Meski menghadirkan CGI mewah, namun plotnya seakan lupa logika
Pelangi di Mars hadir sebagai salah satu film Lebaran yang ditujukan untuk anak-anak, selain Na Willa. Dari sejak teaser-nya diluncurkan sendiri, para pencinta film Indonesia sudah terbelah dua. Ada yang mendukung dan bangga karena efek CGI Indonesia terlihat sudah semaju itu. Sementara, sisanya malah pesimis bahwa ini hanya tampilan luarnya saja dan film panjangnya tidak akan sebagus ini. Yang lebih mengejutkan lagi adalah slot tayang yang didapat Pelangi di Mars. Mendapat jadwal bertepatan dengan libur Lebaran tentu mengejutkan. Artinya, film ini harus bersaing dengan lima film dari rumah produksi besar lainnya, sementara bisa dibilang portfolio Mahakarya Pictures belum sementereng itu. Kembali ke Pelangi di Mars, manakah di antara dua "aliran" di atas yang benar?
Pratiwi, seorang astronot wanita asal Indonesia, terdampar sendirian di Mars karena ditinggal timnya yang kembali ke Bumi. Tugas Pratiwi hanya satu: menemukan Zeolith Omega, sebuah batuan sangat langka yang bisa menjernihkan air. Itu semua demi menyelamatkan persediaan air bersih di Bumi yang mulai berkurang karena kerusakan alam. Di tengah misinya tersebut, Pratiwi melahirkan seorang putri yang ia beri nama Pelangi. Sayangnya, di tengah usaha mencari Zeolith Omega, terjadi sebuah bencana dan membuat Pelangi harus hidup sebatang kara di Mars bersama robot pengawalnya, Batik. Berniat melanjutkan tugas sang ibu, Pelangi pun memulai usahanya mencari Zeolith Omega dan dalam perjalananannya bertemu dengan robot-robot lain yang menjadi temannya.
Pelangi di Mars jelas sebuah proyek film yang ambisius karena ingin membuktikan kepada para penikmat film lokal bahwa Indonesia juga punya kemampuan yang setara dalam membuat film-film berbasis CGI. Hasilnya adalah Pelangi di Mars yang berhasil memukau dari segi efek. Jika Jumbo membawa animasi Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi saat Lebaran tahun lalu, kini bisa dibilang Pelangi di Mars membawa CGI di perfilman kita ke tingkat yang tinggi. Semua CGI robotnya terlihat halus dan menyatu dengan latar dan pemeran manusianya. Anak-anak dipastikan akan terhibur dengan tingkah dan ulah mereka. Tidak hanya itu, Pelangi di Mars juga unggul dari segi lagu-lagu yang ditampilkan. Lagu berjudul "Warnai Pelangi" yang dinyanyikan Messi Gusti dan Marclesia Karim benar-benar ear-catchy sehingga akan terngiang-ngiang di telinga penonton sejak pertama kali mendengarnya. Lagu ini sendiri menjadi bagian yang krusial dalam filmnya. Apa itu? Kalian harus tonton sendiri.

Sayangnya, dua sisi positif Pelangi di Mars ini tertutup oleh plot cerita yang lemah, bolong di mana-mana, dan mengesampingkan logika. Meski ceritanya dibuat sederhana agar bisa diterima oleh anak-anak yang menjadi sasarannya, namun sebenarnya orang dewasa pun bisa menjadi pangsa pasar yang menjanjikan kalau memang kisahnya dibuat berbobot. Film ini seakan melupakan (atau malah tidak peduli) akan hal itu. Berkaca dari film-film Pixar atau Dreamworks, dari segi cerita, mereka tidak mengenyampingkan orang dewasa meski memang anak-anak tujuan utamanya. Jadi, filmnya menghibur untuk berbagai kalangan dan tidak "meremehkan" logika kalangan mana pun. Banyak logika bolong yang diabaikan dan dianggap tidak penting untuk dijelaskan, seperti keberadaan oksigen di Mars yang terlihat seperti barang sehari-hari dan tidak menjadi kekhawatiran Pelangi bahwa itu akan habis meski keberadaan Zeolith Omega belum ditemukan.
Banyaknya robot yang mengiringi perjalanan Pelangi juga terasa sia-sia karena tidak semuanya terlihat punya andil yang besar. Selain Batik dan Sulil, otomatis yang lain hanya menjadi pelengkap saja. Ini belum lagi ditambah dengan obrolan mereka yang bersahut-sahutan, tapi sayang, jatuhnya yang ada jadi berisik dan tidak lucu. Apa yang dilontarkan justru bukan lelucon khas Gen Alpha, tapi malah bercandaan-bercandaan lama yang tidak pernah didengar anak-anak zaman sekarang, tapi juga tidak menggugah Gen Milenial untuk tertawa. Satu hal yang sangat disayangkan adalah tidak adanya teks atau subtitle yang membantu penonton memahami dialog para karakternya yang terlalu ribut saat bicara. Padahal, mungkin kalau diberikan teks, beberapa pengetahuan umum yang diucapkan Batik bisa menjadi tambahan ilmu untuk anak-anak atau lelucon yang dilontarkan bisa lebih jelas dan jadi terasa menghibur.
Usaha Pelangi di Mars untuk menaikkan perfilman Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi memang patut diapresiasi. Namun, tentu saja, CGI bagus saja tidak cukup karena harus diimbangi dengan cerita yang menarik. Kalau dua hal itu berhasil dilakukan oleh Pelangi di Mars, mungkin film ini bakal bisa berbicara banyak di Lebaran tahun ini.
