Cerita yang umum dengan plot dan twist standar
Pada masanya, Aaron Eckhart pernah terlibat film-film besar, salah satunya The Dark Knight. Namun, seiring bertambahnya waktu dan semakin banyak bintang muda bermunculan, tentunya Eckhart tidak mau memaksakan diri mencari film box office. Namanya juga tidak setenar Samuel L. Jackson, Morgan Freeman, atau Liam Neeson yang masih dilirik untuk mengisi peran penting di banyak film. Namun, bukan berarti ia hilang sepenuhnya dari dunia akting karena rupanya Eckhart masih bermain di film-film aksi kelas B, seperti halnya Neeson. Kali ini, ia muncul dalam The Bricklayer bersama aktris yang tenar berkat The Vampire Diaries, Nina Dobrev.
Media ramai saat seorang jurnalis, yang sering mengkritisi keikutsertaan intelijen Amerika di ranah asing, mati tertembak. CIA tentu kebakaran jenggot dengan insiden ini karena semua mata menuduh bahwa merekalah dalang di balik kejadian ini. Kate, seorang agen CIA, berhasil menemukan siapa pelaku sebenarnya: tidak lain adalah Radek, mantan agen. Untuk itu, CIA pun segera mengontak Vail, mantan agen dan teman Radek, untuk membantu menangkap Radek agar kerusakan yang terjadi tidak semakin luas.

Bisa dibilang, tidak ada hal baru yang dihadirkan dalam The Bricklayer. Mantan agen yang membelot, usaha kejar-kejaran antara agen yang ditugaskan dengan si penjahat, dan sedikit twist di ending. Semua plot ini sudah sering dipakai di banyak film yang mengedepankan tema dan aksi sejenis. Judulnya pun tidak memiliki makna di baliknya karena memang dikisahkan bahwa Vail menjadi tukang pasang batu bata setelah memutuskan keluar dari CIA. Jadi, kalau berharap nama "The Bricklayer" adalah semacam julukan untuk pembunuh berdarah dingin di sebuah kerajaan kriminal bawah tanah dengan sistem dan aturan yang sangat rumit, bersiaplah untuk kecewa.
Untungnya, sosok Ekchart sebagai Vail di sini tidak digambarkan seperkasa Jason Statham di film terbarunya yang nyaris tak tersentuh dan hanya luka sedikit. Ia tetaplah seorang mantan agen yang sudah menua dan kemampuannya pun menurun sehingga saat harus berkelahi dengan lawan yang lebih kuat, tetap bisa babak belur. Penonton memang suka kalau jagoannya menang, tapi menang dengan usaha. Kalau tanpa luka satu pun, tentunya tidak seru. Untuk pemanis, ada Nina Dobrev yang meski tidak semuda dulu, tapi tetap menawan. Perannya di sini pun bukan sekadar tempelan, tapi bisa dibilang menjadi sidekick Vail sehingga mendapat kesempatan untuk beradegan aksi. Twist yang dihadirkan pun meski tidak baru, tapi cukup sulit ditebak.
Bagi para penyuka intrik terkait intelijen, tapi tidak ingin yang penuh gadget canggih, The Bricklayer jawabannya. Aksi dengan jagoan yang tidak kuat-kuat amat justru lebih disukai daripada mereka yang sulit mati. Cukup Chuck Norris saja yang mustahil kalah, sisanya jadilah manusia biasa.
