Keinginan Trio Macan untuk serius di dunia akting tersia-siakan di tangan orang yang tidak memahami komedi. Baca ulasan kami.
Setelah dikenal sebagai trio kelompok penyanyi dangdut, Trio Macan yang personilnya adalah Lia Ladysta, Iva Novanda, dan Caca menantang diri mereka dalam bermain di sebuah film The Legend of Trio Macan. Film yang dikabarkan, seperti yang dinyatakan di press releasenya, tidak menggunakan stunt pengganti untuk adegan ekstrim dan berbahaya. Dari awal, kabar ini turut menarik perhatian publik. Apalagi tampaknya sang sutradara, Billy Christian, sudah mulai menunjukkan perkembangan dalam keahliannya menyutradarai sejak antologi berjudul Sanubari Jakarta di segmen Pembalut. Terutama dengan teaser posternya yang cukup bagus dan tidak terkesan asal jadi. Nah, apakah semua faktor itu memenuhi ekspektasi?
Film komedi ini bersetting ala "jaman dahulu kala" di sebuah desa China era kolonial Hindia Belanda, dimana ada seorang ketua perguruan silat yang mengakui dirinya sebagai yang terkuat dan dikenal sebagai Bu Beng Chot. Sayangnya, ada satu hal yang dia keluhkan yaitu badannya yang cebol. Setelah berkonsultasi dengan seorang peramal, Beng Chot diberitahukan bahwa tinggi badannya akan bertambah jika dia menikahi gadis yang memiliki tanda lahir berbentuk macan sebelum malam tahun baru Imlek.
Penonton pun dikenalkan dengan Iva, gadis dengan tanda lahir macan di lengannya dan tengah menjalin hubungan binal dengan A Yang, karyawan ayahnya di warung mie. Beng Chot pun mencoba taktik licik untuk mendapatkan Iva. Jika Iva tidak menikahinya, maka hutang ayahnya akan naik sepuluh kali lipat. Mau tidak mau, Iva pun rela dinikahi oleh pria itu.
Namun A Yang membantu Iva kabur di malam harinya. Anak buah Beng Chot pun memburu Iva dan kekasihnya. A Yang segera tertangkap di dalam usaha melindungi Iva, namun gadis itu berhasil lolos. Segera, dia bertemu dengan Lia dan Chaca. Ia dibawa ke sebuah tempat dimana dia akan bekerja dengan mereka sekaligus dilatih untuk menjadi wanita yang memikat nan mematikan. Inilah awal mula dari legenda Trio Macan.
Namun Beng Chot tidak gampang menyerah. Setelah menghipnotis A Yang untuk menjadi anak buahnya, mereka memburu Iva tanpa kenal lelah sebelum malam Imlek datang. Untunglah Iva dengan dua temannya itu dibekali dengan ilmu kungfu. Tak lama kemudian, mereka pun harus berhadapan dengan Beng Chot dan anak buahnya agar tidak ada lagi tindakan nakal dari tangan-tangan jahil kepada rakyat desa. Berhasilkah Trio Macan? Dan apakah Iva bisa bersatu kembali dengan A Yang?
Mungkin istilah "everybody falls the first time" berlaku untuk film ini. Dan mungkin juga karena lebih berpengalaman di genre yang lebih serius, Christian tampak kewalahan dalam mengarahkan ke arah mana film ini harus lucu. Slapstick gagal. Begitu juga dengan screwball comedy. Bahkan para extras juga terlihat kebingungan di dalam berlaku normal layaknya mereka di dalam realita sendiri. Para figuran ini seperti dipaksa untuk mengisi tiap frame filmnya, sehingga kesannya seperti ogah berada di lokasi set.
Dan untuk komedinya sendiri? Screenplay-nya juga seakan dipaksa untuk lucu. Mungkin si penulis cukup malas dan hanya membuat draft pertama skrip saja tanpa revisi. Sama saja hambarnya seperti film-film karya Jason Friedberg dan Aaron Seltzer (Meet The Spartan, Epic Movie). Mungkin Christian harus belajar banyak dengan Billy Wilder, Frank Capra, ataupun Howard Hawks yang mampu mendefinisikan arti dari genre comedy, bukan sekedar melempar segala macam hal abnormal ke dalam layar. Dialog pembuka "jaman dahulu kala" pun sudah tidak berarti lagi, karena sudah pasti tidak ada gadis-gadis cantik yang mencuci pakaian di tepi sungai sambil berfoto dengan alay-nya melalui gadget canggih mereka. Dan memasukkan dialog super alay semacam "ciyus", "miapah", dan semacamnya; sangatlah tidak bijak. Tidak hanya gagal untuk melucu, tapi kehambarannya sendiri juga sangat canggung. Mungkin hanya beberapa saja yang berhasil, itupun hanya menimbulkan senyuman kecil saja.
Dan bagaimana dengan Trio Macan sendiri? Yah, keseksian mereka lebih dieksploitasi dibandingkan kemampuan aktingnya. Walau mengenakan outfit coklat belang layaknya kulit macan, namun tetap saja ada adegan dimana sehelai kain harus dikoyak. Perlu kah itu? Inilah satu lagi usaha keras mereka setelah gagal untuk melucu. Sayang sekali jika passion mereka dalam berakting dalam film tidak diimbangi dengan kemampuan sutradara, terutama dengan usaha mereka untuk melakukan stunt work tanpa bantuan double. Lah, Julia Perez saja sudah berhasil di Gending Sriwijaya. Jelas sudah Trio Macan memang harus membutuhkan arahan dari yang lebih berpengalaman jika mereka memang ingin serius berkarir di sinema.
Sangat disayangkan, hanya sesekali saja humor yang berhasil. Walau dengan skrip yang sangat lemah, mungkin film ini bisa lebih bagus, andai dipercayakan kepada mereka yang mengerti komedi. Setidaknya kita tahu bahwa tiap personil Trio Macan ini terlihat serius, berkomitmen, dan tidak asal tempel. Mereka hanya membutuhkan sedikit kelas akting saja agar performanya lebih licin dan melintir. Maybe next time, ladies...

