konflik ini jelas berpotensi membuat orang-orang yang mengharapkan cerita sejarah yang grande akan kecewa. Bisa dibilang, durasi 2 jam 38 menit film ini adalah sekadar visualisasi dari apa yang bisa kita baca di buku-buku sejarah. Meski diseling dengan tiga-empat kali perang besar yang ia hadapi, namun dengan alur yang lambat, jelas akan membuat kita sesekali menguap di bioskop karena bosan.  


Hubungan Napoleon dan Joséphine menjadi salah satu plot yang menonjol di film ini. Bagaimana seorang jenderal yang jenius dalam perang, ternyata punya hubungan yang cukup rumit dengan istrinya. Akting Joaquin Phoenix sukses dalam menggambarkan Napoleon di layar lebar. Vanessa Kirby juga tampil menakjubkan saat menghadirkan sosok Joséphine, cinta sejati sang jenderal. Sayangnya, aksen Inggris Kirby yang sangat kental terasa agak mengganggu mengingat ini adalah Ratu Joséphine merupakan warga Prancis asli. Tentunya, kalau kita bisa mengesampingkan hal itu, akting Kirby di sini jelas memuaskan.

Perang yang dihadirkan sendiri tidak main-main. Brutal, kejam, dan penuh darah, seperti perang yang seharusnya. Siap-siap melihat kepala pecah, darah berhamburan, potongan tubuh, dan berbagai kesadisan lainnya. Selain plot tentang hubungannya dengan Joséphine, Scott juga agaknya ingin memperlihatkan bahwa Napoleon tidak main-main saat turun berperang. Strategi cerdas yang bisa mengorbankan puluhan ribu bawahannya demi satu ambisi, memperluas dominasi Prancis di  Eropa. Meski konon ada beberapa bagian yang tidak akurat secara sejarah, tapi begitulah biopik. Fungsinya adalah menghibur, bukan untuk belajar. Napoleon jelas salah satu film biopik yang membuat sejarah jadi terasa menghibur.