Mengajarkan empati dari banyak sisi
Banyak kisah dan jalan hidup manusia diangkat ke dalam film genre drama, tapi sepertinya premis perjuangan memiliki anak jarang diangkat. Memang, tema ini terasa lebih sensitif jika dibandingkan dengan ‘perjuangan hidup’ lainnya, misal mencari kerja atau mendapatkan jodoh. Mau dibuat dalam balutan humor pun sepertinya jadi lelucon yang getir, khawatir terlalu menyentil perasaan. Jadilah film tentang ini diangkat dari materi yang sudah ada, sebut saja Test Pack: You’re My Baby (2012), yang diadaptasi dari novel.
Kini, ada Lyora: Penantian Buah Hati produksi Paragon Pictures yang mengangkat kisah perjuangan pasangan suami istri untuk memiliki anak lewat program IVF (bayi tabung). Semakin menyentuh hati, karena film ini diinspirasi dari kisah nyata wanita karier Meutya Hafid dan sang suami Fajrie, yang diperankan dengan emosional oleh Marsha Timothy dan Darius Sinathrya. Infertilitas jadi isu utama, namun keinginan untuk memiliki setidaknya satu buah hati membuat Meutya berkeras hati. Usaha memiliki anak pun dilakukan keduanya lewat banyak cara, mulai dari pengobatan tradisional, ‘jalur langit’, sampai bayi tabung dengan segala konsekuensinya.
Yang menarik dari Lyora: Penantian Buah Hati ini adalah plotnya yang memperlihatkan perjuangan dan kuatnya dukungan dari banyak sisi. Tidak cuma dari Meutya dan Fajrie yang saling menguatkan, tapi juga bagaimana orang dan lingkungan sekitar turut berempati. Semua berusaha ikut membantu lewat caranya masing-masing agar usaha keras ini memberikan hasil maksimal. Sisterhood yang kuat hadir dari sosok Fika (Aimee Saras), Cathy (Olga Lydia), dan Navira (Hannah Al Rashid), sahabat Meutya yang selalu ada one call away meski ujung-ujungnya cuma 5 menit bertemu.

Sosok Metty (Widyawati) dan Rosmala (Ivanka Suwandi) sebagai ibu dan mertua yang hangat, selalu menemani, namun tetap dengan ‘gaya’ dan kekhawatiran khas seorang ibu juga pas porsinya. Kadang bikin haru, kadang juga bikin senyum karena dialognya yang nyelekit. Nomor satu? Jelas karakter Fajrie, sang suami green flag. Darius mampu menampilkan sosok suami dengan cinta yang besar. Tidak cuma sorot mata dan rasa khawatir dari setiap keputusan yang Meutya ambil, namun juga rasa percaya yang penuh.
Pritagita Arianegara sebagai sutradara bersama Priska Amalia dan Titien Wattimena juga berhasil membangun cerita lewat plot yang semakin naik, seolah menegaskan betapa melelahkan dan emosionalnya proses ini. Memang dramatis dan menguras emosi, sampai membuat penonton berkali-kali mengusap air mata. Tapi satu yang patut jadi highlight adalah bagaimana setiap perjuangan yang dihadapi selalu diiringi dengan senyum hangat dan optimisme dari banyak sisi.
Lyora: Penantian Buah Hati memang film drama yang hadir tanpa basa-basi. Mengangkat tema infertilitas dengan cukup gamblang, beratnya perjuangan, dan juga kuatnya support yang diberikan dari orang sekitar. Semua masalah memang bisa dihadapi asalkan kita punya support system yang memadai. Tidak cuma dalam bentuk materi tapi juga kasih sayang, perhatian, bahkan sentuhan dan kehadiran dalam diam bisa jadi senyum kecil yang melegakan. Sungguh film yang cocok ditonton bersama teman, pasangan, atau keluarga. Apalagi untuk yang sedang memiliki kesulitan yang sama: berjuang memiliki momongan.
