Pacific Rim: Film Musim Panas Terbaik Tahun Ini!

by Chewbacca

Pacific Rim: Film Musim Panas Terbaik Tahun Ini!
EDITOR'S RATING    

Setelah hiatus selama lima tahun, Del Toro kembali dengan mimpi dan fetish masa kecilnya akan monster dan robot, dengan semangat bocah 10 tahun. Editor kami mentasbihkannya sebagai film musim panas terbaik tahun ini! Baca ulasannya disini!

Guillermo del Toro bukan sekedar sutradara biasa. Dia adalah seorang auteur visioner yang mempunyai daya imajinasi yang jarang ditemui di industri; dia memperhatikan tiap detil dari dunia unik buatannya sendiri. Dan setelah hiatus lima tahun lalu dari bangku penyutradaraan sejak Hellboy: The Golden Army, del Toro kembali dengan film robot-robotan impian masa kecilnya yang berjudul Pacific Rim. Ketika pertama kali mendengar berita ini, ada secercah harapan akhirnya kita bisa melihat film sejenis yang tidak hanya mengandalkan teknologi digital saja seperti Transformers dan ratusan film wannabe lainnya. Mengingat del Toro sendiri adalah seorang master dalam penanganan visual, ekspektasi pastinya tinggi. Dan untuk filmnya, Pacific Rim, apa nasibnya akan sama saja seperti film mainstream del Toro yang cenderung flop? Atau akan menjadi mesin pengeruk uang baruu untuk Warner dan Legendary Pictures? Sesuai dengan deskripsi taglinenya: Will it go big or go extinct?

Premis dasarnya sendiri bercerita mengenai kumpulan monster raksasa, disebut sebagai Kaiju, yang menjajah Bumi dan mengancam populasi manusia ke tingkat kepunahan. Untuk melawan para Kaiju, tim militer membangun sekumpulan robot yang tingginya sekitar tiga puluh kaki, dikenal sebagai Jaeger. Nasib umat manusia pun berada di tangan mantan pilot Jaeger, Raleigh Becket (Charlie Hunnam) beserta co-pilot hijaunya, Mako Mori (Rinki Kikuchi), juga ada ilmuwan gila, Dr. Newton Geizler (Charlie Day), dan pemimpin sekumpulan pilot Jaeger di seantero Pasifik, Stacker Pentecost (Idris Elba).

Beberapa dari kita mungkin sudah mencapai umur dimana suatu film yang fantastis sudah menjadi sesuatu yang biasa dan terlewatkan. Di jaman sekarang, budaya manusia dari berbagai era sudah pernah ditampilkan ke dalam layar. Dan kini hal yang luar biasa sudah menjadi bagian sehari-hari di dalam menonton film, sehingga isu semacam ini bisa menghancurkan kita sendiri. Jika sesuat yang luar biasa sudah menjadi semacam rutinitas yang sering dilihat, apa daya kita di dalam kembali menikmati hal sejenis? Untuk saya sendiri, cinta pertama akan film yang luar biasa itu dimulai ketika Star Destroyer pertama kalinya menembus layar gelap, atau ketika kita diajak ke suatu planet yang dihiasi dua matahari, kemudian dibawa masuk ke dalam stasiun perang seukuran bulan. Saya kagum dengan film itu. Tapi lebih dari itu, kekaguman itu lebih terarah ke detil-detil terkecil dari universe film yang diciptakan para filmmakernya sekalipun. Bagaimana mereka menciptakan banyak hal menjadi nyata di depan kamera. Sama seperti deskripsi saya, pasti tiap orang punya momen jatuh cinta sinematik pertama mereka, ketika mereka menyadari potensi sinema di dalam menciptakan keajaiban dunia.

Pacific Rim adalah salah satu film yang mengingatkan saya kembali akan euforia jatuh cinta tersebut. Film dimana kontennya berisikan gambar dan ide yang fantastis. Apa yang Del Toro sajikan ke meja makan ini bukanlah sekedar film saja, namun suatu komitmen dan surat cinta yang sangat ambisius. Dan Pacific Rim adalah apa yang disuguhkan jika Warner Brothers memberikan bujet sekitar 200 juta dolar kepada sutradara asal Meksiko ini. Sebuah suguhan yang berkisar dua jam lebih, berisikan pertempuran robot melawan monster ala film-film produksi Toho. Dan tentunya ini mengasyikkan, apabila filmnya ditangani oleh seseorang yang mempunyai sepotong jiwa berisikan semangat bocah sepuluh tahun.

Siapapun yang setidaknya punya masa kecil dengan Power Rangers pasti bisa merasakan antusiasme del Toro dalam tiap frame film ini. Dan begitu kita sudah terbawa ke dalam arus nerdtown yang beliau ciptakan, pastinya Pacific Rim membuat kita kembali berteriak dan bertepuk tangan ketika melihat Gipsy Danger meluncurkan tonjokan 'Elbow Rocket'nya tepat ke wajah Kaiju. Semua karena momen nostalgia yang muncul dan dulunya kita rasakan sebagai anak-anak.

Namun bukan kegilaan pertempuran Jaeger vs Kaiju saja yang membuat beberapa dari kita terbawa ke level emosional. Kerjasama dua pilot menangani Jaeger raksasa itu menjadi menarik untuk disaksikan. Sejak kematian kakaknya, Raleigh ragu untuk berbagi kenangan dan membuat hubungan semacam itu kepada co-pilot lain. Kita juga melihat seberapa penting dia harus melupakan kenangan pahit itu dan mulai kembali mengontrol pikirannya, sehingga level personal pun mampu dicapai penonton. Co-pilot yang cocok dengan Raleigh sendiri adalah seorang wanita asal Hong Kong bernama Mako Mori (Rinko Kikuchi). Sama seperti Raleigh, dia mempunyai masa lalu yang pahit menyangkut kedatangan Kaiju ke Bumi. Keduanya harus berdamai dengan kenangan mereka dan mulai bekerja sama menangani Gipsy Danger. Dan apa yang saya suka di dalam hubungan ini adalah child-like wonder yang del Toro bawakan. Sepertinya sudah tipikal sekali untuk Hollywood di dalam menciptakan hubungan intim antara pria dan wanita. Hubungan Mako dan Raleigh itu sendiri tidak didasari dengan nafsu pada pandangan pertama, melainkan rasa hormat dan identifikasi. Bisa dibilang sebagai "love subplot without love scenes" yang dulunya dianut Star Wars (1977). Tidak hanya kru Gipsy Danger saja, namun team lainnya juga menunjukkan hubungan kuat semacam itu. Seperti tim ayah-anak Herc (Max Martini) dan Chuck Hansen (Robert Kazinski), pilot Jaeger asal Australia yang mempunyai reputasi membunuh sepuluh kaiju.

Ada juga karakter pendukung yang membawa komedi ke dalam film; duo Newt Geiszler (Charlie Day) dan rekannya, Gottlieb (Burn Gorman). Kedua ilmuwan ini mempunyai pengetahuan dan kegemaran akan Kaiju. Bahkan lengan Newt sendiri dipenuhi tato Kaiju dari berbagai benua. Keduanya punya teori tersendiri dengan apa yang akan datang pada serangan kaiju berikutnya. Untuk meringankan tensi filmnya sendiri, duo ini mempunyai cara mereka sendiri di dalam menangani masalah sehingga kita hanya bisa terbahak melihatnya. Adapun Ron Perlman, aktor langganan del Toro, yang berperan sebagai pedagang organ kaiju di pasar gelap bernama Hannibal Chau. Chau adalah salah satu contoh bagaimana film ini bisa tetap asik ditonton. Caranya memandang dunia dengan rasa jijik yang telah menggunakan organ kaiju sebagai kuil untuk menyembah mereka sangatlah menarik. Semuanya tidak sekedar bisnis. Ada banyak kepercayaan yang mempercayai bahwa Kaiju adalah murka para dewa. Walau hanya sekilas, namun detil sekecil ini pun bisa saja penting untuk sekuel yang pastinya akan dikembangkan.

Untuk gambaran filmnya sendiri, palet warnanya sangat memanjakan. Dibekali dengan kamera Red Epic, pilihan saturasi warna yang tinggi dan pilihan angle nya Guillermo Navarro membuat para Jaeger terlihat begitu raksasa dalam skala sebesar itu, berikut juga dengan adegan pertempuran yang terasa sangat indah dan romantis dengan warna beragam dari gemerlapnya citylight Hong Kong.

Di dalam film musim panas, jelas jumlah kehancuran dalam frame menjadi salah satu faktor apresiasi. John Knoll yang memimpin tim ILM patut diacungi jempol. Ada atmosfir yang membuat penonton menikmati perkelahian Jaeger vs Kaiju. Mungkin karena tiap kaiju yang muncul sudah didesain khusus untuk tiap key turning point yang sudah sepatutnya harus semakin naik menuju klimaks. Semakin ke atas, desainnya juga harus semakin berbahaya. Tiap Jaeger dan Kaiju juga mempunyai cara unik dan berbeda di dalam memberikan serangan mereka. Ini juga menjadi nilai plus dalam kreatifitas. Dan tidak hanya konsep robot dan monsternya saja yang begitu variatif, tapi badai hujan dan tekstur ombaknya juga mempunyai karakter tersendiri, membuat tiap sekuens yang berisikan badai terlihat seperti menonton sci-fi opera yang epik. Jika visual saja masih kurang, kombinasi dengan musik asahan Ramin Djawadi bisa menjamin filmnya menjadi makin keren karna sempat terdengar sekilas kombinasi antara corak gaya musik Akira Ifukube dan John Carpenter dalam komposisinya. Suatu kasus yang jarang untuk musik film modern.

Menonton Pacific Rim itu seperti kembali mengenang cinta pertama saya dengan Star Wars, berikut juga dengan masa-masa saya sebagai otaku. Bukan karena visual effect ataupun departemen produksi megah yang mampu menggugah hati, namun atmosfer dan interaksi karakter yang ada. Jika dibandingkan dengan film-film musim panas tahun ini (Iron Man 3, Man of Steel, The Lone Ranger, World War Z), hanya Pacific Rim yang memberikan kompleksitas dari tiap karakter utama secara natural sekaligus tidak lupa caranya bersenang-senang ala film musim panas. Pahlawan di film ini mempunyai isu dan dipenuhi rasa takut. Tindakan heroik tidak lebih dari pilihan yang penuh konsekuensi. Para pilot Jaeger itu mendedikasikan kemanusiaan sebagai ganti nyawa mereka. Mereka menghadapi kematian setiap kali ada panggilan misi. Akan sangat gampang sekali untuk Pacific Rim berbelok ke gaya film yang temanya diberat-beratkan. Tapi Del Toro tahu target penontonnya itu bukan hanya untuk khalayak dewasa, namun untuk anak-anak juga. Dia pun tidak mengikuti tren film summer yang digelap-gelapkan dan memilih untuk bermain-main dengan robotnya.

Banyak yang menuduh Del Toro sebagai penjiplak banyak elemen dari Neon Genesis Evangelion. Dungu sekali. Justru sudah banyak anime mecha sebelum Evangelion yang menjadi penghias masa kanak-kanak sutradara penggila horror ini. Pacific Rim bagi Del Toro sama seperti Kill Bill bagi Tarantino; Dia membuat film ini sebagai karya fetish dan juga untuk memamerkan seberapa epik masa kecil dan remajanya. Sebuah homage untuk sekumpulan anime mecha ikonik, film-film kaiju semasa produksi Toho ataupun Kadokawa, juga kepada konsep monster rekaan Ray Harryhausen, Lovecraft dan Ishori Honda. Dan di lembah Hollywood yang penuh kerakusan itu, harusnya seseorang seperti Del Toro dan pesona filmnya yang diberi apresiasi lebih, bukannya dijadikan kambing hitam oleh pemburu profit. Memang, Pacific Rim bukan karya terbaik Guillermo Del Toro. Tapi jelasnya merupakan film summer blockbuster terbaik tahun ini. SO far.

Artikel Terkait