Saat cinta lama datang, bersediakah kita membuang yang baru?
Kehilangan orang yang dicintai tentu merupakan cobaan terberat dan setiap orang menghadapi peristiwa tersebut dengan cara yang berbeda-beda. Tapi, semuanya akan berujung pada satu hal: melanjutkan hidup. Tapi, bagaimana saat kita sudah rela dan membuka hati untuk orang lain, tiba-tiba orang yang kita cintai itu kembali? Melepas yang baru dan kembali ke yang lama atau sebaliknya? Seperti itulah dilema yang dihadapi Emma Blair saat harus memilih dalam film One True Loves.
Saat masih muda, Emma sudah naksir dengan atlet renang sekolah, Jesse. Tidak disangka, perasaannya bersambut dan mereka pun menjalin hubungan hingga ke jenjang pernikahan. Namun, saat baru menginjak satu tahun usia pernikahan, Jesse dinyatakan hilang saat dalam perjalanan ke Alaska untuk syuting film dokumenter. Selama empat tahun, Emma berduka dan terus percaya bahwa suaminya akan kembali sampai suatu saat, ia memutuskan untuk melanjutkan hidup. Di tengah usahanya untuk pulih, Emma kembali dipertemukan dengan Sam, temannya saat SMA. Dari sini, hubungan mereka berlanjut dan Emma perlahan mulai membuka hatinya untuk Sam. Tapi, saat semua terasa indah, tiba-tiba Jesse kembali dan berusaha masuk lagi dalam hidup Emma. Siapakah yang akan Emma pilih?
Premis yang diangkat film ini memang tidak biasa. Jika umumnya romcom kebanyakan berkisah tentang upaya seseorang bangkit lagi setelah kehilangan, One True Loves meminta kita untuk membuat pilihan antara yang lama atau baru. Cukup menarik sebenarnya karena jarang ada yang mengangkat tema seunik ini. Jawabannya mudah? Tunggu sampai kita berada di posisi Emma saat kita mencintai keduanya, tapi harus memilih salah satu. Apa pun keputusan itu, pasti akan ada hati yang tersakiti.

Sayangnya, dengan premis semenarik ini yang seharusnya bisa membawa kita bersimpati dengan dua hubungan Emma, One True Loves malah terasa membingungkan dan serba tanggung. Naskah menggambarkan peristiwa dengan cara non-linear alias tidak dihadirkan secara kronologis. Masa sekarang dan masa lalu saling tumpang-tindih untuk memperlihatkan yang sebenarnya terjadi dalam hidup sang tokoh utama hingga pada akhirnya dihadapkan pada pilihan sulit. Mungkin, film ini mencoba menghadirkan romcom yang berbeda dari segi visualisasi ketimbang menceritakan kisahnya secara "lurus" saja. Namun, ini jelas jadi bumerang bagi penceritaannya.
Alih-alih menghadirkan drama yang menguras emosi (baik itu sedih atau bahagia), alur non-linear ini membuat perasaan yang ingin disampaikan ke penonton seperti menggantung. Misalnya, di saat penonton dibawa untuk melihat konflik yang mulai terjadi antara Emma dan Jesse yang lama menghilang, adegan dengan cepat beralih ke Sam dan murid-murid orkestranya. Dengan nuansa yang berbeda, penonton yang tadinya sudah siap-siap untuk terbangun emosinya, malah "dipaksa" reda lagi dengan adegan komedi Sam.

Alur maju-mundur tadi juga membuat karakter Jesse dan Sam tidak tergali dengan baik atau membuat penonton simpatik. Salah satu keberhasilan sebuah film atau drama yang memiliki karakter utama sama pentingnya adalah saat dukungan penonton terbelah. Di One True Loves, hal itu tidak terasa. Naskahnya juga tidak berusaha memasukkan banyak adegan romantis antara Emma dan Jesse sehingga saat Jesse hilang di lautan kita bisa ikut sedih atau adegan romantis antara Emma dan Sam yang membuat kita paham alasan Emma akhirnya mau membuka diri lagi setelah empat tahun.
One True Loves menggambarkan bahwa kesempatan kedua dalam cinta akan selalu ada asal kita mau membuka diri. Sayangnya, eksekusi yang kurang tepat membuat emosi film ini tidak begitu tersampaikan. Namun, jika mencari tontonan film romcom untuk merayakan hari Valentine, One True Loves bisa menjadi pilihan.
