Harta Tahta Raisa: Dokumenter Konser dengan Bumbu Drama dan Air Mata

by Redaksi

Harta Tahta Raisa: Dokumenter Konser dengan Bumbu Drama dan Air Mata
EDITOR'S RATING    

Persembahan terbaru Raisa untuk para penggemarnya

Film tentang dokumentasi konser seorang musisi, harus diakui, kini semakin banyak jenisnya. Nggak cuma dari dunia musik Barat seperti Taylor Swift: The Eras Tour atau Renaissance: A Film by Beyoncé, tapi juga dari Asia seperti IU Concert: The Golden Hour yang belum lama ini tayang di bioskop. Semua dikemas secara megah, memperlihatkan tata cahaya panggung, gemerlap kostum, dan riasan yang menunjang visual. Tidak lupa sound dahsyat yang terus mengiringi lagu yang dinyanyikan dari awal sampai akhir film, membuat penonton yang duduk di bangku bioskop merasakan suasana seperti di lokasi konser.

Begitu film dokumenter Harta Tahta Raisa produksi Imajinari diumumkan, tentu yang terbayang pertama kali adalah kita bisa sing along lagu-lagu hits Raisa dari awal hingga akhir. Apalagi film garapan Soleh Solihun ini dibuat sembari mendokumentasikan ‘Raisa Live in Concert GBK 2023’ yang digelar 25 Februari tahun lalu. Namun, begitu tayang, nyatanya film ini hanya sedikit menampilkan cuplikan konser Raisa saat di atas panggung GBK.

Dengan durasi hampir dua jam, Harta Tahta Raisa justru lebih banyak menampilkan segala ke-riweuh-an persiapan jelang konser, yang sesekali disisipkan dengan wawancara orang-orang terdekat Raisa. Proses yang diperlihatkan tidak cuma menjelang hari-H, tetapi jauh lebih lama dari itu.


Kita diajak melihat Raisa kecil yang menyanyikan lagu lewat tape recorder, hangatnya hubungan Raisa dengan orang tua dan kakak kandung, obrolan singkat namun menyentuh hati bareng head of security, wawancara gemas bersama sang suami Hamish Daud, sampai obrolan mendalam dengan semua yang ada di Juni Records, termasuk Adryanto Pratono alias Boim, manajer Raisa. Obrolan-obrolan tersebut ditampilkan secara acak, disisipi berbagai event dengan timeline berbeda dan tidak linear dan hitung mundur konser yang dibawakan Raisa. Cukup membuat bingung, terutama penonton yang tidak mengikuti perjalanan karier Raisa. Akan tetapi, tetap terasa hangat dan menyentuh hati saat diikuti, apalagi ada beberapa hal sensitif yang bersifat off the record yang ditampilkan di sini.

Menjadikan konser lokal sebagai ‘bahan’ film yang ditayangkan di bioskop juga memberi tantangan tersendiri di bagian sound mixing. Sudah rahasia umum jika sound saat konser di Indonesia (siapa pun artisnya) sering ‘pecah’ sehingga terasa tidak nyaman di telinga. Hal ini juga terjadi di beberapa bagian di dalam film. Suara bening Raisa sesekali tenggelam oleh suara musik latar yang terlalu menggelegar. Terasa sekali ada beberapa part yang sangat diusahakan oleh engineer agar terasa nyaman di telinga penonton. 

Bisa dibilang, fokus utama film ini memang ingin menunjukkan orang-orang yang berdiri bersama mendampingi Raisa dari sejak meniti karier sampai jadi penyanyi besar seperti sekarang. Tentang siapa saja sosok yang ada di belakang Raisa sebagai anak, ibu, istri, penyanyi, dan pengusaha.


Kita jadi semakin mengenal sosok Boim yang tidak cuma wara-wiri sebagai manajer, tetapi juga naik-turun emosinya saat mempersiapkan konser solo perdana seorang Raisa di stadion GBK. Konflik yang ditampilkan jelas membuat tegang karena sejatinya persiapan konser ini amat penuh cobaan. Mulai dari pandemi, adanya penyelenggaraan pertandingan bola U-20, sampai hujan lebat jelang beberapa jam konser dimulai. Begitu konser berhasil berjalan dengan baik, penonton pun ikut merasa lega. Beban berat yang ada di pundak semua orang yang terlibat itu akhirnya terangkat, dan kita bisa merasakannya. Tanpa sadar, emosi ikut keluar, air mata pun mengalir. Rasa haru dan ingin lebih mengapresiasi orang-orang yang bekerja di dunia seni jadi muncul dengan sendirinya.

Harta Tahta Raisa bukan hanya tontonan untuk YourRaisa. Ini adalah film untuk semua yang punya mimpi menjadi besar, dengan tetap menghargai orang-orang yang ada di sekelilingnya.