Malavita aka. The Family: Perpaduan Aneh Komedi dan Drama Mafia

by Chewbacca

Malavita aka. The Family: Perpaduan Aneh Komedi dan Drama Mafia
EDITOR'S RATING    

Besson, De Niro, Scorsese. Apakah perpaduan ketiga nama besar tersebut dapat menghasilkan sebuah tontonan yang memuaskan? Well, menurut editor kami, film ini adalah perpaduan aneh antara comedy dan mafia drama. And that's not a good thing.

Ada satu comic beat yang kelihatannya bisa membuat seorang Luc Besson berpikir, bahwa kisah mob comedy berjudul Malavita aka. The Family ini layak dibuat filmnya. Setelah mengkhianati keluarga Mafia-nya sendiri di Brooklyn dan melarikan diri ke sebuah desa di Normandia, seorang mantan Mafioso bernama Giovanni Manzoni (Robert De Niro) diundang ke sebuah penayangan film mingguan yang dilaksanakan oleh grup pecinta film di desa itu. Semula, mereka akan menonton Some Came Running, sebuah film rilisan tahun 1958 arahan Frank Sinatra/Dean Martin, tapi... quel dommago! Ironisnya, secara tidak sengaja terjadi kesalahan. Film yang dikirimkan bukanlah print film arahan Some Came Running, melainkan film arahan seorang auteur Hollywood legendaris, Martin Scorsese. Dan, sayangnya, filmnya bukanlah film Kundun maupun Hugo.

Film yang ditayangkan tersebut juga dibintangi De Niro sendiri dan semacam memberikan refleksitas kepada karakternya di film ini akan masa lalunya sebagai seorang mobster. Tentunya ini dimaksudkan sebagai inner joke yang untungnya berhasil menarik gelak tawa dari penonton yang pernah menonton film tesebut. Sayangnya, hanya satu inner joke itu yang berhasil dari banyak humor yang Besson coba berikan di film ini; yang sayangnya lagi, gagal mengenai targetnya.

Diadaptasi dari novel Tonino Benacquista dan diarahkan sendiri oleh maestro film action Perancis, Luc Besson, Robert De Niro kembali sebagai seorang mantan gangster yang kebetulan menjadi buronan dari keluarga mafia lainnya. Dia beserta keluarganya diungsikan FBI ke dalam pedalaman desa di Normandy. Ia beserta istri (Michelle Pfeiffer) dan kedua anaknya (Dianna Agron & John D'Leo) sulit untuk berbaur dengan lingkungan sekitar mereka. Setiap halangan sosial mereka balas dengan keagresifan. Pfeiffer meledakkan sebuah mini market setelah diperlakukan (cukup) kasar. Agron menghajar anak-anak remaja yang mencoba memperkosanya, dan D'Leo bertingkah seperti seorang mafia in the making. Maaf, tapi apa yang telah diperbuat negara Perancis sehingga mereka layak diperlakukan tidak senonoh seperti itu?

Sepertinya De Niro selalu menjawab "ya" untuk setiap proyek apapun yang ditawarkan kepadanya. Mungkin dia memang seorang workaholic, atau mungkin dia tidak tahu harus bermain ke arah mana. Buktinya terlihat dari kedunguan The Big Wedding ataupun Killing Season. Film ini boleh memajang nama Martin Scorsese (yang sudah berpuluh tahun menjadi jaminan kualitas film mobster) di film ini selaku produser ekeskutif. Namun tampaknya perpaduan nama De Niro, Scorsese dan Besson bukanlah formula yang bagus untuk film ini. Besson (yang juga menulis naskah Malavita), memang sangat berbakat dalam memberikan rangkaian adegan aksi yang keren. Namun ia seperti berusaha terlalu keras untuk menonjolkan sisi komedik film ini demi mendapatkan gelak tawa penonton. Selain itu, struktur cerita yang ia buat pun bisa dibilang tidak memiliki fokus. Keinginannya dalam memasukkan sub-plot justru menjadi senjata makan tuan, karena tidak dieksplor secara utuh. Sehingga sub-plot tersebut tidak jelas maknanya. Ada tapi tak terselesaikan, dan juga ada tapi tidak bisa menjadi pelengkap bagi main-plotnya. What a waste of great talents!

Masalah utama Malavita yang lain adalah detil-detil di dalam cerita yang tidak jelas mau diarahkan kemana. Besson merasa perlu memberikan kita banyak info mengenai karakter De Niro; bagaimana dia bisa diburu banyak mafia, apa yang telah dia lakukan sebelumnya, dan masih banyak lagi. Kita melihat dia senang mengetik sekumpulan memoir mengenai dirinya, yang bisa menjadi instrumen plot sempurna untuk menjelaskan banyak hal. Tapi kita hampir tidak diberitahukan sesuatu yang berarti. Terlalu banyak hal yang tidak jelas maksudnya, dan disampaikan dalam cara yang membuat Malavita menjadi cukup membosankan dan bisa membuat anda menguap.

Di sisi lain, kesempatan untuk menyajikan komedi yang melibatkan perbenturan dua kultur pun tidak diambil oleh Besson. Komedi tentang culture clash tentunya akan bekerja lebih baik jika adanya interaksi dengan penduduk asingnya. Namun, sekumpulan warga Normandia di film ini terkesan seperti figuran yang numpang lewat saja dan dengan gampangnya terhapus dari cerita akibat campur tangan mobster Amerika. Dan karena De Niro beserta keluarganya tidak begitu tertarik untuk mengenal lingkungan baru mereka, mereka terperangkap di dalam ruang yang sempit ini. Semua humor yang terbatas itu juga sangat repetitif dan jarang tepat sasaran. Seperti menembak dengan peluru kosong saja. Sangat mengecewakan melihat sineas sehebat Besson membuat film semacam ini. Malavita adalah perpaduan aneh antara comedy dan mafia drama, namun tidak ada satupun elemennya yang benar-benar memuaskan. Semuanya terkesan seperti sitcom Amerika yang dipaksa rilis ke layar lebar. And it's not a funny one, either. Barely.

Artikel Terkait