Dua sahabat, dua kutub sikap, satu perjalanan. Sebuah film yang harus disaksikan oleh kalian para traveler.

Sutradara : Dinna Jasanti
Pemeran : Adinia Wirasti, Prisia Nasution, Restu Sinaga, Ratna Riantiarno
Penulis Naskah : Titien Wattimena
Road movie? Jika ditanya film lokal apa saja yang familiar dengan genre itu, mungkin hanya sedikit yang mampu menjawabnya dengan fasih. Dan yang paling diingat sebagian besar pun mungkin hanya karya besutan Riri Reza sendiri, yaitu 3 Hari Untuk Selamanya. Lantas muncullah Dinna Jasanti, mahasiswi lulusan University of Technology, Sidney yang memecahkan keheningan dari genre tersebut. Dinna yang sudah berpengalaman menggarap film pendek, mencoba peruntungannya dengan membuat sebuah feature film dengan genre road movie tersebut. Pengalamannya menggarap film-film pendek sendiri sudah berhasil meraih banyak penghargaan. Dua di antaranya adalah Paper Cranes yang berhasil diakui di Bali International Film Festival Special Appreciation Award 2006, dan Opa's Letters di JIFFest 2007. Dan kini dia dipercaya oleh Inno Maleo Films (Jagad X-Code, Ai Lap Yu Pul) untuk menangani sebuah road movie yang menjadi debut feature filmnya, Laura & Marsha. Leni Lolang yang berlaku sebagai produser pun bersatu padu dengan Dinna di dalam memproduksi sebuah road movie yang meliputi lima negara Eropa berbeda, sehingga Laura & Marsha menjadi film yang paling ditunggu tahun ini. Naskah film ini sendiri ditulis oleh Titien Wattimena yang dilengkapi dengan berbagai macam riset yang dilakukan langsung di Eropa. Lalu, apakah film ini menjanjikan sebuah perjalanan yang berarti?
Dibuka dengan opening scene yang menarik, film ini mengenalkan kita dengan dua karakter utama yang, sesuai dengan Road Movie tutorial 101, berbeda sekali sifatnya. Laura (Prisia Nasution) yang bekerja sebagai karyawan travel agent adalah seorang yang sederhana dan hidup sesuai dengan aturan, mengingat dia sendiri adalah single parent dari putri tunggalnya. Sedangkan sahabat karibnya, Marsha (Adinia Wirasti) adalah seorang penulis buku traveling dan, tidak seperti Laura, hidup sesuka hati sejak kepergian ibunya. Marsha yang ingin keliling Eropa demi mengenang passion ibunya akan benua itu, mencoba mengajak Laura. Namun sayangnya ajakan ini ditolak oleh Laura. Untungnya Laura berubah pikiran dan segera mereka melakukan perjalanan yang meliputi keindahan kota Amsterdam, Bruhl, Inssbruck, Verona, dan Venice.

Namun keacuhan Marsha dengan jadwal ketat yang ditetapkan Laura melahirkan konflik demi konflik. Belum lagi dengan kelakuan Marsha yang mengajak penumpang asing bernama Finn ikut bergabung sebagai tour guide di dalam mobil sewaan mereka. Namun lambat laun, alasan mengapa Laura ingin menemani Marsha di dalam perjalanan ini mulai terungkap. Begitu juga masalah yang dihadapai Marsha bukan hanya mengenai kepergian ibunya. Kehadiran Finn pun mulai tidak hanya sebagai karakter yang sekedar lewat saja di kisah mereka ini.
Kalian yang cinta traveling pasti akan menyukai film ini. Baik yang suka pergi berkelompok ataupun secara individual. Toh sebuah road movie yang baik adalah film yang menampilkan dua karakter kuat yang berbeda dan juga dipenuhi konflik penuh warna semasa perjalanannya. Entah filmnya itu lucu atau tidak. Dan untung saja masing-masing karakter di film ini dengan mudahnya memberikan gambaran yang sesuai dengan hal itu kepada penonton. Seperti Laura yang gampang berbaur dengan banyak orang dan Marsha yang lebih suka menutupi dirinya. Proses itu semua juga harus diapresiasi karena kematangan akting dua aktrisnya sendiri. Walau terkadanga terasa datar, Pia sukses menampilkan kegusaran akan sahabatnya melalui gesture tubuh dan mimiknya. Terutama dengan satu adegan yang bisa saya bilang menggambarkan dirinya sebagai sexually repressed. Adinia Wirasti pun tak kalah tampil cemerlang. Mungkin karena perannya sebagai Ambar di 3 Hari Untuk Selamanya yang sangat mirip dengan karakter Marsha itu, sehingga semuanya terlihat seakan Marsha yang penyantai itu adalah Adinia sendiri, atau dengan kata lain Adinia berhasil melebur dengan mudahnya kepada peran Marsha.

Tidak hanya karena castnya yang kuat. Perjalanan antar budaya ini juga didukung oleh riset yang kuat meliputi realita di Eropa. Baik itu mengenai penginapan atau tumpangan di caravan, bahasa-bahasa asing, ataupun polisi imigrasi. Namun sayangnya hampir tidak ada yang baru di dalam eksplorasi ceritanya. Walau struktur plotnya yang sudah rapi mampu mendukung kedua karakternya menjadi semakin kuat secara karakteristik, tapi perjalanan akan persahabatan dan cinta sudah banyak dijelajahi oleh genre sejenis ini. Tapi setidaknya kita diberikan, akting yang kuat dari castnya dan, walau tidak banyak, secicip pengetahuan baru akan Eropa yang tidak banyak kita ketahui di brosur wisata. Akhir kata, Laura & Marsha sangat patut ditonton oleh kalian yang berjiwa petualang ala backpacker. Oh! Dan jika lain waktu kalian mengadakan travel lagi, jangan lupa untuk turut memasang headphone dan mendengarkan soundtrack film ciptaan Diar yang sangat oke, Summertime dan Ey Kawan. (Gambar-gambar: Indonesian Film Center)