Selain gaya bertuturnya yang menarik, kreativitas tim produksi di dalam membangun ulang suasana tahun 80-90an juga patut diacungi jempol
Sutradara : Ifa Ifansyah
Pemeran : Ihsan Tarore, Alex Komang, Dewi Irawan, Agni Pratistha, Dira Sugandi, Swasti Nusantari, Ida Ayu Dewi
Negara kita ini sudah menghasilkan banyak film biopik. Namun, jarang sekali sosok dibalik kisah yang diadaptasi itu masih hidup di muka bumi ini. Seperti Iwan Setyawan ini, contohnya. Dikenal sebagai alumni IPB berprestasi besar dan juga seorang penulis novel best-seller membuat dirinya mulai dilirik banyak publik. Salah satunya juga seorang dibalik kesuksesan 'Garuda Di Dadaku' sendiri, yaitu Ifa Isfansyah. Ifa, seperti yang dia tegaskan di press conference film ini kemarin, tertarik memfilmkan 9 Summers 10 Autumns karena dia peduli dengan kisah yang berhubungan dengan sisi kekeluargaan. Setyawan pun senada dengan Ifa. Dia mengakui bahwa film ini bukanlah kisah pribadinya, namun mengenai dukungan dan perjuangan orang tua yang membesarkannya. Terutama dari almarhum ayah yang dia dedikasikan untuk film ini.
Berapa banyak dari anak bangsa kita yang sukses di New York? Mungkin banyak. Tapi mungkin hanya ada satu yang berstatus sebagai anak sopir angkot dan dibesarkan di Batu, Malang, Jawa Timur. Iwan (Ihsan Tarore) yang dulunya hidup dengan segala keterbatasan bermimpi bahwa kelak ia akan membangun sebuah kamarnya sendiri. Meskipun kemiskinan menghimpit ekonomi keluarganya, namun Iwan sadar akan posisinya. Kesadarannya itu membuat dirinya gigih belajar untuk menghidupi keluarganya kelak.

Kesuksesan dalam pendidikan pun membentangkan jalan keluar dari hidup penuh penderitaan. Setelah lulus menjadi sarjana di IPB, pria asal Kota Apel itu mampu bekerja di The Big Apple dan menjadi bahan pembicaraan di kampung halamannya. Dan setelah sepuluh tahun menetap di New York dengan pekerjaan yang mapan, bayangan masa lalu Iwan muncul dengan rupa sesosok bocah berseragam sekolah dasar. Bayangan itupun membuatnya mengenang kembali akan jatuh bangun kehidupannya dari masa kanak-kanaknya yang memalukan hingga ke prestasinya di masa kini. Hal itu membuatnya rindu akan keluarga dan sang ayah (Alex Komang) yang tak kenal lelah mendukungnya. Bahkan citylight New York pun tak mampu mengobati rasa rindu itu. Iwan pun harus membuat keputusan di akhir: Menetap di Big Apple atau pulang ke Kota Apel? Apa yang akan menjadi keputusan akhirnya?

Seperti novelnya sendiri, Ifa mencakup kisah Iwan dengan padat dan efektif. Dia hanya mengutip beberapa kisah penting saja dari masa kecilnya hingga kini sebagai key plot point yang dengan rapih ditulis oleh Fajar Nugros. Dan keputusan Ifa untuk mempertahankan karakter bocah berseragam di dalam versi filmnya sangatlah bijak. Alhasil, tokoh itupun dimanfaatkan untuk menciptakan dialog dua arah untuk setiap isi kepala Iwan. Gaya bercerita ini pun juga membuat filmnya yang bergenre semi-biopik namun terkesan seperti fiksi karena penampakan sang bocah berseragam di sepanjang kisah.
Selain gaya bertuturnya yang menarik, kreativitas tim produksi di dalam membangun ulang suasana tahun 80-90an juga patut diacungi jempol. Pemilihan busana hingga properti seperti lembaran uang seratus rupiah pun disesuaikan dengan era saat itu. Bahkan bioskop misbar yang sekarang ini sudah tidak beroperasi bisa disulap menjadi hidup kembali seperti di masa kejayaannya. Dan dengan color tone yang ditekankan oleh penata sinematografi, Gandang Warah, membuat tidak hanya New York saja yang terlihat megah dan penuh lampu gemerlap, namun juga kota Batu dan Bogor terasa seperti tempat yang istimewa karena kenyamanan dan kesejukannya. Tidak terlupakan juga penggunaan bahasa Jawa yang akrab dikenal oleh sang sutradara sendiri, membuat film ini lebih hidup akan budayanya yang kental.
Dan di departemen casting sendiri, Ihsan yang pernah menjadi penyanyi jebolan Indonesian idol itu sangat pas melakoni karakter Iwan, lengkap dengan keluguan dan kesederhanaannya. Dengan fasihnya cara dia berbicara, Ihsan mampu meyakinkan kita bahwa dirinya adalah Iwan Setyawan yang inteligen. Dia yang masih termasuk newcomer di industri sinema ini pun juga mampu berimbang dengan lawan mainnya yang lebih berpengalaman, seperti Alex Komang, Dewi Irawan, ataupun Agni Pratistha. Kesuksesannya dalam akting ini mungkin juga nantinya bisa menjadi jalan pembentangnya ke film dan peran yang lebih menantang di masa depan nanti.

Sangat disayangkan, subplot kehidupan romantis Iwan kurang dieksplor. Seakan hanya berhenti di satu poin saja, karakter Iwan yang lugu dibuat seakan dia mempunyai obsesi yang berlebihan akan kesuksesan tanpa peduli dengan gadis-gadis yang tertarik dengannya. Mungkin yang terjadi memang demikian, namun sedikit dramatisir harusnya bisa dipakai untuk mempertahankan keluguan Iwan. Begitupun juga dengan kejeniusan Iwan yang digambarkan seakan dia tak punya tandingan, membuat film ini tak mempunyai konflik berarti kecuali hubungan Iwan dengan keluarganya yang jauh. Untungnya, semua itu bisa dikemas Ifa dengan pas dan proporsional tanpa ambiguitas berlebihan.
Walau terkesan sedikit preachy, namun kesederhanaan yang ditampilkan filmnya membuat adanya motivasi berapi-api yang muncul setelah menontonnya, membuat banyak penonton terpacu untuk segera menjadi Iwan Setyawan yang berikutnya. Dan secara keseluruhan, 9 Summers 10 Autumns wajib ditonton untuk mereka yang rindu akan cerita yang hangat nan inspiratif, terutama untuk mereka yang suka bermimpi travel ke kota kosmopolitan. Lah, jika anak sopir angkot saja bisa sukses, kenapa anda tidak.