Terlalu plain untuk ending film yang sudah berusia 10 tahun
Seperti tahun-tahun sebelumnya, MD Pictures selalu punya "senjata" untuk film Lebaran. Setelah empat tahun berturut-turut mengadaptasi utas milik Simpleman, kini bagian keempat Danur yang menjadi pilihan. Konon, film ini akan menjadi penutup dari 10 tahun perjalanan Danur di layar lebar sehingga diberi tambahan judul The Last Chapter. Prilly tentu saja kembali sebagai Risa Saraswati yang kali ini harus menghadapi sesosok hantu yang mengganggu adiknya, Riri.
Beberapa tahun setelah kejadian di Danur 3: Sunyaruri, Riri kini sudah menjadi perempuan dewasa dan dilamar oleh kekasihnya, Dimas, di gedung balet, tempatnya sering berlatih. Namun, di tengah-tengah kesibukannya menyusun acara pernikahan, Riri mulai bersikap aneh dan sering diganggu penampakan wanita muda yang menyeramkan. Risa sendiri tahu ada yang tidak beres, tapi tidak bisa berbuat banyak karena ia sendiri juga mengalami berbagai hal aneh yang membawanya merasakan kematian sahabat-sahabat kecilnya. Terjebak di antara penerawangan di masa lalu dan situasi gawat yang dialami Riri, Risa harus segera bertindak sebelum situasi semakin berbahaya.
Mengusung judul yang menggambarkan bahwa sebuah film akan menjadi penutup dari satu rangkaian besar memang bukan hal mudah. Penonton pasti berharap bahwa, sebagai sebuah penutup, kisah yang dihadirkan akan lebih grande dari film-film sebelumnya, namun tidak berlebihan sehingga menutup esensi keseluruhan kisah yang sudah dibangun sejak awal. Memakai judul The Last Chapter tentu seakan memberi beban berat bagi Danur keempat ini. Seperti apakah cerita yang akan dihadirkan? Apa benar bisa dianggap sebagai penutup? Sayangnya, apa yang dihadirkan tidak bisa dibilang dan tidak terasa sebagai sebuah akhir.

Dikisahkan Risa tidak bisa melihat teman-temannya lagi setelah kejadian di Sunyaruri, sementara teman-temannya harus memperingatkan Risa akan sebuah bahaya. Untuk itu, jalan satu-satunya yang bisa mereka pikirkan adalah membawa Risa mengalami kematian mereka dengan harapan mata batin Risa akan terbuka. Perpindahan plot antara penerawangan Risa dengan situasi yang dialami Riri terasa terburu-buru dan bolong di sana-sini sehingga tidak memberi ruang bagi penonton untuk mencerna dengan baik apa yang terjadi. Alih-alih menjelaskan secara terperinci, naskah malah sibuk "menghujani" penonton dengan penampakan. Cara hadirnya pun tidak terasa baru karena seperti mengulang yang sudah-sudah, hanya bermain di musik dengan nada mengagetkan dan tinggi. Selain itu, alasan Canting merasuki Riri pun tidak punya dasar yang kuat.
Dari segi akting, Zee Asadel yang menggantikan Sandrina Michelle sebagai adik Risa terasa kaku dan tidak meyakinkan saat dirasuki Canting. Deretan aktor cilik yang bermain sebagai teman-teman Risa (Peter, Hans, Hendrik, Jansen, dan William) yang diceritakan keturunan Belanda dan dibunuh pada saat Jepang menjajah Indonesia, juga tidak diusahakan mirip seperti anak-anak asing. Hanya rambutnya yang dibuat pirang. Meski mungkin agak termaafkan, tapi jelas agak mengganggu.
Danur: The Last Chapter bisa dibilang babak akhir yang tidak terasa seperti penutup. Kata-kata "the last" dalam subjudul tidak terwujud di dalam filmnya yang malah terasa plain. Perasaan yang kita harapkan ada dan merasa bahwa inilah akhir yang sepatutnya diberikan kepada film yang sudah berusia 10 tahun ini sayangnya tidak ada. Menguap begitu saja saat lampu bioskop dinyalakan.
