Sebuah remake yang menghormati film originalnya, tetapi juga berani memiliki kisahnya sendiri.

Horror mungkin sudah menjadi genre yang cukup sulit untuk dibuat saat ini, terutama dengan remake/reboot. Tak dapat disangkal bahwa keduanya selalu menjadi kasus yang sering mengecewakan. Itupun hanya beberapa saja yang mampu menyamai kualitas sumber aslinya. Lalu bagaimana dengan horror remake/reboot? Itu mungkin menjadi tantangan berat. Dan hanya sedikit yang sukses. Sebut saja The Hills Have Eyes atau The Last House On The Left, dimana keduanya mendapat izin restu dan pengawasan ketat dari sang kreator; Wes Craven sendiri. Hal yang sama juga terjadi dengan sutradara newcomer asal Uruguay, Fede Alvarez. Sudah lama sejak Sam Raimi dan Bruce Campbell bersenang-senang dengan trilogy horror terkenal mereka, Evil Dead (1981). Keduanya pun sudah lama berencana untuk membuat ulang mahakarya mereka ini; sebuah horror cult yang sudah sangat populer. Dan setelah melalui proses pengembangan yang cukup panjang, akhirnya proses produksi dan penulisan screenplay pun dipercayakan kepada Alvarez. Mengingat dia sendiri juga sangat mencintai film originalnya dan dibekali dengan bakat di dalam penggunaan special effect, apa dia mampu menyamai kesuksesan teror dari para iblis Candarian yang dulunya sempat membuat Stephen King mengencingi celananya?
Didistribusikan oleh production house milik Raimi sendiri, Ghost House Pictures, Evil Dead memiliki premis yang sama dengan film aslinya. Dibuka dengan prologue yang memperkenalkan The Book of The Dead sendiri, David (Shiloh Fernandez) dan kekasihnya, Natalie (Elizabeth Blackmore) baru saja sampai di sebuah kabin yang berlokasi di tengah hutan, dimana saudari David, Mia (Jane Levy), mencoba kembali berkomitmen untuk melepaskan candunya akan obat-obatan ilegal. Dua teman David, Eric (Lou Taylor Pucci) dan Olivia (Jessica Lucas) juga bersedia membantu Mia dari masalah tersebut. Tensi antara mereka berempat terasa tegang, mengingat David sendiri sudah lama meninggalkan mereka. Namun semuanya bertambah buruk ketika mereka menemui puluhan mayat kucing yang digantung di atap basement. Eric menemukan sebuah buku yang terlihat aneh dan dengan bodohnya membacakan mantera di buku itu, yang pada akhirnya melepaskan berbagai macam iblis menyeramkan ke dalam kabin itu. David pun harus menemukan cara untuk menghentikan kegilaan teror yang pertama-tama menghantui saudarinya, Mia, dan juga kepada yang lain.

Sudah lama sejak horror semacam ini sudah tidak menghadirkan suasana baru lagi. Namun jika dilihat dari usaha Alvarez sendiri, dia benar-benar mengerti apa yang Raimi inginkan di dalam rekayasa ulang mahakarya-nya ini. Walau tidak mampu melebihi sumber aslinya, Alvarez mampu memberikan ide yang lebih gila, sakit, dan bejat dibanding pensil yang dipakai Raimi dulu. Sebagai pembukaan, dia merubah perjalanan liburan ke kabin menjadi suatu plot point yang serius. Bukannya direncanakan untuk menjadi weekend party, sekelompok remaja itu berada disana untuk suatu program pemulihan bagi salah satu dari mereka. Ini memberikan layer baru untuk plotnya, dan halusinasi dari seorang pecandu yang tengah sedang berjuang melawan hasratnya bisa disalahkan atas semua teror yang terjadi. Perubahan ini juga dimanfaatkan dengan memberikan sedikit character development dan adegan emosional antara kakak beradik yang agak berlebihan untuk sebuah horror flick.
Kedua, Alvarez juga memberikan sedikit tribute ke film rilisan '81-nya. Dan para die hard fans pasti cukup cermat melihatnya. Muntahan berliter-liter darah, lampu bohlam yang perlahan diisi darah, dan penampakan Oldsmobile Delta 88! Alvarez juga tetap menghadirkannya seakan ini film milik Raimi, dimana pilihan shotnya masih energik dan seliar kinetic camerawork dari versi aslinya. Intensitas gorenya pun dinaikkan. Dan tools semacam cutter juga turut membantu memberikan kengerian lebih daripada film Raimi. Dan salah satu hal terbaik dari film ini adalah, hampir tidak ada CGI yang terlibat! Keputusan Alvarez untuk menggunakan trik lama (penggunaan practical effect) pun sangatlah bijak, sehingga semua kegilaan terkesan sangat nyata. Tapi tenang saja. Untuk kalian yang gampang jijik, gorenya lumayan minim jika dibandingkan dengan punya Raimi. Mengerikan untuk disaksikan, namun bukan berarti sama menjijikkannya dengan torture porn flick ala Eli Roth. Pacenya yang cepat pun juga membuat kita tak sempat mengambil nafas lagi setelah baru saja turun dari perjalanan roller coaster yang serba gore-licious. Dan di saat bersamaan, pacenya juga terasa aneh, karena filmnya terasa singkat. Mungkin karena film ini sudah dicut ulang menjadi R-rated? Mungkin kita bisa menyaksikan versi unrated-nya di DVD/Bluray.

Sangat disayangkan film ini memilih untuk lebih serius dibanding lebih konyol. Bahkan para iblis Candarian yang makin kurang ajar itu tidak mampu memberikan celetukan yang lucu lagi. Padahal kekonyolannya itu sudah menjadi trademark dari ketiga film pendahulunya. Untunglah, semuanya ini direstui oleh Raimi. Dan Alvarez pun menghadirkannya dengan sentuhan berbeda. Dia tahu di mana dia harus "meninggalkan" kesetiaannya pada versi Raimi melalui karakter rekaannya, interaksi mereka, dan tiap masalah dari mereka masing-masing. Dengan tetap menghormati Raimi, Alvarez memberikan teror yang lebih fresh dan sebuah contoh yang baik bagaimana harusnya seseorang membuat remake yang keren dari sebuah cult classic. Dan maaf, ponten -1 harus diambil karena unsur funnya yang tidak terasa lagi. Tapi jangan bersedih. Untuk kalian yang merindukan kinetic fun ala Raimi, beliau sendiri masih tengah mengerjakan screenplay untuk proyek Army of Darkness 2! Dan Alvarez juga mempersiapkan diri untuk sequel dari reboot yang dia buat ini. Dua Evil Deads yang berbeda? Yah, kita tunggu saja kejutan macam apa yang akan mereka suguhkan. Sementara itu, saksikan film ini! Kalian yang cinta mati dengan original trilogy-nya pun akan turut menyukainya. Dan pada akhirnya, ini masih film Sam Raimi.
PS: Kalian yang sangat menyukai versi originalnya. jangan keluar dari bioskop dulu sebelum ending credit berakhir. Ada kejutan kecil untuk kalian. Kejutan yang groovy.
.jpg)