Percy Jackson: Sea of Monsters: Lebih Daripada Prekuelnya, tapi Belum Memuaskan

by dr. kawe

Percy Jackson: Sea of Monsters: Lebih Daripada Prekuelnya, tapi Belum Memuaskan
EDITOR'S RATING    

Putra Poseidon kembali lagi dalam petualangan terbarunya. Kali ini, ia berusaha menggagalkan kebangkitan sang kakek.

Percy Jackson: Sea of Monster ini mungkin adalah salah satu proyek sekuel yang pengerjaannya adem ayem saja. Bahkan, tidak banyak berita ataupun materi promosi yang dikeluarkan oleh pihak studio sehingga untuk mereka yang bukan penggemar Percy Jackson akan kaget ketika tahu bahwa ternyata ini dibuat sekuelnya.

Half Blood Kamp diserang. Dan, penyerangnya ternyata dikenal Percy (Logan Lerman) karena ia adalah Luke (Jack Abel), anak Hermes yang mencuri petir milik Zeus di Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief. Serangan tersebut sendiri memporakpondakan kemah dan menghancurkan barrier yang dibangun dari pohon Thalia. Untuk menyembuhkan barrier yang diketahui diracun tersebut, Percy, Annabeth (Alexandra Daddario), dan Grover (Brandon T. Jackson) harus berpetualang ke Sea of Monsters untuk menemukan obat ampuh, yaitu Golden Fleece yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Sayang, para petinggi kemah malah memutuskan bahwa Clarisse La Rue (Leven Rambin), putri Ares, yang akan melakukan misi tersebut.

Tidak puas dengan keputusan tersebut, Percy dan kedua temannya memutuskan melakukan perjalanan sendiri bersama dengan Tyson (Douglas Smith), seorang cyclops yang ternyata merupakan anak dari Poseidon atau dengan kata lain saudara Percy. Namun, di tengah perjalanan, Grover diculik Luke. Keberadaan Grover sendiri sangat penting karena satyr merupakan satu-satunya makhluk yang dapat memandu para manusia setengah dewa ini untuk mendapatkan Golden Fleece. Lalu, untuk apa Luke ingin menemukan Golden Fleece? Ternyata, ia bermaksud membangkitkan Kronos kembali agar dapat menghancurkan bumi dan seluruh manusia setengah dewa yang ada.

Secara garis besar, film ini cukup menarik untuk disimak. Ringan dan tidak perlu berpikir terlalu dalam hingga mengerutkan kening untuk mencerna kisahnya. Humornya sendiri bisa dikatakan lebih banyak daripada film pertama dan yang pasti mata kalian akan dimanjakan dengan penampilan Logan Lerman dan Alexandra Daddario yang sudah lebih dewasa dan menyegarkan mata. Adegan aksinya cukup berlimpah meskipun masih ada sedikit kekurangan terutama dari segi penggunaan efeknya yang masih terasa kasar.

Plotnya sendiri mungkin akan mengingatkan kita pada Wrath of the Titans, di mana Kronos juga dibangkitkan di sana. Namun sayangnya, Kronos di Percy Jackson tidak semenakutkan Kronos pada film keluaran 2012 tersebut. Pasalnya, ukuran ayah Zeus, Hades, dan Poseidon di sini tergolong petit alias mungil. Hal ini bisa dibilang agak sedikit menyalahi aturan kisah mitologi karena Kronos dideskripsikan luar biasa besar hingga dapat menduduki gunung dan melihat seluruh Bumi. Selain itu, meski disesuaikan dengan sumber adaptasinya, tapi rasanya lebih tepat bila film ini menggunakan judul Percy Jackson: The Quest of Golden Fleece karena bisa dikatakan Sea of Monsters sedikit sekali disinggung di sini bahkan hanya menjadi latar secara singkat.

Overall, film ini dapat menyenangkan para pembaca Percy Jackson dan Logan Lerman, tapi tidak dapat dikatakan memuaskan. Akankah ada film ketiganya? Kita tunggu saja, Jelata.  


 

Artikel Terkait