The Conjuring: Ngeri-Ngeri Sedap

by Chewbacca

The Conjuring: Ngeri-Ngeri Sedap
EDITOR'S RATING    

Genre horor klasik yang membuat Anda tegang selama menonton, tapi apa cuma itu?

 
Bayangkan sebuah adegan dimana ada dua karakter sedang berbincang, dengan meja memisahkan mereka. Andaikan saja ada sebuah bom di bawah meja tersebut. Sesaat tidak ada yang terjadi, dan kemudian "Boom!". Datanglah ledakan. Semuanya terkejut, namun adegan itu terlihat biasa saja tanpa konsekuensi yang terlihat unik. Sekarang tambahkan  suspense di dalam situasi tersebut. Bom sudah ditaruh di bawah meja dan penonton mengetahuinya. Mungkin mereka melihat seorang anarkis yang menaruhnya. Penonton tahu bomnya akan meledak tepat tengah malam dan sebuah jam didekor untuk memberitahukan info mengenai waktu yang tinggal tersisa lima belas menit lagi. Dengan kondisi ini, percakapan kedua karakter menjadi menarik karena penonton sudah terlibat didalam adegan. Mereka terus memperingatkan karakter-karakter tersebut untuk keluar dari sana.
 
Deskripsi di atas adalah sedikit penjabaran dari teori suspense menurut Sir Alfred Hitchcock. Beliau selalu bersikeras bahwa suatu teror harusnya ditahan dulu dari pengenalan cerita dan biarkan suspense itu keluar jika sudah waktunya. Banyak yang mencoba teori ini dan gagal. Namun James Wan yang dikenal melalui sleeper hit-nya, Insidious, belajar banyak mengenai apa yang dibutuhkan film horror selain kejutan murahan ataupun komedi yang tidak pada tempatnya. Bersama Chad Hayes dan Carey Hayes selaku penulis skenario, mereka menumpahkan segala penghormatan tersebut ke genre horror yang sudah buruk reputasinya melalui sebuah cerita haunted house yang sangat familiar namun tetap menyeramkan dan terus menakuti penonton secara konsisten tanpa ampun.
 
 
Didasari akan "kisah nyata" dari suatu kasus paling sulit yang pernah dihadapi sepasang suami istri ahli paranormal, Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine Warren (Vera Farmiga) adalah duo investigator akan hal-hal mistis di sekitar mereka. Kesuksesan mereka menyelesaikan banyak misi selalu dibahas di dalam banyak kelas kampus, dimana banyak pelajar tertarik dengan cerita-cerita gaib ini dari mulut mereka sendiri. Kesibukan mereka di samping menguliahi mahasiswa juga adalah mengurus putri mereka satu-satunya. Sampai akhirnya seseorang memanggil mereka bertugas di suatu rumah yang angker...
 
Ini hanya sebagian dari ceritanya. Filmnya sendiri dibuka dengan prologue yang kalau dilihat tidak begitu berarti apa-apa dengan akar ceritanya. Namun James Wan hanya mencoba pamer bahwa dia memegang kontrol dalam atmosfir dan ketegangan di dalam skenario yang berlaku. Kisah pun berfokus ke Perron family di tahun 1971. Roger (Ron Livingston) dan Carolyn (Lili Taylor) beserta puteri-puteri asuhan mereka baru saja pindah ke sebuah rumah angker di dalam pedesaan terpencil. Interiornya terkesan usang dan tua. Pintu dan lantai kayunya mengeluarkan bunyi berderit, pintu masuk menuju gudang bawah tanah pun ditutup dengan sederet kayu. Isinya juga berisikan sarang labah-labah dan berbagai barang yang ditinggal. Salah satunya adalah kotak musik dengan cerminnya yang berputar menghipnotis. Salah satu dari anak pasangan itu menemukannya dan mulai berteman dengan seseorang yang tak terlihat jika musiknya dimainkan.
 
 
Segala hal tersebut dan masih banyak detil lagi baru saja permulaan dari first act filmnya. Dan walau kadang kita bisa melihat kemana semua hal ini akan berakhir, sangat menyulitkan untuk fokus betapa segala macam detil di rumah itu beserta sejarahnya saling berhubungan dan akan menyatu ke dalam fase yang disebut climax. Dan apa yang sangat bijak adalah final act-nya yang dengan sukses dibawakan Wan melalui elemen-elemen horror seperti gelap gulita, suara ganjil, sosok tak jelas, antisipasi, bayangan aneh, dan sebagainya. Semua itu disatukan untuk membawa kita ke tingkat yang perlahan dibangun lebih intens.
 
Ada juga permainan petak umpet unik yang dibawakan anak-anak tersebut untuk menghadirkan sensasi menegangkan. Salah satu karakter dibawa ke dalam ruangan angker dengan menggunakan motif kesasar. Ini jenius dan tidak dipaksa. Tensinya naik dan semakin naik, dibantu dengan kameranya yang bergerak dengan tujuan memberikan efek yang tidak nyaman. Terutama di dalam satu shot favorit saya, dimana kameranya rotating dengan uniknya, ketika salah satu anak yang penasaran melihat ke bawah ranjangnya. Dengan perlahan dan bijak, adegan semacam itu dibangun dengan hati-hati dan tidak pernah mencapai momen crescendo yang ditunggu sampai waktunya tiba. Komposisi musik Joseph Bishara malahan membuat kita tetap tidak nyaman walau beberapa adegan mencoba menjamin penonton bahwa tidak ada teror apapun yang akan terjadi. Kehadiran karakter Wilson dan Farmiga juga menjadi semacam penenang situasi untuk keluarga Perron dan juga kepada penonton yang sudah ingin keluar dari ruangan. Segala macam barang terkutuk di rumah itu mereka jelaskan dengan pemikiran rasional, sehingga kita tahu bahwa setan hanya suka bermain-main dengan kemampuan gaib mereka dan kita masih bisa melawan kekuatan semacam itu.
 
 
Kita tahu pasti bahwa kehadiran setan dan makhluk gaib takkan terabaikan di film ini. Tapi Wan menunggu waktu yang tepat sampai waktunya diperlukan untuk menghadirkan rasa ngeri secukupnya agar plot kembali bergerak. Dan begitu semuanya dimulai, Wan mendapat respek kita karena sukses membuat penontonnya tidak nyaman bukan karena seseorang melompat dari balik lemari dan berteriak "Boo!", namun melalui hal-hal sepele seperti seprai melayang, deritan pintu, boneka menyeramkan, ataupun cermin. Segala macam formula cliche di dalam buku horror 101 kembali dibuat segar oleh gaya horror klasik yang akan mengingatkan kita dengan film-film seperti The Birds, The Exorcist, Poltergeist, ataupun Amityville Horror.
 
Berbagai referensi horror classic 70an di atas bisa kita temukan di film ini. Dan The Conjuring merelakan dirinya dirasuki dengan gagasan-gagasan cliche horror, asal pembawaannya diberikan ke tangan yang tepat. Seseorang yang mengerti kapan harusnya meledakkan bom di bawah meja itu. Dan James Wan pun mengerti tanggung jawab ini melalui pemberian implementasi aturan dasar dari genrenya ke film ini: Jangan memberikan ketegangan terlalu awal, bangunlah tensinya, dan perlahan segala keping puzzle akan bersatu dan melepaskan semua kegilaan yang ada. Suatu selebrasi untuk seseorang yang merindukan horror modern yang mengiyakan saja bahwa old school horror itu tiada duanya. Bahkan saya berani menyebutnya sebagai penerus The Exorcist milik William Friedkin ataupun Poltergeist-nya Tobe Hooper. Dan setelah diteror terus menerus tanpa ampun, anda pun akan tersenyum lebar penuh kepuasan setelah diberikan suguhan yang sudah jarang saat ini.
 
Untuk menjelaskan secara singkat betapa seramnya film ini, The Conjuring mendapatkan rating R untuk "sequences of disturbing violence and terror". Sementara itu, film intens sejenis "The Ring", "The Others", ataupun "The Last Exorcism" saja hanya dikenai PG-13 rated. Yes, it is that scary. Pihak MPAA pun setuju.

Artikel Terkait