Europe on Screen 2013: Headhunter

by Chewbacca

Europe on Screen 2013: Headhunter
EDITOR'S RATING    

Editor kami memberikan nilai sempurna untuk film penutup Europe on Screen Festival yang tayang tanggal 12 Mei 2013. Sesempurna apa? Baca ulasannya disini!

 

Dua tahun lalu, Headhunters sempat mendapatkan kesempatan untuk ditayangkan filmnya di Blitz Megaplex se-Jakarta. Untuk sebuah foreign film, keuntungannya sudah termasuk sangat besar. Bahkan pertempuran Potter dan kawan-kawannya di sekolah mereka tercinta pun hampir dikalahkan kehebohannya. Summit Entertainment sendiri sudah merencanakan proyek remakenya bahkan sebelum filmnya selesai produksi. Dengan semua apresiasi positif yang ada, yang belum sempat menontonnya pun turut penasaran dengan segala kehebohan yang ada. Thriller flick asal Norwegia ini pun kembali mendapat kehormatan sebagai film penutup Europe on Screen 2013 Minggu kemarin. So, is it really that good?

Headhunters berfokus pada Roger Brown (Aksel Hennie); pria businessman yang penuh percaya diri dan juga tinggi badan sekitar 1.56 inch. Namun hal itu bukan masalah besar. Toh Roger berkeluarga dan mempunyai istri yang cantik dan fashionable, Diana (Synnove Macody Lund). Dia sendiri sangat setia dengan Roger, terutama karena jaminan ekonomi yang Roger hasilkan untuk semua kebutuhan isterinya. Yang tidak diketahui Diana adalah bahwa suaminya juga mempunyai double life sebagai pencuri yang dikhususkan untuk art property. Dia mendapatkan informasi detil mengenai rumah targetnya melalui perbincangan yang cerdik ke calon korbannya. Dengan itu, tak sekalipun dia pernah gagal memalsukan lukisan-lukisan mahal dan mencuri properti aslinya.

Namun kehidupan Roger yang serba mewah ini tidak bertahan lama sejak dia menemui Clas Greve (Nikolaj Coster-Waldau) di sebuah acara yang berada di galeri seni milik Diana. Meskipun Roger berhasrat untuk mencuri lukisan mahakarya Rubens yang kebetulan dimiliki Clas, dunianya mulai berbalik hancur. Mulai dari Diana yang tertarik dengan Clas sembari meninggalkan suaminya, Roger pun diburu oleh Clas tanpa ampun untuk mendapatkan perusahaan miliknya.


Headhunters lebih terkesan seperti film satir dengan bumbu nuansa thriller yang genius. Dimulai dengan protagonisnya yang sulit kita berikan simpati. Bahkan ketika muncratan darah dan tensi aksinya makin naik, alih-alih merasa ngeri, penonton malah dibuat tertawa terbahak-bahak. Mungkin jika proyek remakenya masih berjalan, saya akan memasukkan nama Coen Brothers sebagai kandidat sutradaranya. Itu semua karena mereka dan sutradara film ini, Morlen Tyldum, turut mempunyai selera humor yang sakit. Meskipun banyak adegan tindakan ataupun usaha pembunuhan yang mungkin bisa dibilang absurd, tapi tempo black comedy-nya yang pintar dan karakter Roger yang sulit menimbulkan rasa simpati berhasil membuat kita tidak bisa menganggap serius akan kekerasan film ini.

Dan jika diperhatikan, begitu banyak unsur kebetulan yang membuat kita awalnya merasa bahwa Headhunters mencoba berusaha lucu atau curang akan nuansa mencekam yang ingin mereka dapatkan. Namun sekali lagi penonton malah dibuat puas. Seperti kepingan puzzle yang awalnya berserakan, keutuhan dari semuanya menghasilkan sebuah mahakarya seni. Dengan resep game-con Hollywood yang membuat kita terus tebak menebak, pada akhirnya kita tahu bahwa hal paling konyol sekalipun bisa menjadi informasi vital dari sebuah plot. Pacenya yang bergerak seperti instrumen Teutonic itupun kembali mengingatkan kita bahwa ini adalah film kejar-kejaran ala kucing dan anjing yang mendebarkan. Bukannya film spoof comedy.
 

Dengan perpaduan formula thriller ala Hitchcock, selera humor ala Coen Brothers, dan karakter yang terus sial layaknya Wile E. Coyote, Headhunters memberikan angin baru untuk cinema Norwegia. Dosis antara tusuk menusuk dan komedi visualnya pun mampu tampil seimbang. Yang berkeinginan membuat thriller flick harus belajar dari film ini; Bukan special effect dan aksi stunt yang mampu memberikan ketegangan, namun dari skripnya yang solid.

Artikel Terkait