Banyak sekali orang yang menantikan sekuel dari Insidious ini, namun editor kami menganggapnya sebagai film yang berantakan dan anti-klimaks. Penasaran seperti apa? Baca reviewnya disini!

Akui saja, nama James Wan praktis menjadi semakin kuat di teritori film bergenre horor. Dengan Saw, Dead Silence, Insidious, dan yang terbaru kemarin The Conjuring, sineas kelahiran Kuching, Malaysia membuat kita semua mengkeret ketakutan di kursi bioskop. Dan mengingat penunjukannya menggantikan Justin Lin di mega franchise Fast and Furious 7 membuat nama James Wan semakin besar. Dan fakta bahwa Wan mengatakan bahwa dia ingin mencoba genre lain, cukup membuat para penikmat horor sangat menantikan sekuel dari Insidious ini : Insidious Chapter 2.
Melanjutkan kisah dari Insidious, Insidious Chapter 2 ini langsung menghantam kita sesaat setelah ending film pertamanya. Renai Lambert (Bryne) yang masih sangat trauma dengan kematian Elise (Shaye) pindah bersama suaminya Josh (Wilson) dan anak-anaknya : Dalton (Simpkins), Foster, dan Cali ke rumah mertuanya, Lorraine (Hersey) sementara polisi memeriksa kematian Elise. Namun ternyata, gangguan setan tidak berhenti sampai disana, karena justru mereka semakin mengganggu ketenangan, dan bahkan nyawa mereka semua. Lorraine bersama dengan sahabat Elise : Carl (Coulter), dan duet kocak Specs (Whannel) dan Tucker (Sampson) diburu waktu untuk menyibak misteri siapakah sesungguhnya sosok yang mengancam orang-orang yang disayanginya, sampai ia menemukan kebenaran yang sangat mengerikan.
Saya akui, dikarenakan masih 'trauma' dengan kengerian The Conjuring tempo hari, saya sangat mempersiapkan mental dalam menonton Insidious 2 ini. Harapan saya, setidaknya James Wan bisa mengulangi pengalaman saya dalam menjerit-jerit ketakutan bersama dengan penonton lain dan membuat saya ketakutan tidur di malam hari. Bukankah memang disana letak asyiknya genre horor? Sayangnya, harapan dan ekspektasi saya yang melambung tidak bisa dipuaskan oleh Wan kali ini.
Oke, kalau mau diibaratkan, Insidious 2 ini bagaikan hidangan yang dibuat hanya untuk menutupi rasa lapar belaka. Memenuhi perut dan membuat kenyang? Iya. Tapi tidak ada after tastenya. Hanya sekedar lewat saja.

Padahal di awal hingga ke pertengahan film, Wan sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuat penonton ketakutan. Memang justru kekuatan Wan ada pada kemampuannya menciptakan atmosfer seram itu sendiri. Bayangkan saja Wan dengan fetishnya dengan lemari pakaian, dan juga berbagai furnitur rumah tangga yang tidak terlihat menyeramkan malah terlihat begitu spooky dengan tangan dinginnya. Piano yang mengalunkan musik aneh nan menyeramkan, hingga ke kereta bayi yang berbunyi sendiri. Tambahkan itu dengan permainan cahaya dan shot-shot dari sinematografer John R. Leonetti, plus dimaksimalkan dengan skor mengerikan dari Joseph Bishara yang memang sangat “mengganggu” dan menakutkan. Namun sayangnya, tensi ketegangan dan keseramannya tidak bisa dipertahankan hingga ke akhir, terkesan anti klimaks dan melempem begitu saja.
Dari segi cerita juga, seolah terlalu banyak subplot yang ingin dijabarkan dan dimasukkan ke dalamnya. Padahal, kalau mau setia dengan koridor genre horor, tanpa harus menggabungkannya dengan thriller, Insidious 2 bisa tampil lebih menggigit, jauh dari kesan 'maksa' dan malah predictable. James Wan seolah kebingungan dengan gabungan keduanya, plus ditambah dengan sempilan komedi lewat karakter Specs – Tucker (mungkin terinspirasi dari Newt – Gotlieb dari Pacific Rim?) yang malah mengganggu, membuat Insidious 2 terlihat begitu berantakan dan less scary jika harus dibandingkan dengan Insidious atau malah The Conjuring baru-baru ini.

Tapi di sisi lain, dari segi konflik dan emosi yang ditampilkan, Insidious 2 ini memiliki kekuatannya tersendiri, terutama untuk kedua pemeran utama duet Wilson – Bryne. Bryne yang memerankan Renai berhasil menghidupkan sosok seorang istri yang di satu sisi begitu ketakutan dan percaya bahwa mimpi buruk yang keluarga mereka alami belum selesai. Ekspresi ketakutan sekaligus keinginannya untuk melindungi anak-anaknya terlihat begitu alami, membuat kita turut merasakan ketakutan yang ia alami. Di sisi lain kemudian ada aktor kesayangan Wan, Patrick Wilson yang mampu memerankan dualisme karakter Josh lewat perubahan mimik wajah hingga ke pandangan dan sorot matanya.
Jadi begitulah, buat kamu yang memang butuh film untuk seru-seruan bersama teman-teman, Insidious 2 ini bisa jadi pilihan yang tepat, tapi jangan mengharapkan film ini akan sama mengerikannya dengan The Conjuring. Kalau The Conjuring bisa diibaratkan sebagai bentuk tanda cinta James Wan pada selebrasi film horor, maka Insidious 2 bagaikan kejar setoran belaka. Jika memang ini adalah film horor terakhir yang dibuat Wan (kita gak tahu ke depannya ya), sayang sekali.