Siksa Neraka: Penuh Siksaan Fisik dan Batin...Bagi Penontonnya

by Redaksi

Siksa Neraka: Penuh Siksaan Fisik dan Batin...Bagi Penontonnya
EDITOR'S RATING    

Fokus menggambarkan siksaan di neraka, berujung pada pengorbanan plot cerita

Mengadaptasi komik Siksa Neraka karya MB Rahimsyah yang marak di tahun 1980-an dan 1990-an memang sebuah pilihan yang berani, sekaligus berisiko. Berani karena mungkin tidak banyak rumah produksi yang yakin bisa mengangkatnya ke layar lebar. Berisiko karena penggambaran siksaan di neraka dalam komik begitu brutalnya hingga rasanya mustahil jika dijadikan tontonan layar lebar. Tapi, Dee Company yakin bahwa apa pun materinya, semua itu bisa difilmkan. Maka, digaetlah Anggy Umbara sebagai sutradara, yang sebelumnya sukses membawa Khanzab menembus satu juta penonton pada Lebaran lalu. Sementara, naskah diserahkan ke tangan Lele Laila. 

Mengisahkan empat saudara, Saleh, Fajar, Tyas, dan Azizah. Mereka selalu dididik oleh ayah-ibunya untuk menjunjung tinggi agama dan norma. Suatu hari saat Saleh pulang dari kota, terdengar kabar bahwa Dini, teman sekelas Azizah, meninggal karena gantung diri. Ayah dan Ibu pergi melayat, menitipkan rumah pada empat anak-anaknya. Namun, Azizah dan Saleh rupanya sudah punya rencana untuk datang ke final lomba menyanyi yang diikuti Azizah dengan mengajak Fajar dan Tyas. Di tengah jalan, hujan yang turun deras membuat sungai meluap hingga menenggelamkan empat bersaudara yang ingin menyeberang ini. Saat terbangun, mereka sudah berpindah alam, yaitu ke neraka dan melihat begitu banyak siksaan di sana.


Dua hal yang tentunya menjadi PR besar bagi Dee Company saat mengadaptasi film ini: alur cerita dan penggambaran siksaannya. Komik Siksa Neraka sendiri bisa dibilang tidak punya kisah karena hanya memaparkan dosa yang dilakukan manusia di dunia dan apa balasannya di neraka. Hanya menggambarkan dosa dan akibatnya dalam durasi 90 menit tentu tidak bisa menjadi pilihan. Sayangnya, alur cerita yang kemudian dihadirkan dalam Siksa Neraka seakan hanya pelengkap saja untuk masuk ke fokus yang lebih utama: siksaan di neraka. Untuk segi siksaan yang dihadirkan, memang cukup ngilu, terutama untuk kita yang jarang menonton film-film gore lokal atau luar. Ada lidah ditusuk dan dipotong, mata ditusuk dan dipotong, dan masih banyak lagi. Sayangnya, karena fokus hanya pada empat karakter utama, kita tidak tahu alasan manusia lain masuk neraka. Padahal, menarik seandainya ada penggambaran lain, seperti politikus yang suka janji bohong, tukang korupsi, oknum-oknum di agama yang suka mencabuli murid, dan masih banyak lagi.

Empat anak muda yang digambarkan sebagai empat bersaudara sama sekali tidak terlihat seperti keluarga. Terasa miscast dan nyaris tidak ada chemistry. Kenekatan keempatnya untuk menerobos hujan dan sungai yang meluap demi mengantar si bungsu ke final lomba nyanyi yang entah di mana dan bagaimana bisa ia ikuti dari awal mula juga terasa mengada-ada dan di luar logika bodohnya. Minimnya latar belakang keempat saudara ini juga membuat penonton tidak simpatik. 

Alih-alih membangun fondasi karakter yang solid, penulis naskah lebih suka menggambarkan kebobrokan sifat mereka lewat berbagai kilas balik yang tidak juga memberi penjelasan. Pengembangan karakter? Jangan mencari di film ini karena tidak ada yang berkembang dari semua karakter di sini. Meski tidak diberi ruang yang cukup untuk bereksplorasi, tapi akting Ariyo Wahab dan Astri Nurdin sebagai orangtua yang kehilangan anaknya cukup menyentuh. Kita seakan bisa merasakan kesedihan mereka. Tapi, tentunya, kedua karakter ini hanya menaikkan sedikit kualitas filmnya. 


Jatuh Cinta seperti di Film-film mengajarkan kita bahwa ada beberapa sekuens dalam pembuatan film dengan perkenalan, konflik awal, konflik puncak, hingga konklusi. Dalam Siksa Neraka, sekuens itu mungkin hanya ada tiga: perkenalan, siksaan, dan konklusi. Tidak ada konflik awal atau konflik puncak sehingga emosi penonton tidak dibawa turun-naik. Alur terasa datar, flat. Bahkan, setelah menonton pun, kengerian yang ditampilkan digantikan dengan rasa kesal karena dialog cheesy yang dilakukan penduduk desa di tengah melayat atau hal-hal aneh yang dilakukan karakter di dalam neraka. 

Jika ingin sekadar menghadirkan dahsyatnya siksa neraka akibat dosa dunia, Siksa Neraka bisa dibilang cukup berhasil. Setidaknya, kalau memang ada yang nekat membawa anak kecil menonton, mungkin efeknya sama seperti generasi milenial yang tumbuh dengan menonton film Pengkhiatanan G30S. Terbawa mimpi, sulit tidur, dan bikin trauma. Namun, sebagai sebuah film dengan segala aspek yang terkandung di dalamnya, Siksa Neraka tidak lebih dari sekadar ambisi produser untuk meraup untung dengan menghadirkan film gore tanpa memikirkan plot dan alur. Sangat disayangkan.